Hikmah Tidak Makan Sebelum Sholat Idul Adha

Hikmah Tidak Makan Sebelum Sholat Idul Adha

Allysa Salsabillah Dwi Gayatri - detikJatim
Selasa, 26 Mei 2026 08:30 WIB
Ilustrasi sholat Idul Adha.
Ilustrasi sholat Idul Adha. Foto: Gemini AI
Surabaya -

Umat Islam akan menyambut hari raya Idul Adha 1447 Hijriah sebentar lagi. Perayaan tersebut identik dengan ibadah kurban dan pelaksanaan sholat Idul Adha yang dilakukan pada pagi hari. Sebelum melaksanakan sholat tersebut terdapat beberapa amalan yang bisa dilakukan.

Salah satu amalan yang kerap dipertanyakan adalah terkait makan sebelum sholat Idul Adha. Hal ini karena terdapat perbedaan anjuran antara Idul Fitri dan Idul Adha dalam hal ini. Lantas, bolehkah makan sebelum sholat Idul Adha?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hukum Makan Sebelum Sholat Idul Adha

Melansir laman NU Online, pada hari raya Idul Adha, umat Islam dianjurkan untuk makan setelah menunaikan sholat Id. Hal ini berbeda dengan Idul Fitri yang menganjurkan makan terlebih dahulu sebelum berangkat sholat. Anjuran ini merujuk hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad dari sahabat Buraidah ra sebagai berikut.

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لا يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ ، وَلا يَأْكُلُ يَوْمَ الأَضْحَى حَتَّى يَرْجِعَ ، فَيَأْكُلَ مِنْ أُضْحِيَّتِهِ

ADVERTISEMENT

Artinya: Rasulullah saw tidak berangkat untuk sholat Idul Fitri sebelum makan dan tidak makan pada hari Idul Adha kecuali setelah pulang (dari shalat), lalu beliau makan dari hewan kurbannya.

Rasulullah SAW sendiri memberikan contoh untuk tidak makan hingga setelah sholat Idul Adha. Dengan demikian, sebagai umat Islam hendaknya lebih baik untuk mencontoh perbuatan tersebut supaya mendapat keberkahan dan hikmah.

Hikmah Tidak Makan dan Minum Sebelum Sholat Idul Adha

Adapun hikmah di balik kebiasaan Rasulullah SAW yang tidak makan dan minum sebelum sholat Idul Adha memiliki beberapa makna. Pertama, hal ini berkaitan dengan kebiasaan beliau yang menahan diri seperti berpuasa sebelum sholat Id, karena nantinya akan menyantap daging hewan kurban setelah pelaksanaan sholat.

Kedua, Rasulullah SAW juga memberikan kesempatan yang lebih luas bagi umat Islam yang berkurban untuk menyembelih hewan kurbannya terlebih dahulu, kemudian menikmatinya bersama.

Selain itu, menahan diri dari makan dan minum sebelum sholat Idul Adha juga menjadi bentuk pembelajaran, khususnya bagi yang belum terbiasa berpuasa sunah untuk melatih diri menahan lapar meskipun hanya dalam waktu singkat. Ibnu Qudamah rahimahullah berkata:

وَلِأَنَّ يَوْمَ الْفِطْرِ يَوْمٌ حَرُمَ فِيهِ الصِّيَامُ عَقِيبَ وُجُوبِهِ ، فَاسْتُحِبَّ تَعْجِيلُ الْفِطْرِ لِإِظْهَارِ الْمُبَادَرَةِ إلَى طَاعَةِ اللَّهِ تَعَالَى ، وَامْتِثَالِ أَمْرِهِ فِي الْفِطْرِ عَلَى خِلَافِ الْعَادَةِ ، وَالْأَضْحَى بِخِلَافِهِ .وَلِأَنَّ فِي الْأَضْحَى شُرِعَ الْأُضْحِيَّةُ وَالْأَكْلُ مِنْهَا ، فَاسْتُحِبَّ أَنْ يَكُونَ فِطْرُهُ عَلَى شَيْءٍ مِنْهَا .

Artinya: Idul Fitri adalah hari diharamkannya berpuasa setelah sebulan penuh diwajibkan. Sehingga dianjurkan untuk bersegera berbuka agar semangat melakukan ketaatan kepada Allah Ta'ala dan perintah makan pada Idul Fitri (sebelum sholat 'ied) adalah untuk membedakan kebiasaannya berpuasa. Sedangkan untuk hari raya Idul Adha berbeda. Karena pada hari Idul Adha disyariatkan memakan dari hasil kurban. Jadinya, kita dianjurkan tidak makan sebelum sholat 'ied dan nantinya menyantap hasil sembelihan tersebut. (Al Mughni, 2: 228)

4 Amalan Sunah pada Hari Raya Idul Adha

Idul Adha bukan hanya tentang pelaksanaan salat Id dan penyembelihan hewan kurban, tetapi momen memperbanyak amalan sunah yang dianjurkan dalam Islam. Sejumlah amalan ini dilakukan sebagai bentuk meneladani sunah Rasulullah SAW, sekaligus menyempurnakan ibadah di hari raya.

1. Mengumandangkan Takbir

Salah satu amalan yang dapat dilakukan adalah mengumandangkan takbir di masjid, musala, atau rumah-rumah pada malam hari raya Idul Adha, sampai hari terakhir tanggal 13 Dzulhijjah yang dikenal sebagai hari tasyrik.

Pada malam itu, umat Islam dianjurkan untuk memuliakan, mengagungkan, dan menghidupkan suasana takbir. Anjuran ini sebagaimana yang tertulis dalam kitab Raudlatut Thalibin sebagai berikut.

فَيُسْتَحَبُّ التَّكْبِيرُ الْمُرْسَلُ بِغُرُوبِ الشَّمْسِ فِي الْعِيدَيْنِ جَمِيعًا، وَيُسْتَحَبُّ اسْتِحْبَابًا مُتَأَكَّدًا، إِحْيَاءُ لَيْلَتَيِ الْعِيدِ بِالْعِبَادَةِ

Artinya: Disunahkan mengumandangkan takbir pada malam hari raya mulai terbenamnya matahari, dan sangat disunahkan juga menghidupkan malam hari raya tersebut dengan beribadah.

Adapun sebagian ulama ahli fiqih yang berpendapat mengenai ibadah di malam hari raya, yakni dengan mengerjakan sholat Magrib dan Isya berjemaah, hingga melaksanakan sholat Subuh pun secara berjemaah.

2. Mandi Sebelum Shalat Id

Selanjutnya, umat Islam dianjurkan untuk mandi sebelum sholat Id yang dapat dilakukan sejak tengah malam sebelum waktu Subuh. Namun, yang paling utama dilakukan setelah Subuh. Tujuannya membersihkan dan menyegarkan tubuh. Anjuran ini sebagaimana dijelaskan dalam hadis berikut.

يُسَنُّ الْغُسْلُ لِلْعِيدَيْنِ، وَيَجُوزُ بَعْدَ الْفَجْرِ قَطْعًا، وَكَذَا قَبْلَهُ، ويختص بالنصف الثاني من الليل

Artinya: Disunahkan mandi untuk sholat Id, untuk waktunya boleh setelah masuk waktu subuh atau sebelum subuh, atau pertengahan malam.

Anjuran mandi sunah ini diperuntukkan bagi seluruh umat Islam laki-laki maupun perempuan. Selain itu, anjuran ini juga berlaku bagi mereka yang akan melaksanakan sholat Id, serta bagi perempuan yang sedang dalam keadaan uzur syar'i sehingga tidak dapat melaksanakan sholat Id.

3. Memakai Wewangian

Umat Islam juga disarankan untuk memakai wewangian, memotong rambut, memotong kuku, hingga menghilangkan bau tidak sedap untuk mendapat keutamaan hari raya. Pada dasarnya, kegiatan tersebut dapat dilakukan kapan saja, tidak perlu menunggu hari raya.

Misalnya, dapat dilakukan seminggu sekali ketika menjelang pelaksanaan sholat Jumat. Adapun penjelasan anjuran ini yang tercantum dalam kitab "Al-Majmu' Syarhul Muhaddzab" sebagai berikut.

والسنة أن يتنظف بحلق الشعر وتقليم الظفر وقطع الرائحة لانه يوم عيد فسن فيه ما ذكرناه كيوم الجمعة والسنة أن يتطيب

Artinya: Disunahkan pada hari raya Id membersihkan anggota badan dengan memotong rambut, memotong kuku, menghilangkan bau badan yang tidak enak, karena amalan tersebut sebagaimana dilaksanakan pada hari Jumat, dan disunahkan juga memakai wangi-wangian.

4. Menggunakan Pakaian Terbaik

Terakhir, umat Islam dianjurkan menggunakan pakaian yang baik, bersih, dan suci. Apabila memungkinkan, dianjurkan memakai pakaian putih dan memakai sorban, seperti yang dijelaskan beberapa ulama.

Anjuran tersebut khusus bagi kaum laki-laki yang akan melaksanakan sholat Id atau yang bertugas menjaga keamanan. Sementara untuk perempuan dianjurkan untuk memakai pakaian sederhana atau pakaian sehari-hari yang digunakan.

Adapun berdandan, berpakaian, dan memakai wewangian secara berlebihan dianggap makruh. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam kitab Raudlatut Thalibin sebagai berikut.

وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يَلْبَسَ أَحْسَنَ مَا يَجِدُهُ مِنَ الثِّيَابِ، وَأَفْضَلُهَا الْبِيضُ، وَيَتَعَمَّمُ. فَإِنْ لَمْ يَجِدْ إِلَّا ثَوْبًا، اسْتُحِبَّ أَنْ يَغْسِلَهُ لِلْجُمُعَةِ وَالْعِيدِ، وَيَسْتَوِي فِي اسْتِحْبَابِ جَمِيعِ مَا ذَكَرْنَاهُ، الْقَاعِدُ فِي بَيْتِهِ، وَالْخَارِجُ إِلَى الصَّلَاةِ، هَذَا حُكْمُ الرِّجَالِ. وَأَمَّا النِّسَاءُ، فَيُكْرَهُ لِذَوَاتِ الْجَمَالِ وَالْهَيْئَةِ الْحُضُورُ، وَيُسْتَحَبُّ لِلْعَجَائِزِ، وَيَتَنَظَّفْنَ بِالْمَاءِ، وَلَا يَتَطَيَّبْنَ، وَلَا يَلْبَسْنَ مَا يُشْهِرُهُنَّ مِنَ الثِّيَابِ، بَلْ يَخْرُجْنَ فِي بِذْلَتِهِنَّ.

Artinya: Disunahkan memakai pakaian yang paling baik, dan yang lebih utama adalah pakaian warna putih dan juga memakai serban. Jika hanya memiliki satu pakaian saja, maka tidaklah mengapa ia memakainya. Ketentuan ini berlaku bagi kaum laki-laki yang hendak berangkat shalat Id maupun yang tidak. Sedangkan untuk kaum perempuan cukuplah ia memakai pakaian biasa sebagaimana pakaian sehari-hari, dan janganlah ia berlebih-lebihan dalam berpakaian serta memakai wangi-wangian.

Sabda Nabi Muhammad SAW berikut memberi penjelasan tentang memakai pakaian yang paling baik, riwayat dari Sahabat Ibnu Abbas RA:

كَانَ يلبس في العيد برد حبرة

Artinya: Rasulullah SAW di hari raya Id memakai Burda Hibarah (pakaian yang indah berasal dari yaman).

Demikian penjelasan mengenai hukum makan dan minum sebelum sholat Idul Adha, beserta hikmah dan amalan sunah lainnya yang dapat dikerjakan. Semoga bermanfaat!




(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads