Makan Daging Kambing Saat Idul Adha, Amankah untuk Penderita Kolesterol?

Makan Daging Kambing Saat Idul Adha, Amankah untuk Penderita Kolesterol?

Salma Nisrina Fahriyyah - detikJatim
Sabtu, 23 Mei 2026 21:00 WIB
Olahan daging kurban.
Olahan daging kurban. Foto: Gemini AI
Surabaya -

Hari raya Idul Adha sering menjadi momen serba salah buat penderita kolesterol atau darah tinggi. Di satu sisi ingin menikmati olahan sate dan gulai bersama keluarga, tapi di sisi lain muncul kekhawatiran soal kolesterol naik setelah makan daging kambing.

Padahal, anggapan daging kambing otomatis memicu kolesterol tinggi ternyata tidak sepenuhnya benar. Sejumlah pakar justru menyebut kandungan kolesterol daging kambing bisa lebih rendah dibanding daging sapi maupun ayam. Lalu, apakah penderita kolesterol tetap aman makan daging kambing?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Benarkah Daging Kambing Memicu Kolesterol Tinggi?

Dilansir laman Universitas Airlangga (Unair), masyarakat selama ini kerap menganggap daging kambing sebagai penyebab utama hipertensi dan kolesterol tinggi. Padahal menurut pakar keperawatan Unair Abu Bakar, yang perlu diperhatikan sebenarnya bukan jenis makanannya, tetapi kandungan zat dan cara pengolahannya.

"Pertama, kita harus tahu dulu penyebab dari hipertensi itu apa. Satu, makanan tinggi garam, dua, makanan tinggi kolesterol, tiga, makanan yang mengandung kedua zat ini," jelasnya.

ADVERTISEMENT

Abu menegaskan penelitian terbaru menunjukkan kadar kolesterol daging kambing justru lebih rendah dibandingkan daging sapi. Bahkan, dalam beberapa kondisi, kolesterol daging ayam bisa lebih tinggi dibanding daging kambing. Karena itu, konsumsi daging kambing sebenarnya masih tergolong aman selama porsinya tidak berlebihan dan diolah dengan cara yang tepat.

Kandungan Kolesterol Daging Kambing Ternyata Lebih Rendah

Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University Ronny Rachman Noor juga menjelaskan bahwa daging kambing tidak otomatis menyebabkan hipertensi ataupun lonjakan kolesterol.

"Sebagaimana halnya dengan daging merah lainnya, daging kambing secara ilmiah tidak menjadi pemicu hipertensi. Namun, hal itu bisa disebabkan karena cara penyajian dan konsumsi yang terkait erat dengan hipertensi," jelas Ronny melalui laman resmi IPB University.

Menurutnya, daging kambing atau chevon justru dikenal memiliki kandungan lemak jenuh yang lebih rendah dibanding beberapa jenis daging merah lainnya. Selain itu, daging kambing juga kaya protein dan zat besi yang baik untuk tubuh.

Kualitas nutrisi daging kambing juga dipengaruhi cara ternak dipelihara. Kambing yang digembalakan secara alami umumnya menghasilkan daging dengan kadar lemak lebih rendah dibanding sistem penggemukan intensif.

Kenapa Setelah Makan Kambing Tekanan Darah Bisa Naik?

Meski daging kambing tidak secara langsung memicu hipertensi, banyak orang merasa tekanan darahnya naik setelah makan sate atau gulai kambing. Penyebabnya sering kali berasal dari bahan tambahan dalam proses memasak.

Abu menjelaskan bahwa penggunaan garam, kecap tinggi natrium, santan, hingga minyak berlebih dalam olahan daging kambing justru lebih berisiko memicu kenaikan tekanan darah dan kolesterol.

"Kalau mau buat sate kambing, ya lihat kecapnya juga tinggi natrium atau tidak. Kalau kecapnya tinggi natrium, yang menyebabkan tekanan darah tinggi bisa jadi kecapnya bukan dagingnya," ujarnya.

Artinya, menu pendamping dan teknik pengolahan daging kambing memiliki pengaruh besar terhadap dampak kesehatan makanan tersebut.

Apakah Penderita Kolesterol Masih Boleh Makan Daging Kambing?

Dilansir dari detikHealth, ahli gizi Mochammad Rizal dari Indonesia Sport Nutritionist Association (ISNA) menyebut penderita kolesterol tetap boleh mengonsumsi daging kambing, asalkan jumlahnya dibatasi.

"Kalau ada riwayat kolesterol, konsumsi daging 2-3 kali per minggu sudah cukup. Respons tiap orang berbeda, sehingga tetap disarankan rajin kontrol untuk memantau kesehatan," jelas Rizal.

Untuk orang sehat, konsumsi daging kambing masih aman sekitar satu porsi per hari dengan ukuran kurang lebih sebesar telapak tangan. Sedangkan, bagi penderita kolesterol atau hipertensi, penting untuk mengatur frekuensi konsumsi dan menghindari makan berlebihan dalam waktu berdekatan.

Abu bahkan menyarankan konsumsi sate kambing maksimal sekitar tujuh tusuk dalam sehari, lalu diberi jeda beberapa hari sebelum kembali mengonsumsi olahan favorit banyak orang tersebut.

Cara Aman Mengonsumsi Daging Kambing untuk Penderita Kolesterol

Agar lebih aman bagi kesehatan, penting memilih bagian daging kambing yang rendah lemak, membatasi konsumsi santan dan garam, serta menyeimbangkannya dengan sayur dan air putih yang cukup.

  • Hindari bagian yang memiliki banyak lemak atau jeroan karena kandungan lemak jenuhnya lebih tinggi.
  • Hindari olahan seperti gulai atau tongseng berlebih karena cenderung lebih tinggi lemak dibandingkan sate.
  • Kurangi garam dan kecap karena bisa memicu tekanan darah meningkat, terutama pada penderita hipertensi.
  • Perbanyak konsumsi sayur dan air putih karena dapat membuat pencernaan lebih seimbang setelah makan daging.

Mitos Daging Kambing dan Kolesterol Masih Banyak Dipercaya

Di masyarakat, daging kambing sering dianggap musuh bagi penderita kolesterol dan darah tinggi. Padahal, berbagai penelitian dan penjelasan ahli menunjukkan bahwa masalah utamanya lebih sering berasal dari pola makan keseluruhan dan gaya hidup.

Konsumsi makanan tinggi gula, gorengan, santan, kurang olahraga, hingga kebiasaan merokok juga berpengaruh besar terhadap naiknya kolesterol dan tekanan darah. Karena itu, penting memahami tidak ada satu jenis makanan yang langsung menjadi penyebab tunggal kolesterol tinggi jika dikonsumsi dalam batas wajar.

Bagi penderita kolesterol, batas aman konsumsi daging kambing adalah maksimal 50-100 gram (setara 5-10 tusuk sate) per hari, dan sebaiknya tidak lebih dari 2-3 porsi per minggu. Hindari bagian jeroan karena tinggi kandungan lemak jenuh dan kolesterol.



(irb/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads