Benarkah Daging Kambing Bikin Hipertensi? Ini Faktanya

Benarkah Daging Kambing Bikin Hipertensi? Ini Faktanya

Jihan Navira - detikJatim
Kamis, 21 Mei 2026 16:30 WIB
Ilustrasi daging kambing. Benarkah bisa menyebabkan hipertensi?
Ilustrasi daging kambing. Benarkah bisa menyebabkan hipertensi? Foto: Gemini AI
Surabaya -

Setiap mendekati Idul Adha atau musim sate kambing, anggapan bahwa daging kambing bisa langsung menyebabkan hipertensi kembali ramai dibicarakan. Tidak sedikit orang memilih menghindari gulai, sate, atau tongseng kambing karena takut tekanan darah mendadak naik setelah makan.

Lantas, benarkah daging kambing memang menjadi penyebab utama hipertensi? Atau justru ada faktor lain yang lebih berpengaruh? Supaya tidak salah kaprah, penting memahami fakta medis soal kandungan daging kambing, pengaruhnya terhadap tekanan darah, hingga cara aman mengonsumsinya.

Benarkah Daging Kambing Bisa Menyebabkan Hipertensi?

Anggapan bahwa daging kambing otomatis menyebabkan hipertensi sebenarnya tidak sepenuhnya benar. Hingga kini, belum ada penelitian yang menyebut daging kambing secara langsung menjadi penyebab utama tekanan darah tinggi pada orang sehat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dilansir dari laman resmi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, dr Yogi Subandra Dwitama mengatakan daging kambing memang termasuk daging merah, tetapi risiko hipertensi lebih sering berkaitan dengan pola konsumsi dan cara pengolahannya.

Banyak orang mengira daging kambing adalah sumber utama penyebab darah tinggi. Padahal, tekanan darah lebih dipengaruhi asupan garam, lemak jenuh, gaya hidup, hingga kondisi kesehatan masing-masing individu.

ADVERTISEMENT

Mengonsumsi daging olahan memiliki risiko lebih besar memicu hipertensi atau tekanan darah tinggi dibandingkan daging merah segar. Daging olahan merupakan daging yang diproses untuk meningkatkan rasa dan daya tahan, misalnya melalui pengasinan, pengawetan, fermentasi, atau pengasapan.

Proses tersebut umumnya membuat kadar garam dalam daging menjadi lebih tinggi. Padahal, konsumsi garam berlebih menjadi salah satu faktor yang meningkatkan tekanan darah. Karena itu, yang lebih perlu diperhatikan sebenarnya bukan semata jenis dagingnya, melainkan cara pengolahan dan jumlah konsumsinya.

Cara Mengolah Daging Kambing Agar Terhindar Hipertensi

Kemenkes dalam laman resminya juga memberikan panduan bagaimana mengolah daging kambing agar terhindar dari hipertensi. Dalam proses pengolahannya, daging kambing seringkali ditambahkan banyak garam untuk memberikan rasa yang lebih gurih serta menghindari bau amis pada daging.

Namun, hal itu justru yang memberikan dampak negatif bagi kesehatan, terutama jika dikonsumsi secara berlebihan. Maka itu, daging kambing sebaiknya diolah dengan menambahkan garam secukupnya.

Selain itu, penggunaan bumbu-bumbu lainnya seperti rempah-rempah atau bawang putih dapat memberikan rasa yang lebih enak pada daging tanpa harus menambahkan terlalu banyak garam.

Selain hipertensi, konsumsi daging kambing juga kerap dikaitkan dengan risiko peningkatan kolesterol, terutama jika yang dikonsumsi adalah bagian berlemak atau daging olahan.

Jenis daging tersebut mengandung lemak jenuh yang dapat memicu kenaikan kolesterol jahat (LDL) dalam darah. Namun, berbeda dengan daging merah tanpa lemak atau lean meat, yang umumnya tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap peningkatan kolesterol jika dikonsumsi dalam jumlah wajar dan diolah dengan tepat.

Cara Aman Konsumsi Daging Kambing

Meski sering dikaitkan dengan kolesterol dan tekanan darah tinggi, daging kambing sebenarnya tetap bisa dikonsumsi dengan aman asalkan porsinya tidak berlebihan dan cara pengolahannya tepat.

American Heart Association juga menyarankan masyarakat untuk membatasi asupan lemak jenuh dan kolesterol guna menjaga kesehatan jantung. Karena itu, ada beberapa cara sederhana yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko kesehatan saat mengonsumsi daging kambing.

  • Mengonsumsi protein nabati lebih banyak dibandingkan lemak hewani
  • Memilih daging tanpa lemak
  • Membatasi konsumsi daging berlemak dan daging olahan

Selain itu, ada beberapa tips sederhana yang dapat diterapkan agar konsumsi daging kambing tetap lebih sehat dan aman bagi tubuh, terutama untuk membantu mengurangi asupan lemak dan kolesterol berlebih. Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan.

  • Membatasi jumlah dan memilih jenis daging tanpa lemak
  • Memakan daging seporsi yaitu dua sampai tiga ons atau seukuran setumpuk 1 deck kartu
  • Memilih daging tanpa lemak
  • Potong bagian lemak sebelum memasak dan tuangkan lemak yang meleleh setelah dimasak
  • Gunakan metode memasak minim minyak seperti merebus atau memanggang
  • Minimalisir mengonsumsi daging olahan
  • Mengurangi penambahan garam atau msg yang berlebihan

Pada akhirnya, anggapan daging kambing pasti menyebabkan hipertensi sebenarnya tidak sepenuhnya tepat. Risiko tekanan darah tinggi lebih dipengaruhi pola makan secara keseluruhan, cara pengolahan, penggunaan garam berlebihan, hingga kondisi kesehatan masing-masing orang.

Selama dikonsumsi dalam jumlah wajar dan diolah dengan cara yang lebih sehat, daging kambing tetap bisa dinikmati tanpa harus terlalu khawatir. Memilih bagian daging tanpa lemak, mengurangi santan dan garam berlebih, serta menyeimbangkannya dengan sayur dan pola hidup sehat menjadi kunci utama agar konsumsi daging tetap aman bagi tubuh.

Karena itu, penting bagi masyarakat untuk tidak langsung percaya pada mitos yang beredar tanpa memahami fakta medisnya terlebih dahulu. Dengan mengetahui informasi yang tepat, momen menikmati olahan daging kambing saat Idul Adha atau acara keluarga pun tetap bisa terasa nikmat tanpa rasa khawatir berlebihan.




(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads