20 Tahun Lumpur Lapindo

Pemandu Wisata Kawasan Lumpur Lapindo Menjerit, Penghasilan Menurun Drastis

Suparno - detikJatim
Kamis, 28 Mei 2026 20:45 WIB
Penurunan penghasilan warga terdampak lumpur lapindo yang bekerja sebagai pemandu wisata (Foto: Suparno/ detikjatim)
Sidoarjo -

Dua dekade sejak semburan lumpur Lapindo muncul pada 29 Mei 2006, kehidupan sebagian warga terdampak di Kecamatan Porong, Tanggulangin dan Jabon berubah total. Tidak hanya kehilangan rumah dan harta benda, banyak warga juga kehilangan mata pencaharian akibat kawasan permukiman dan industri tenggelam lumpur.

Sebagian warga korban kemudian bertahan hidup dengan menjadi pemandu wisata di kawasan Lumpur Lapindo. Namun setelah 20 tahun berlalu, penghasilan mereka kini justru terus menurun drastis. Salah satu pemandu wisata, Ula Muanisa (42), mengaku kondisi wisata Lumpur Lapindo saat ini jauh berbeda dibanding masa awal semburan. Menurutnya, jumlah pengunjung semakin sedikit dan pendapatan warga yang menggantungkan hidup dari wisata lumpur ikut menurun tajam.

"Kalau dulu ramai sekali. Penghasilan bisa Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu sehari. Sekarang rata-rata cuma di bawah Rp 50 ribu, bahkan sering tidak dapat sama sekali," kata Ula kepada detikJatim, Selasa (26/5/2026).

Ula mengatakan kunjungan wisatawan saat ini tidak menentu. Dalam satu minggu terkadang hanya satu kali mendapat tamu untuk dipandu berkeliling lokasi semburan lumpur.

"Bahkan sekarang banyak pengunjung turun sendiri secara gratis, jadi kami tidak dapat penghasilan," ujarnya.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Ula mengaku terpaksa mencari pekerjaan tambahan di luar lokasi wisata lumpur.

"Kadang harus cari tambahan jadi tukang ojek supaya kebutuhan rumah tangga tetap jalan," tambahnya.

Hal senada disampaikan Mustofa, sesama pemandu wisata di kawasan Lumpur Lapindo. Ia menyebut penurunan penghasilan mulai terasa sejak pandemi COVID-19 dan hingga kini belum kembali normal.

"Memang benar penghasilan teman-teman pemandu wisata dan tukang ojek turun drastis. Tidak seperti masa awal lumpur dulu yang sangat ramai," kata Mustofa.

Menurutnya, pada hari biasa pendapatan warga hanya berkisar Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu per hari. Bahkan tidak jarang mereka pulang tanpa membawa uang sama sekali.

"Hari biasa sering tidak dapat apa-apa. Kalau Sabtu atau hari libur kadang agak ramai, tapi tetap tidak menentu," jelasnya.

Mustofa mengatakan meski sesekali ada rombongan tamu dari Surabaya, belum tentu seluruh pengunjung menggunakan jasa pemandu wisata atau ojek warga sekitar.

"Kalau ada rombongan memang pengunjung bertambah, tapi belum tentu mereka mau naik ojek atau pakai jasa pemandu," ujarnya.

Sementara itu, Sastro, warga Desa Jatirejo RT 10 RW 1, berharap pemerintah daerah ikut membantu mempromosikan wisata Lumpur Lapindo agar ekonomi warga sekitar kembali bergerak.

"Dulu banyak warga korban lumpur yang tidak punya pekerjaan lalu beralih jadi pemandu wisata untuk bertahan hidup. Tapi sekarang penghasilannya sudah sulit diandalkan," kata Sastro.

Ia berharap wisata Lumpur Lapindo bisa kembali dikenal luas sehingga jumlah pengunjung meningkat dan pendapatan warga kembali membaik.

"Kami berharap pemerintah daerah ikut mempromosikan pariwisata di Sidoarjo, khususnya wisata Lumpur Lapindo. Supaya wisatawan ramai lagi dan ekonomi warga bisa bangkit kembali," tandasnya.



Simak Video "Video DPR Curiga Masalah Lumpur Lapindo Tak Beres-beres tapi Anggaran Gede"

(ihc/dpe)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork