Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur memaparkan capaian prestasi dan inovasi pendidikan periode 2024-2025 di hadapan tim penilai Innovation Government Award (IGA) dari Kemendagri. Sektor pendidikan terbukti memberikan kontribusi signifikan terhadap tata kelola pemerintahan dan mutu layanan di Jatim.
Kepala Dindik Jatim, Aries Agung Paewai menjelaskan beberapa program unggulan yang berdampak langsung ke masyarakat di antaranya Program Terapan Ekonomi Guru Non-ASN (Proteg) dan East Java Innovative Education Summit (EJIES).
Dari total 398 inovasi yang diajukan, ada sebanyak 196 di antaranya yang telah mencapai tingkat kematangan tinggi berdasarkan validasi kemanfaatannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tim dari Kemendagri berkeliling ke berbagai daerah, termasuk Jawa Timur. Dindik Jatim memberikan dukungan jumlah inovasi terbanyak dalam IGA Award dan Jawa Timur menjadi juara satu nasional," ujar Aries di Surabaya, Selasa (19/5/2026).
Aries menambahkan bahwa inovasi yang lahir merupakan jawaban atas persoalan riil di lapangan. Ia juga mengapresiasi wadah EJIES yang sukses menjaring kreativitas insan pendidikan.
"Inovasi yang lahir merupakan jawaban atas persoalan yang ada di masyarakat. Tujuannya agar pendidikan benar-benar memberikan dampak nyata bagi lingkungan sekolah dan masyarakat luas," katanya.
"Total ada sekitar 24 ribu inovasi yang masuk dalam EJIES," pungkas Aries.
Kepala Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri Kemendagri, Dr Drs Yusharto Huntoyungo menegaskan bahwa Jawa Timur hingga saat ini masih memegang skor tertinggi sebagai daerah terinovatif di Indonesia. Rata-rata kabupaten dan kota di Jatim juga berada pada klaster tertinggi.
Meski demikian, Yusharto mengingatkan agar seluruh elemen di Pemprov Jatim tidak cepat puas karena tantangan terbesar ke depan adalah memecahkan ego sektoral antar-OPD.
"Jawa Timur bukan dalam posisi aman meskipun sudah menjadi daerah terinovatif. Daerah lain juga melakukan upaya yang sama bahkan bisa lebih kuat. Karena itu akselerasi inovasi harus terus dilakukan," ujar Yusharto.
Yusharto mencontohkan pentingnya kolaborasi, seperti sinergi antara Dinas Pendidikan dan Dinas Perhubungan untuk penyediaan transportasi pelajar agar siswa tidak kelelahan di jalan.
"Ekosistem inovasi perlu dibangun bersama agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat dan penerima layanan," katanya.
Menghadapi penilaian IGA 2026, Kemendagri berencana mengaitkan tema inovasi dengan target Sustainable Development Goals (SDGs) serta 54 program prioritas nasional pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pemenuhan perumahan.
"Tanpa inovasi, akselerasi program tidak akan cukup tercapai hanya dengan cara-cara biasa," tegas Yusharto.
Pujian datang dari Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya, Prof Dr Dyah Natalisa yang bertindak sebagai tim penilai. Menurutnya, Jatim berhasil membentuk ekosistem kompetisi dan kurasi inovasi yang baik antar-sekolah sehingga dampaknya nyata pada kesejahteraan guru dan murid.
"Kalau hanya berjalan biasa-biasa saja, akselerasinya tidak akan cepat. Karena itu dibutuhkan terobosan melalui inovasi," ujar Dyah.
Dyah menyebut terobosan di Jawa Timur selalu selangkah lebih maju, namun ia menitipkan catatan penting agar seluruh program ini segera dilembagakan lewat regulasi yang kuat.
"Saya menyebut Jawa Timur selalu one step ahead," katanya.
"Budaya inovasi itu sudah terbentuk. Ini yang sulit. Karena kadang orang ingin berinovasi tetapi khawatir dengan risikonya," ungkap Dyah.
Dyah mendorong Dindik Jatim terus memperkuat integrasi digital, transformasi guru berbasis kewirausahaan, serta melakukan survei penerima manfaat pada program seperti Proteg dan EJIES.
"Inovasi yang baik harus dilembagakan sehingga siapapun pemimpinnya, praktik-praktik baik yang sudah berdampak nyata tetap bisa dilanjutkan dan dikembangkan," tegas Dyah.
(irb/dpe)
