- Apa Itu Darah Tinggi atau Hipertensi?
- Fakta Hipertensi
- Penyebab Darah Tinggi yang Paling Umum 1. Pola Makan Tinggi Garam 2. Berat Badan Berlebih dan Obesitas 3. Kurang Aktivitas Fisik 4. Stres dan Kurang Tidur 5. Kebiasaan Merokok dan Alkohol 6. Faktor Usia dan Genetik
- Gejala Darah Tinggi yang Sering Tidak Disadari
- Kenapa Hipertensi Berbahaya Jika Dibiarkan?
- Cara Menurunkan Darah Tinggi Secara Alami
- Kapan Penderita Darah Tinggi Harus Minum Obat?
Tekanan darah tinggi atau hipertensi sering dianggap penyakit orang tua. Padahal, sekarang kasus hipertensi semakin banyak ditemukan pada usia produktif, bahkan pada orang yang terlihat sehat dan masih aktif bekerja.
Masalahnya, hipertensi sering datang tanpa gejala sehingga banyak orang yang baru sadar setelah muncul komplikasi seperti stroke, serangan jantung, atau gangguan ginjal. Data terbaru dari World Health Organization (WHO) menyebut sekitar 1,4 miliar orang dewasa di dunia mengalami hipertensi pada 2024.
Yang mengkhawatirkan, hampir setengah penderitanya tidak sadar memiliki tekanan darah tinggi. Karena itu, penting untuk memahami penyebab darah tinggi, gejalanya, hingga cara menurunkannya sebelum kondisi semakin parah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa Itu Darah Tinggi atau Hipertensi?
Dilansir dari laman resmi WHO, hipertensi adalah kondisi ketika tekanan darah berada di angka 140/90 mmHg atau lebih. Tekanan darah sendiri terdiri dari dua angka, yaitu sistolik dan diastolik.
140/90 mmHg. Angka sistolik menunjukkan tekanan saat jantung memompa darah, sedangkan diastolik menunjukkan tekanan ketika jantung beristirahat di antara detak.
Hipertensi didiagnosis jika, ketika diukur pada dua hari yang berbeda, pembacaan tekanan darah sistolik pada kedua hari tersebut β₯140 mmHg dan/atau pembacaan tekanan darah diastolik pada kedua hari tersebut β₯90 mmHg.
Hipertensi sering disebut sebagai silent killer karena banyak penderitanya tidak mengalami tanda khusus. Seseorang bisa terlihat sehat, tetap beraktivitas normal, tetapi tekanan darahnya sebenarnya sudah tinggi selama bertahun-tahun.
Menurut WHO, hipertensi menjadi salah satu penyebab utama kematian dini di dunia karena dapat memicu stroke, penyakit jantung, hingga gagal ginjal bisa tidak dikendalikan.
Fakta Hipertensi
Hipertensi atau tekanan darah tinggi menjadi salah satu masalah kesehatan paling umum di dunia dan perlu diwaspadai sejak dini agar risiko komplikasi seperti stroke hingga penyakit jantung bisa dicegah.
- Diperkirakan sebanyak 1,4 miliar orang dewasa usia 30-79 tahun di seluruh dunia mengalami hipertensi pada tahun 2024. Angka ini mewakili 33% populasi dalam rentang usia tersebut.
- Dua pertiga orang dewasa usia 30-79 tahun yang mengalami hipertensi tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah.
- Diperkirakan 600 juta orang dewasa dengan hipertensi (44%) tidak menyadari bahwa mereka memiliki kondisi tersebut.
- Sekitar 630 juta orang dewasa dengan hipertensi (44%) telah didiagnosis dan menjalani pengobatan.
- Sekitar 320 juta orang dewasa dengan hipertensi (23%) berhasil mengendalikan tekanan darahnya.
- Hipertensi menjadi salah satu penyebab utama kematian dini di seluruh dunia.
- Salah satu target global penyakit tidak menular adalah menurunkan prevalensi hipertensi yang tidak terkendali sebesar 25% antara tahun 2010 hingga 2025.
Penyebab Darah Tinggi yang Paling Umum
Tekanan darah tinggi biasanya tidak muncul karena satu faktor saja. Kondisi ini dipengaruhi kombinasi gaya hidup, faktor usia, hingga riwayat kesehatan. Berikut penyebab darah tinggi menurut WHO.
1. Pola Makan Tinggi Garam
Konsumsi makanan asin berlebihan menjadi salah satu pemicu hipertensi paling umum. Garam membuat tubuh menahan lebih banyak cairan hingga tekanan pembuluh darah meningkat. Mi instan, makanan cepat saji, camilan kemasan, hingga lauk tinggi sodium sering jadi penyebab tekanan darah naik tanpa disadari.
2. Berat Badan Berlebih dan Obesitas
Semakin tinggi berat badan, semakin keras jantung bekerja memompa darah ke seluruh tubuh. Kondisi ini membuat tekanan darah lebih mudah meningkat. Obesitas juga sering berkaitan dengan kolesterol tinggi dan diabetes yang memperburuk risiko hipertensi.
3. Kurang Aktivitas Fisik
Terlalu sering duduk, jarang olahraga, dan minim gerak dapat membuat pembuluh darah menjadi kurang fleksibel. Akibatnya, tekanan darah lebih mudah naik. WHO merekomendasikan aktivitas fisik minimal 150 menit per minggu untuk membantu menjaga tekanan darah tetap stabil.
4. Stres dan Kurang Tidur
Banyak orang yang tidak sadar tekanan pekerjaan, kurang tidur, stres berkepanjangan bisa memicu kenaikan tekanan darah. Saat stres tubuh memproduksi hormon tertentu yang membuat pembuluh darah menyempit dan denyut jantung meningkat.
5. Kebiasaan Merokok dan Alkohol
Nikotin pada rokok dapat merusak pembuluh darah dan membuat tekanan darah naik lebih cepat. Konsumsi alkohol berlebihan juga memberi efek serupa pada jantung dan sistem sirkulasi.
6. Faktor Usia dan Genetik
Risiko hipertensi meningkat seiring bertambahnya usia dan penyakit penyerta seperti diabetes atau penyakit ginjal. Selain itu, seseorang yang memiliki riwayat keluarga dengan hipertensi cenderung memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi serupa.
Gejala Darah Tinggi yang Sering Tidak Disadari
Meski sebagian besar penderita hipertensi tidak merasakan gejala apa pun, dalam beberapa kasus tekanan darah tinggi (biasanya 180/120 atau lebih tinggi) dapat menimbulkan gejala seperti berikut, sebagaimana dilansir dari laman WHO.
- Sakit kepala parah
- Nyeri dada
- Pusing
- Kesulitan bernapas
- Mual
- Muntah
- Penglihatan kabur atau perubahan penglihatan lainnya
- Kecemasan
- Kebingungan
- Berdengung di telinga
- Mimisan
- Irama jantung abnormal
Jika tekanan darah mencapai 180/120 mmHg atau lebih disertai gejala seperti nyeri dada, sesak napas, hingga kebingungan, kondisi tersebut termasuk darurat medis dan perlu penanganan segera.
Kenapa Hipertensi Berbahaya Jika Dibiarkan?
Selain memicu berbagai komplikasi, hipertensi juga menyebabkan kerusakan serius pada jantung. Tekanan darah yang terus tinggi dapat membuat arteri menjadi kaku dan menyempit, sehingga aliran darah serta suplai oksigen ke jantung berkurang. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan berikut.
- Nyeri dada atau angina akibat berkurangnya aliran darah ke jantung.
- Serangan jantung terjadi ketika suplai darah ke jantung terhambat dan sel-sel otot jantung mati karena kekurangan oksigen. Semakin lama aliran darah terhambat, semakin besar kerusakan pada jantung.
- Gagal jantung yang terjadi ketika jantung tidak mampu memompa cukup darah dan oksigen secara optimal ke organ-organ vital tubuh lainnya.
- Gangguan irama jantung atau detak jantung tidak teratur yang dapat menyebabkan kematian mendadak.
Hipertensi juga menyebabkan pembuluh darah yang memasok darah dan oksigen ke otak mengalami penyumbatan atau pecah, sehingga meningkatkan risiko stroke. Selain itu, tekanan darah tinggi yang tidak terkendali dapat merusak fungsi ginjal dan berujung pada gagal ginjal.
Cara Menurunkan Darah Tinggi Secara Alami
WHO menyebut hal yang dapat membantu mencegah dan menurunkan tekanan darah tinggi adalah dengan mengubah gaya hidup. Berikut perubahan gaya hidup yang dianjurkan WHO untuk menurunkan darah tinggi.
- Mengonsumsi lebih banyak sayuran dan buah-buahan.
- Mengurangi duduk.
- Meningkatkan aktivitas fisik, misalnya berjalan kaki, berlari, berenang, menari, atau aktivitas yang membangun kekuatan seperti angkat beban.
- Lakukan setidaknya 150 menit aktivitas aerobik intensitas sedang per minggu, atau 75 menit aktivitas aerobik intensitas tinggi per minggu.
- Lakukan latihan penguatan otot dua hari atau lebih setiap minggu.
- Turunkan berat badan jika kelebihan berat badan atau obesitas.
- Mengurangi dan mengelola stres.
- Mengurangi paparan udara yang tercemar.
- Minum obat sesuai resep dari tenaga medis kesehatan.
- Tetap melakukan pemeriksaan tekanan darah secara teratur ke tenaga kesehatan profesional.
Selain menerapkan pola hidup sehat, ada sejumlah kebiasaan yang juga perlu dihindari karena dapat memicu tekanan darah meningkat. Jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan ini bisa membuat hipertensi semakin sulit dikendalikan dan meningkatkan risiko komplikasi kesehatan.
- Makan terlalu banyak makanan asin (usahakan untuk tidak mengonsumsi lebih dari 2 gram per hari)
- Mengonsumsi makanan yang tinggi lemak jenuh atau lemak trans
- Merokok
- Minum terlalu banyak alkohol (maksimal 1 gelas per hari untuk wanita, 2 gelas untuk pria)
- Lupa minum obat
Kapan Penderita Darah Tinggi Harus Minum Obat?
Tidak semua penderita hipertensi langsung membutuhkan obat. Namun, jika perubahan gaya hidup belum cukup menurunkan tekanan darah, dokter biasanya akan memberikan terapi obat sesuai kondisi pasien. Berikut beberapa obat hipertensi yang umum digunakan.
- ACE inhibitor seperti enalapril dan lisinopril, merelaksasi pembuluh darah dan mencegah kerusakan ginjal.
- ARB seperti losartan dan telmisartan, merelaksasi pembuluh darah dan mencegah kerusakan ginjal.
- Calcium channel blocker seperti amlodipine, merelaksasi pembuluh darah.
- Diuretik seperti hydrochlorothiazide dan klortalidon, mengeluarkan kelebihan air dari tubuh, sehingga menurunkan tekanan darah.
Pemilihan obat hipertensi umumnya disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien, mulai dari usia, riwayat penyakit tertentu, hingga tingkat risiko komplikasi yang dimiliki. Karena itu, jenis obat yang diberikan bisa berbeda pada setiap orang dan perlu berdasarkan anjuran dokter.
Hipertensi bukan penyakit yang boleh dianggap sepele, apalagi karena sering muncul tanpa gejala jelas. Gaya hidup modern, pola makan tinggi garam, kurang olahraga, hingga stres bisa menjadi pemicu tekanan darah naik tanpa disadari.
Karena itu, mulai biasakan cek tekanan darah secara rutin dan lakukan perubahan kecil dari sekarang. Menjaga pola makan, tidur cukup, aktif bergerak, dan mengelola stres bisa membantu menurunkan risiko hipertensi sekaligus mencegah komplikasi berbahaya seperti stroke dan penyakit jantung.
(irb/hil)
