Memasuki awal Juni 2026, warga Kota Malang mulai merasakan embusan angin yang jauh lebih menusuk tulang dari biasanya. Fenomena tahunan yang dikenal dengan sebutan bediding alias suhu udara dingin ekstrem di musim kemarau kini resmi menyapa warga.
Menariknya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang memprediksi fenomena kali ini bakal terasa jauh lebih ekstrem dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Kepala BPBD Kota Malang, Prayitno mengungkapkan, hantaman suhu dingin yang lebih menggigit ini tidak lepas dari kombinasi musim kemarau dan pengaruh El Nino yang terjadi secara bersamaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan begitu, masyarakat akan merasakan kontras cuaca yang kentara: terik menyengat di siang hari, namun suhu bakal anjlok drastis saat malam hingga pagi buta.
"Mengapa suhu anjlok drastis, karena minimnya tutupan awan, panas bumi siang hari terlepas bebas ke angkasa saat malam, dan suhu permukaan menjadi anjlok," ujar Prayitno kepada wartawan, Selasa (2/6/2026).
Selain faktor hilangnya awan, Prayitno menjelaskan adanya peran besar dari angin muson timur yang bergerak dari Benua Australia.
Angin tersebut membawa massa udara yang berkarakteristik sangat kering dan dingin melintasi wilayah Indonesia, termasuk Malang Raya.
"Akibatnya, suhu udara pada dini hari hingga pagi hari menjadi lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya," jelas Prayitno.
Meskipun bediding merupakan siklus alami yang lazim terjadi setiap tahun, BPBD meminta warga tidak meremehkan intensitas tahun ini.
Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki riwayat penyakit pernapasan dan asma diminta untuk ekstra waspada dalam menjaga daya tahan tubuh.
Penggunaan pakaian hangat atau jaket tebal saat beraktivitas di luar ruangan pada malam dan pagi hari sangat disarankan.
Tak hanya mengancam kesehatan, ancaman nyata juga mengintai sektor pertanian dan peternakan, terutama di wilayah dataran tinggi Malang yang berdekatan dengan pegunungan.
Suhu yang mendekati titik beku berpotensi melahirkan fenomena embun es atau yang dikenal sebagai embun upas.
"Ancaman embun upas di dataran tinggi, suhu bisa mencapai 0 derajat, yang mana bisa memicu embun es pada daun. Kondisi itu bisa mengakibatkan tanaman membusuk dan mati kering atau gagal panen," kata Prayitno.
Oleh karena itu, para petani dan peternak diimbau untuk segera melakukan langkah mitigasi sejak dini agar terhindar dari kerugian besar akibat gagal panen.
Kendati demikian, Prayitno meminta masyarakat tetap tenang dan tidak panik berlebihan dalam menghadapi fenomena musiman ini. Kuncinya adalah adaptasi dan selalu memperbarui informasi cuaca.
"Kami berharap masyarakat terus memantau informasi cuaca dan melakukan langkah-langkah pencegahan sesuai kondisi di wilayah masing-masing," pungkasnya.
(irb/hil)
