Niat Puasa Dzulhijjah Lengkap dengan Tata Caranya

Niat Puasa Dzulhijjah Lengkap dengan Tata Caranya

Salma Nisrina Fahriyyah - detikJatim
Selasa, 19 Mei 2026 03:00 WIB
Niat puasa Dzulhijjah jelang Idul adha.
Niat puasa Dzulhijjah jelang Idul adha. Foto: Getty Images/iStockphoto/sofirinaja
Surabaya -

Puasa sunah Dzulhijjah merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan bagi umat Islam karena memiliki banyak keberkahan. Amalan ini dilaksanakan pada awal bulan Dzulhijjah, dan tepat sebelum perayaan Idul Adha.

Puasa ini adalah amalan sunah pada 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah. Puasa penuh dilakukan sebanyak sembilan hari pertama di bulan Dzulhijjah.

Meski pada awal bulan Dzulhijjah umat muslim dianjurkan untuk berpuasa, saat hari raya Idul Adha haram hukumnya untuk berpuasa. Jadi, apabila ingin menjalani puasa Dzulhijjah pastikan sudah tahu tanggal pelaksanaannya ya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Dalil Puasa Dzulhijjah

Dilansir dari detikHikmah yang mengutip buku "Cinta Shaum, Zaakat, dan Haji", dalam sebuah hadis riwayat Tirmidzi:

"Tidak ada hari-hari yang lebih disukai Allah untuk dipakai beribadah lebih dari sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah. Berpuasa pada siang harinya sama dengan berpuasa selama satu tahun, dan sholat pada malam harinya sama nilainya dengan mengerjakan sholat pada malam Lailatul Qadar". (HR Tarmidzi)

Sementara dalam buku "Kalender Ibadah Sepanjang Tahun", disebutkan bahwa Ummul Mu'minin Hafsah menuturkan: "Sesungguhnya, Rasulullah SAW berpuasa Asyura, sembilan hari pertama bulan Dzulhijjah, dan tiga hari pada setiap bulan," (HR Abu Dawud).

Hunaidah bin Kholid meriwayatkan dari istrinya yang memperoleh riwayat dari beberapa istri Rasulullah SAW, berkata: "Rasulullah SAW biasa berpuasa pada sembilan hari di awal bulan Dzulhijjah, pada hari Asyura (10 Muharram), dan tiga hari di setiap bulan," (HR Abu Dawud).

Di antara para sahabat yang mempraktikkan puasa selama sembilan hari di awal Dzulhijjah adalah Ibnu Umar. Ulama lain seperti Hasan Bashri, Ibnu Sirin, dan Qatadah juga menyebutkan keutamaan berpuasa pada hari-hari tersebut. Dan, inilah yang menjadi pendapat mayoritas ulama.

Niat Puasa Dzulhijjah

Puasa Dzulhijjah di antaranya dilaksanakan pada tanggal 8 Dzulhijjah dan 9 Dzulhijjah. Puasa 8 Dzulhijjah juga disebut dengan puasa Tarwiyah, sementara puasa tanggal 9 Dzulhijjah disebut puasa Arafah karena bertepatan hari Arafah.

Maka, terdapat perbedaan bacaan niat puasa yang dilaksanakan pada tanggal 1-7 Dzulhijjah, 8 Dzulhijjah, dan 9 Dzulhijjah. Berikut masing-masing niatnya dikutip dari laman Nahdlatul Ulama (NU) Online.

1. Niat Puasa 1-7 Dzulhijjah

نَوَيْتُ صَوْمَ شَهْرٍ ذِي الْحِجَّةِ سُنَّةَ لِلَّهِ تَعَالَى

Arab Latin: Nawaitu shauma syahri dzil hijjah sunnatan lillâhi ta'âlâ.

Artinya: Saya niat puasa sunnah bulan Dzulhijjah karena Allah ta'âlâ.

2. Niat Puasa 8 Dzulhijjah (Tarwiyah)

نَوَيْتُ صَوْمَ تَرْوِيَةَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى

Arab Latin: Nawaitu shauma tarwiyata sunnatan lillâhi ta'âlâ.

Artinya: Saya niat puasa sunnah Tarwiyah karena Allah ta'âlâ.

3. Niat Puasa 9 Dzulhijjah (Arafah)

نَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى

Arab Latin: Nawaitu shauma arafata sunnatan lillâhi ta'âlâ.

Artinya: Saya niat puasa sunnah Arafah karena Allah ta'âlâ.

Waktu Membaca Niat Puasa Dzulhijjah

Dilansir NU Online, waktu membaca niat puasa Dzulhijjah sebagaimana puasa sunah umumnya, yakni malam hari, sejak terbenamnya Matahari sampai terbit fajar.

Namun, karena puasa Dzulhijjah merupakan puasa sunah, maka bagi mereka yang lupa berniat pada malam hari, diperbolehkan untuk berniat di siang harinya.

Jadwal Puasa Dzulhijjah 2026

Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia Tahun 2026 yang diterbitkan Kementerian Agama RI, penanggalan Hijriah memasuki 1 Dzulhijjah 1447 pada 1 Mei 2026. Dengan demikian, umat Islam dapat melaksanakan puasa sunah tersebut mulai tanggal 18-26 Mei 2026. Berikut rincian jadwal puasa Dzulhijjah 2026.

  • 1 Dzulhijjah 1447 Hijriah: 18 Mei 2026
  • 2 Dzulhijjah 1447 Hijriah: 19 Mei 2026
  • 3 Dzulhijjah 1447 Hijriah: 20 Mei 2026
  • 4 Dzulhijjah 1447 Hijriah: 21 Mei 2026
  • 5 Dzulhijjah 1447 Hijriah: 22 Mei 2026
  • 6 Dzulhijjah 1447 Hijriah: 23 Mei 2026
  • 7 Dzulhijjah 1447 Hijriah: 24 Mei 2026
  • 8 Dzulhijjah 1447 Hijriah: 25 Mei 2026
  • 9 Dzulhijjah 1447 Hijriah: 26 Mei 2026

Hikmah Puasa Dzulhijah

Mengutip dari laman Majelis Ulama Indonesia (MUI), anjuran berpuasa di bulan-bulan haram, termasuk Dzulhijjah, dijelaskan dalam salah satu hadis Rasulullah sebagai berikut.

مَنْ صَامَ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ شَهْرٍ حَرَامٍ: الْخَمِيسَ وَالْجُمُعَةَ وَالسَّبْتَ، كَتَبَ اللَّهُ تَعَالَى لَهُ عِبَادَةَ سَبْعِمِائَةِ عَامٍ

Artinya: Barang siapa berpuasa tiga hari di bulan haram, yaitu hari Kamis, Jumat, dan Sabtu, maka Allah Ta'ala akan mencatat baginya pahala ibadah selama tujuh ratus tahun. (HR At-Thabrani)

Apakah Boleh Puasa Dzulhijjah Hanya 1 Hari?

Mengutip Instagram Bimas Islam Kemenag @bimasislam, puasa Dzulhijjah hanya satu hari boleh dan sah dilakukan. Hal ini karena hukum puasa Dzulhijjah itu sendiri adalah sunah, yaitu jika dikerjakan mendapat pahala dan jika ditinggalkan tidak mengapa.

Selain itu, keabsahan satu hari puasa Dzulhijjah tidak tergantung pada hari sebelum maupun setelahnya. Meski begitu, umat Islam sangat dianjurkan untuk mengerjakan puasa Dzulhijjah 9 hari penuh jika memang mampu.

Apakah Boleh Digabung dengan Qadha Ramadhan?

Mengutip MUI Digital, puasa Ramadhan boleh dilaksanakan bersamaan dengan puasa Dzulhijjah. Apabila seseorang melaksanakan puasa qadha Ramadhan pada hari-hari yang dianjurkan berpuasa, maka pahala puasa sunah tersebut tetap didapatkan.

Pandangan tersebut sebagaimana fatwa yang disampaikan oleh Imam Al-Barizi (wafat 738 H), sebagaimana dinukil Syekh Abu Bakr Syatha Ad-Dimyathi (wafat 1310 Hijriah) berikut ini.

الصَّوْمُ فِي الْأَيَّامِ الْمُتَأَكَّدِ صَوْمُهَا مُنْصَرِفٌ إِلَيهَا، بَلْ لَوْ نَوَى بِهِ غَيْرَهَا حَصَلَتْ إلخ: زَادَ فِي الْإِيْعَابِ وَمِنْ ثَمَّ أَفْتَى الْبَارِزِى بِأَنَّهُ لَوْ صَامَ فِيْهِ قَضَاءً أَوْ نَحْوَهُ حَصَلَا، نَوَاهُ مَعَهُ أَوْ لَا

Artinya: Berpuasa pada hari-hari yang dianjurkan secara otomatis akan memperoleh keutamaan khusus pada hari-hari tersebut. Bahkan, jika seseorang berniat untuk berpuasa dengan niat lainnya, pahala dari keduanya tetap bisa didapatkan.



(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads