Udara di Malang Raya sejak beberapa hari terakhir terasa jauh lebih dingin. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Karangploso Malang memprakirakan suhu dingin ini akan bertahan hingga beberapa bulan ke depan dan puncaknya terjadi pada bulan Juli 2026.
Forecaster on Duty BMKG Karangploso, Retno Wulandari mengungkapkan, fenomena suhu dingin di musim kemarau atau yang biasa disebut masyarakat Jawa sebagai bediding ini baru saja dimulai. Kondisi ini diperkirakan terjadi hingga bulan Juli-Agustus 2026 mendatang.
"Di Malang Raya, bediding diprakirakan hingga Juli-Agustus dan berangsur suhu minimum akan meningkat pada bulan selanjutnya," kata Retno kepada detikJatim, Minggu (31/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain kondisi dingin yang masih akan bertahan lama, Retno menyebut bahwa puncak terdingin suhu di Malang diprediksi akan terjadi pada bulan Juli 2026. "Untuk puncak bediding umumnya di bulan Juli," lanjutnya.
Meski belum memasuki bulan puncak, penurunan suhu di Malang Raya sudah mulai terasa sangat kontras, terutama pada malam hingga pagi hari. Berdasarkan alat ukur di kantor BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur di Karangploso, suhu udara turun sampai ke angka belasan derajat.
"Beberapa hari ini terpantau suhu minimum sudah mulai turun. Di kantor BMKG Karangploso pagi tadi, suhu minimum tercatat 18,4 derajat Celsius," ungkap Retno.
Retno menjelaskan, fenomena tahunan ini terjadi karena minimnya tutupan awan di langit saat musim kemarau, sehingga panas bumi langsung lepas ke atmosfer pada malam hari tanpa ada 'selimut' yang menahannya.
Selain itu, adanya aliran Monsun Australia yang membawa massa udara kering dan dingin turut andil menurunkan suhu di Indonesia, termasuk Malang Raya.
Menghadapi sisa bulan-bulan yang dingin ini, BMKG mengimbau masyarakat untuk menjaga ketahanan tubuh terhadap perubahan suhu yang ekstrem antara siang dan malam. Warga diminta menggunakan pakaian hangat serta menjaga kondisi tubuh agar tidak mudah terserang penyakit seperti flu dan batuk.
(auh/hil)
