Tradisi Warga Siring Tabur Bunga di Tanggul Lumpur Lapindo Jelang Nikah

20 Tahun Lumpur Lapindo

Tradisi Warga Siring Tabur Bunga di Tanggul Lumpur Lapindo Jelang Nikah

Suparno - detikJatim
Minggu, 31 Mei 2026 14:40 WIB
Ferry (23) saat menaburkan bunga dari tanggul Lumpur Lapindo
Ferry (23) saat menaburkan bunga dari tanggul Lumpur Lapindo (Foto: Suparno/detikJatim)
Sidoarjo -

Genap 20 tahun semburan lumpur Lapindo sejak pertama kali terjadi pada 29 Mei 2006. Dampak bencana tersebut masih menyisakan kenangan mendalam bagi warga yang kehilangan rumah, harta benda, hingga kampung halaman akibat terendam lumpur.

Sebanyak 16 desa di tiga kecamatan, yakni Porong, Jabon, dan Tanggulangin terdampak oleh semburan lumpur. Ribuan warga pun terpaksa meninggalkan desa mereka untuk memulai kehidupan baru di tempat lain.

Di tengah peringatan 20 tahun semburan lumpur Lapindo, seorang warga Kelurahan Siring RT 11 RW 2, Ferry (23), terlihat melakukan tabur bunga di kolam penampungan lumpur dan air di titik 21, Kelurahan Siring, Porong, Minggu (31/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ferry mengatakan, kegiatan tersebut dilakukan bertepatan dengan 20 tahun tragedi lumpur Lapindo. Ia mengaku datang untuk mendoakan anggota keluarganya yang telah meninggal dan makamnya kini berada di area yang tenggelam akibat luapan lumpur.

"Saya tabur bunga sekaligus mendoakan kakek, nenek, bude dan pakde saya yang sudah meninggal. Dulu makamnya berada di pemakaman umum Kelurahan Siring, tetapi belum sempat dipindahkan karena keburu tenggelam oleh lumpur," kata Ferry kepada detikJatim.

ADVERTISEMENT

Selain mendoakan keluarga yang telah wafat, Ferry juga memohon doa restu menjelang pernikahannya yang direncanakan berlangsung pada Juni mendatang.

"Dalam waktu dekat saya akan menikah. Jadi saya datang ke sini untuk meminta doa restu kepada leluhur yang sudah meninggal agar acara pernikahan nanti berjalan lancar dan tidak ada halangan," ujarnya.

Menurut Ferry, tradisi meminta doa restu kepada orang tua dan leluhur yang telah meninggal masih dijaga keluarganya, terutama ketika akan melangsungkan hajatan besar seperti pernikahan.

"Ini sudah menjadi tradisi keluarga. Kalau mau menikah biasanya disarankan berdoa kepada Allah SWT dan mendoakan leluhur yang sudah meninggal. Harapannya diberi kelancaran dan keberkahan," tambahnya.

Karena Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kelurahan Siring telah tenggelam akibat semburan lumpur Lapindo, Ferry memilih melakukan tabur bunga di tanggul penahan lumpur yang kini berdiri di atas kawasan bekas permukiman dan pemakaman warga.

Bagi Ferry, lokasi tersebut menjadi satu-satunya tempat untuk mengenang sekaligus mendoakan anggota keluarganya yang telah tiada. Momen itu juga menjadi pengingat bahwa dua dekade setelah bencana terjadi, luka dan kenangan warga korban lumpur Lapindo masih belum sepenuhnya hilang.



(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads