Waspada Zoonosis Saat Idul Adha, Penyakit Hewan Bisa Menular!

Waspada Zoonosis Saat Idul Adha, Penyakit Hewan Bisa Menular!

Jihan Navira - detikJatim
Senin, 25 Mei 2026 23:00 WIB
Ilustrasi penularan zoonosis saat Idul Adha.
Ilustrasi penularan zoonosis saat Idul Adha. Foto: Gemini AI
Surabaya -

Menjelang Idul Adha, interaksi manusia dengan hewan biasanya meningkat drastis. Mulai dari membeli hewan kurban, membersihkan kandang, memotong daging, hingga mengolah jeroan dilakukan dalam waktu berdekatan.

Pada saat yang sama, publik sempat dibuat khawatir dengan munculnya pembahasan soal hantavirus, penyakit yang dikaitkan dengan tikus dan dapat menular ke manusia. Kondisi ini membuat banyak yang sadar bahwa penyakit dari hewan ternyata bukan sekadar isu langka.

Fenomena tersebut berkaitan dengan zoonosis, penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia melalui kontak langsung, makanan, lingkungan, maupun paparan cairan tubuh hewan. Beberapa kasus bahkan pernah berkembang menjadi wabah global, seperti rabies, flu burung, ebola, hingga COVID-19.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Karena itu, penting memahami bagaimana zoonosis bisa terjadi, mengapa risikonya makin meningkat, dan langkah pencegahan yang perlu dilakukan, terutama saat aktivitas manusia dengan hewan sedang tinggi seperti momen Idul Adha.

Apa Itu Zoonosis?

Dilansir dari laman resmi World Health Organization (WHO), zoonosis adalah penyakit atau infeksi yang secara alami dapat menular dari hewan vertebrata ke manusia. Penyebabnya bisa berupa virus, bakteri, parasit, maupun agen infeksi lain yang menyebar melalui kontak langsung ataupun tidak langsung.

ADVERTISEMENT

Penularan zoonosis dapat terjadi dalam berbagai cara. Manusia bisa tertular melalui gigitan atau cakaran hewan, kontak dengan cairan tubuh hewan, hingga mengonsumsi makanan yang telah terkontaminasi.

Selain itu, air dan lingkungan yang tercemar juga dapat menjadi media penyebaran penyakit. Dalam beberapa kasus, patogen penyebab zoonosis bahkan dapat menyebar melalui udara atau menempel pada permukaan tertentu lalu masuk ke tubuh manusia.

WHO menyebut terdapat lebih dari 200 jenis zoonosis yang telah diketahui. Sebagian besar penyakit infeksi baru yang muncul pada manusia juga berasal dari penularan hewan ke manusia.

Beberapa penyakit zoonosis dapat dikendalikan dengan baik. Namun, sebagian lainnya berpotensi berkembang menjadi wabah besar hingga pandemi global. Selain berdampak pada kesehatan, zoonosis juga dapat mengganggu produksi serta perdagangan produk hewani untuk kebutuhan pangan dan penggunaan lainnya.

Mengapa Penyakit Zoonosis Semakin Sering Terjadi?

Meningkatnya kasus zoonosis bukan terjadi tanpa sebab. WHO menyebut perubahan pola hidup manusia dan lingkungan menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya penularan penyakit dari hewan ke manusia, baik hewan peliharaan, hewan ternak, atau hewan liar.

1. Urbanisasi dan Perusakan Habitat Alam

Semakin luas pembangunan permukiman dan industri membuat habitat satwa liar menyempit. Akibatnya, kontak antara manusia dan hewan liar menjadi lebih sering terjadi. Kondisi ini meningkatkan risiko perpindahan virus atau bakteri dari hewan ke manusia.

2. Perdagangan dan Konsumsi Satwa Liar

Pasar yang menjual hewan liar atau produk turunannya menjadi titik berisiko tinggi untuk penyebaran patogen baru. Banyak hewan liar membawa mikroorganisme yang sebelumnya belum pernah terpapar ke manusia. Ketika terjadi kontak intensif di pasar atau rantai distribusi, risiko penularan meningkat drastis.

3. Peternakan Intensif dan Penggunaan Antibiotik

Penggunaan antibiotik dalam jumlah besar pada hewan ternak dapat memicu resistensi antimikroba. Kondisi ini membuat bakteri menjadi lebih kebal terhadap pengobatan dan meningkatkan risiko munculnya patogen zoonosis yang sulit dikendalikan.

4. Perubahan Iklim dan Lingkungan

Perubahan suhu, curah hujan, dan kerusakan ekosistem juga mempengaruhi penyebaran hewan pembawa penyakit seperti nyamuk, tikus, kelelawar. Akibatnya, penyakit zoonosis dapat muncul di wilayah baru yang sebelumnya tidak terdampak.

Siapa yang Paling Berisiko Terkena Zoonosis?

Meski semua orang dapat terkena zoonosis, WHO menyebut ada beberapa kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi terpapar penyakit dari hewan ke manusia. Siapa saja mereka? Berikut orang atau kelompok yang paling berisiko terkena zoonosis.

  • Orang yang setiap hari kontak dengan hewan ternak lebih rentan terpapar zoonoosis, terlebih jika penggunaan antibiotik pada hewan cukup tinggi dan pengawasan kesehatan kurang optimal.
  • Orang yang bekerja di pasar hewan, rumah potong, atau tempat penjualan satwa.
  • Wilayah semi-perkotaan dan area yang dekat dengan habitat liar lebih rentan mengalami kontak dengan hewan pembawa penyakit seperti tikus, kelelawar, atau rubah.
  • Kelompok dengan daya tahan tubuh lebih lemah cenderung lebih rentan mengalami komplikasi akibat infeksi zoonosis.

Macam-macam Penyakit Zoonosis

Melansir laman Kementerian Kesehatan RI melalui BKK Pangkalpinang, terdapat berbagai jenis penyakit zoonosis yang dapat menular dari hewan ke manusia. Beberapa di antaranya cukup dikenal masyarakat karena pernah menimbulkan wabah maupun kasus serius di berbagai negara.

  • Rabies
  • Leptospirosis
  • Flu Burung (Avian influenza)
  • Antrax
  • Demam Berdarah
  • Malaria
  • Filariasis
  • Chikungunya
  • Zika
  • Japaneses B. Encephalitis
  • Pes
  • Hantavirus
  • Ebola
  • Monkey Pox
  • Schistosomiosis
  • Taniasis
  • Brucellosis

Sementara itu, menurut WHO beberapa penyakit zoonosis bahkan pernah menyebabkan krisis kesehatan global seperti rabies, ebola, flu burung, COVID-19. Kabar baiknya, beberapa penyakit zoonosis, seperti rabies dapat dicegah 100% emlalui vaksinasi dan metode lainnya.

Bagaimana Zoonosis Menular ke Manusia?

Menurut WHO, penularan zoonosis sebenarnya dapat terjadi dalam aktivitas sehari-hari yang terlihat biasa saja. Seseorang bisa tertular penyakit zoonosis melalui berbagai cara sebagai berikut.

  • Menyentuh hewan tanpa menjaga kebersihan
  • Mengonsumsi daging yang tidak matang sempurna
  • Terkena air atau lingkungan yang tercemar
  • Membersihkan kandang hewan tanpa perlindungan
  • Digigit hewan pembawa penyakit

Risiko penularan biasanya lebih tinggi pada lingkungan dengan sanitasi buruk dan pengawasan kesehatan hewan yang lemah. Misalnya, kebiasaan membuang tikus sembarangan di jalan atau selokan, terutama jika tikus tersebut membawa patogen berbahaya seperti bakteri, virus, atau parasit.

Tikus sendiri dikenal sebagai hewan pembawa berbagai penyakit zoonosis, termasuk leptospirosis dan hantavirus. Saat bangkai tikus dibuang sembarangan, cairan tubuh, urine, darah, dan kotorannya bisa mencemari lingkungan sekitar.

Risiko penularan meningkat ketika manusia menyentuh area yang terkontaminasi. Hal tersebut dikarenakan, penularan ke manusia paling sering terjadi bukan melalui gigitan tikus, melainkan melalui cara yang justru tidak disadari banyak orang.

Seperti menghirup partikel mikro di udara yang berasal dari kotoran atau urine tikus yang telah mengering. Ketika kotoran tikus menjadi partikel-partikel kecil lalu beterbangan ke udara dan bisa terhirup masuk ke saluran pernapasan.

Cara Mencegah Zoonosis

Di tengah ramainya pembahasan berbagai penyakit yang bersumber dari hewan, langkah pencegahan menjadi hal penting untuk menjaga kesehatan. WHO telah merangkum sejumlah cara yang dapat dilakukan untuk menekan risiko penularan zoonosis dalam kehidupan sehari-hari.

  • Menjaga kebersihan tangan dengan mencuci tangan setelah menyentuh hewan, membersihkan kandang, atau mengolah bahan makanan mentah.
  • Memastikan makanan matang sempurna seperti daging, telur, dan produk hewani untuk membunuh bakteri berbahaya.
  • Melakukan vaksinasi hewan peliharaan seperti anjing dan kucing untuk cegah penularan penyakit seperti rabies.
  • Hindari kontak dengan hewan sakit.
  • Menjaga sanitasi lingkungan dengan memperhatikan air bersih, melakukan pengelolaan limbah dengan baik, dan kebersihan lingkungan untuk tekan risiko penyebaran penyakit.

Zoonosis bukan lagi isu kesehatan yang terasa jauh dari kehidupan sehari-hari. Momen Idul Adha misalnya, membuat interaksi manusia dengan hewan meningkat. Pada saat yang sama, munculnya pembahasan soal hantavirus juga menjadi pengingat bahwa penyakit dari hewan dapat muncul dari lingkungan sekitar.

Karena itu, menjaga kebersihan saat kontak dengan hewan, memastikan makanan diolah dengan aman, serta menjaga sanitasi lingkungan menjadi langkah penting untuk menekan risiko zoonosis.

Semakin baik pemahaman masyarakat tentang cara penularan penyakit dari hewan ke manusia, semakin besar peluang untuk mencegah wabah dan melindungi kesehatan bersama, terutama di tengah aktivitas yang melibatkan hewan dalam jumlah besar seperti saat Idul Adha.




(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads