- Kenapa Daging Kambing Sering Dianggap \
- Apa Saja Mitos Daging Kambing? 1. Daging Kambing Memicu Darah Tinggi dan Hipertensi 2. Ibu Hamil Tidak Boleh Makan Daging Kambing 3. Daging Kambing Bisa Meningkatkan Gairah Seksual Pria 4. Daging Kambing Selalu Tinggi Lemak dan Kolesterol 5. Daging Kambing Tidak Boleh Dicuci Sebelum Dimasak 6. Daging Kambing Bisa Menyembuhkan Darah Rendah 7. Daging Kambing Tidak Boleh Dimakan Bersama Durian
Setiap Idul Adha, olahan daging kambing seperti sate, gulai, hingga tongseng selalu menjadi menu favorit banyak keluarga. Namun, di balik rasanya yang menggugah selera, daging kambing sering dikaitkan dengan berbagai anggapan yang berkembang di masyarakat.
Mulai dari disebut bisa memicu darah tinggi, berbahaya untuk ibu hamil, hingga dipercaya dapat meningkatkan gairah seksual pria. Padahal, tidak semua anggapan tersebut benar secara medis. Sebagian besar justru berasal dari kebiasaan turun-temurun serta cara pengolahan yang kurang tepat.
Karena itu agar tidak salah paham, penting untuk memahami mitos dan fakta seputar daging kambing agar masyarakat dapat tetap menikmati hidangan khas Idul Adha tanpa rasa khawatir berlebihan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kenapa Daging Kambing Sering Dianggap "Berbahaya"?
Citra daging kambing sebagai makanan yang berisiko sebenarnya banyak dipengaruhi oleh budaya dan pengalaman masyarakat dari generasi ke generasi. Banyak orang merasa tubuh menjadi lebih "panas" setelah mengonsumsi sate atau gulai kambing.
Ada pula yang mengaitkannya dengan tekanan darah tinggi hingga kolesterol. Padahal, dalam banyak kasus, penyebab utamanya justru berasal dari cara pengolahan makanan, penggunaan santan berlebihan, garam tinggi, serta pola makan yang tidak seimbang.
Di sisi lain, daging kambing sebenarnya justru mengandung berbagai nutrisi penting untuk tubuh seperti protein, zat besi, zinc, vitamin B kompleks, selenium, dan kalium yang dibutuhkan tubuh.
Apa Saja Mitos Daging Kambing?
Sejumlah mitos tentang daging kambing masih banyak dipercaya masyarakat hingga saat ini, terutama menjelang momen Idul Adha. Berikut beberapa mitos yang paling sering beredar terkait konsumsi daging kambing.
1. Daging Kambing Memicu Darah Tinggi dan Hipertensi
Setiap mendekati Idul Adha, anggapan bahwa daging kambing bisa langsung memicu hipertensi kembali ramai dibicarakan. Tak sedikit orang memilih menghindari sate, gulai, atau tongseng karena takut tekanan darah mendadak naik setelah makan.
Anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Hingga kini, belum ada penelitian yang menyebut daging kambing secara langsung menjadi penyebab utama hipertensi pada orang sehat.
Dilansir dari laman resmi Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dr Yogi Subandra Dwitama menjelaskan risiko tekanan darah tinggi lebih sering berkaitan dengan pola konsumsi dan cara pengolahan makanan.
Banyak olahan kambing menggunakan garam, santan, dan lemak dalam jumlah tinggi, yang justru lebih berpengaruh terhadap kenaikan tekanan darah. Selain itu, konsumsi daging olahan dan makanan tinggi natrium juga diketahui memiliki risiko lebih besar memicu hipertensi dibandingkan daging merah segar tanpa lemak.
Karena itu, yang perlu diperhatikan sebenarnya bukan hanya daging kambing, melainkan cara memasak dan jumlah konsumsinya. Agar lebih sehat, daging kambing sebaiknya diolah dengan minim garam.
Selain itu, memasak daging kambing sebaiknya tidak terlalu banyak santan atau minyak, serta memilih bagian daging tanpa lemak. Selama dikonsumsi dalam porsi wajar dan diimbangi pola makan sehat, daging kambing tetap aman dinikmati tanpa perlu khawatir berlebihan terhadap hipertensi.
2. Ibu Hamil Tidak Boleh Makan Daging Kambing
Daging kambing sering dianggap terlalu panas untuk ibu hamil. Tak sedikit yang percaya konsumsi kambing bisa memicu gangguan kehamilan hingga keguguran.
Padahal, secara nutrisi daging kambing justru mengandung zat besi tinggi yang penting untuk membantu pembentukan hemoglobin dan mencegah anemia selama kehamilan. Kandungan protein, zinc, salenium, dan vitamin B kompleks dalam daging kambing juga bermanfaat untuk mendukung perkembangan janin.
Meski begitu, konsumsi tetap perlu dibatasi dalam jumlah wajar. Makanan berlemak dan terlalu banyak rempah memang bisa membuat tubuh terasa tidak nyaman jika dikonsumsi berlebihan. Karena itu, ibu hamil tetap disarankan menyesuaikan pola makan dengan kondisi tubuh dan anjuran dokter.
3. Daging Kambing Bisa Meningkatkan Gairah Seksual Pria
Kepercayaan bahwa sate kambing atau torpedo kambing bisa meningkatkan vitalitas pria sudah lama berkembang di masyarakat. Seksolog Zoya Amirin menjelaskan bahwa anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar secara klinis.
Menurutnya, konsumsi daging kambing tidak otomatis membuat seseorang lebih bergairah secara seksual. Efek tubuh terasa hangat setelah makan kambing sering disalahartikan sebagai peningkatan libido.
Padahal, sensasi itu berasal dari kandungan arginin pada daging merah yang membantu meningkatkan aliran darah. Menariknya, arginin juga banyak ditemukan pada makanan lain seperti ayam dan kacang-kacangan.
Zoya justru menyebut beberapa makanan lain seperti tiram, pala, dan cengkeh lebih berkaitan dengan kesehatan reproduksi pria karena kandungan zinc dan senyawa tertentu di dalamnya.
4. Daging Kambing Selalu Tinggi Lemak dan Kolesterol
Banyak yang menghindari daging kambing karena menganggap kandungan lemaknya sangat tinggi. Padahal, dalam porsi yang sama, daging kambing justru memiliki kadar lemak dan kalori lebih rendah dibandingkan daging sapi maupun ayam.
Dalam 3 ons daging kambing, kandungan lemaknya sekitar 2,6 gram dengan 122 kalori. Jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan daging sapi yang mengandung sekitar 7,9 gram lemak dan 179 kalori, serta tiga ons daging ayam yang mengandung 6,3 gram lemak dan 162 kalori
Daging kambing juga memiliki protein tinggi sekitar 23 gram per porsi, serta kandungan kolesterol yang relatif lebih rendah dibandingkan ayam, yaitu kandungan kolesterol dalam tiga ons daging kambing sekitar 63,8 miligram, lebih rendah dari tiga ons daging ayam, yaitu sekitar 76 miligram.
Meski begitu, konsumsi tetap perlu diperhatikan, terutama jika diolah dengan santan, minyak, atau bagian berlemak berlebihan untuk menjaga keseimbangan asupan gizi dan kolesterol.
5. Daging Kambing Tidak Boleh Dicuci Sebelum Dimasak
Banyak orang percaya mencuci daging kambing justru membuat bau prengus semakin kuat dan teksturnya menjadi alot. Secara umum, mencuci daging bisa membuat aroma khas kambing lebih keluar jika tidak ditangani dengan benar.
Selain itu, terlalu banyak terkena air juga dapat mempengaruhi tekstur daging. Karena itu, sebagian orang memilih langsung mengolah daging setelah membersihkan lemak atau kotoran yang menempel.
Namun, yang lebih penting sebenarnya adalah memastikan proses penyimpanan dan pengolahan dilakukan dengan higienis. Jika ingin mencuci daging, lakukan seperlunya dan segera keringkan sebelum dimasak.
Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto menjelaskan daging kambing sebaiknya langsung diolah tanpa dicuci berlebihan menggunakan air. Saat merebus, disarankan memakai air suhu ruang sejak awal agar daging matang lebih merata dan teksturnya lebih empuk.
Menurut Chef Stefu dilansir detikFood, daging kambing lebih cocok dimasak basah seperti gulai, rendang, atau sup karena proses perebusan lama membantu serat daging lebih lunak. Sebaliknya, olahan seperti sate atau daging panggang berisiko membuat tekstur kambing alot jika proses pengolahannya kurang tepat.
6. Daging Kambing Bisa Menyembuhkan Darah Rendah
Ada anggapan makan sate atau gulai kambing bisa langsung menaikkan tekanan darah rendah. Faktanya, belum ada bukti medis yang menyebut daging kambing dapat menjadi pengobatan. Tekanan darah rendah tetap perlu ditangani melalui pola makan seimbang, istirahat cukup, dan hidrasi yang baik.
7. Daging Kambing Tidak Boleh Dimakan Bersama Durian
Kombinasi kambing dan durian sering dianggap berbahaya untuk jantung. Namun, hingga kini belum ada penelitian ilmiah yang membuktikan kombinasi tersebut berbahaya bagi orang sehat.
Namun, larangan ini mungkin relevan bagi individu dengan riwayat penyakit jantung atau masalah metabolik tertentu. Meski begitu, keduanya memang sama-sama tinggi kalori dan dapat membuat tubuh terasa tidak nyaman jika dikonsumsi berlebihan dalam waktu bersamaan.
Pada dasarnya, daging kambing tetap aman dikonsumsi selama porsinya tidak berlebihan dan cara pengolahannya diperhatikan. Masalah kesehatan lebih sering muncul akibat konsumsi garam, santan, minyak, atau pola makan berlebihan, bukan semata karena daging kambing itu sendiri.
Karena itu, masyarakat tidak perlu langsung takut menikmati olahan kambing saat Idul Adha. Yang terpenting adalah menjaga keseimbangan pola makan dan menyesuaikan konsumsi dengan kondisi kesehatan masing-masing.
(irb/hil)
