Selain hari raya Idul Fitri, Idul Adha juga menjadi salah satu momen paling istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Sebelum kegiatan menyembelih hewan kurban untuk memperingati kisah Nabi Ibrahin AS, hari raya ini dipenuhi dengan gema takbir yang mengagungkan kebesaran Allah SWT.
Takbir Idul Adha adalah sebuah sunnah yang sangat dianjurkan untuk diamalkan selama hari-hari mulia di bulan Dzulhijjah. Takbir bisa dibaca pada 10 hari pertama Dzulhijjah hingga berakhirnya hari tasyrik. Dari Ibnu Umar RA, dari Rasulullah SAW bersabda:
مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعَمَلُ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Artinya: Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan amal shalih di dalamnya lebih dicintai oleh-Nya daripada hari yang sepuluh (sepuluh hari pertama dari Dzulhijjah). (HR Ahmad, dishahihkan Syaikh Ahmad Syakir)
Agar tidak keliru, berikut panduan lengkap bacaan takbir Idul Adha beserta jenis, waktu pelaksanaan, dan perbedaannya dengan takbiran Idul Fitri.
Bacaan Takbir Idul Adha Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Menjelang Idul Adha, lantunan takbir menjadi salah satu tradisi yang paling dinanti umat Islam di seluruh dunia. Takbir dikumandangkan sejak malam 10 Dzulhijjah hingga hari-hari tasyrik sebagai bentuk pengagungan kepada Allah atas segala nikmat dan kesempatan untuk beribadah kurban.
Mengutip penjelasan dari NU Online, terdapat beberapa versi bacaan takbir yang umum dikumandangkan saat Idul Adha, mulai dari yang pendek hingga yang lebih lengkap dengan tambahan tahmid dan tahlil.
1. Takbir yang Dibaca Sebanyak Tiga Kali
Imam An-Nawawi menjelaskan dalam Kitab Al-Majmu' Syarhul Muhadzdzab bahwa bacaan takbir di hari raya Id dibaca sebanyak tiga kali. Berikut lafalnya.
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ
Arab Latin: Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar.
Artinya: Allah maha besar, Allah maha besar, Allah maha besar.
2. Bacaan Takbir Umum
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa di dalam masyarakat terdapat lafal takbir yang lazim dan bahkan sering dibaca atau dikumandangkan masyarakat. Lafal ini tidak masalah dan cukup baik untuk dibaca. Berikut lafalnya.
.اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
Arab Latin: Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar. Lā ilāha illallāhu wallāhu akbar. Allāhu akbar wa lillāhil hamdu.
Artinya: Allah maha besar, Allah maha besar, Allah maha besar. Tiada tuhan selain Allah. Allah maha besar. Segala puji bagi-Nya.
3. Takbir yang Ditambah Bacaan Zikir
Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah saw menambahkan zikir di dalam lafal takbir yang dikumandangkan di bukit Shafa. Berikut lafal lengkapnya:
اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا. لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ. لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ.
Arab Latin: Allāhu akbar kabīrā, walhamdu lillāhi katsīrā, wa subhānallāhi bukratan wa ashīlā, lā ilāha illallāhu wa lā na'budu illā iyyāhu mukhlishīna lahud dīna wa law karihal kāfirūn, lā ilāha illallāhu wahdah, shadaqa wa'dah, wa nashara 'abdah, wa hazamal ahzāba wahdah, lā ilāha illallāhu wallāhu akbar.
Artinya: Allah maha besar. Segala puji yang banyak bagi Allah. Maha suci Allah pagi dan sore. Tiada tuhan selain Allah. Kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya, memurnikan bagi-Nya sebuah agama meski orang kafir tidak menyukainya. Tiada tuhan selain Allah yang esa, yang menepati janji-Nya, membela hamba-Nya, dan sendiri memorak-porandakan pasukan musuh. Tiada tuhan selain Allah. Allah maha besar.
Jenis dan Waktu Membaca Takbir
Menurut Syekh Abu Abdillah Muhammad ibn Qasim as-Syafi'i dalam Fathul Qarib al-Mujib, takbir yang dikumandangkan saat hari raya dibagi menjadi dua, yaitu Takbir mursal dan muqayyad.
Takbir mursal bisa dilafalkan kapan pun dan di mana pun. Takbir jenis ini dibaca mulai dari terbenamnya malam Ied hingga imam melakukan takbiratul ihram shalat Ied, baik Idul Fitri maupun Idul Adha.
Sementara takbir muqayyad memiliki waktu khusus yakni dibaca setelah melaksanakan shalat fardhu dan sunnah. Waktu membacanya pada setelah shalat subuh hari Arafah (9 Dzulhijjah) dan selesai ba'da ashar hari tasyriq terakhir (13 Dzulhijjah).
Sederhananya, takbir muqayyad dilaksanakan selama lima hari. Dilakukan mulai tanggal 9 hingga 13 Dzulhijjah pada setiap selesai sholat fardu dan sunah. Takbir awal Dzulhijjah bersifat muthlaq, artinya tidak dikaitkan pada waktu dan tempat tertentu.
Jadi, takbir boleh dilakukan di mana saja dan kapan saja, seperti di pasar, masjid, atau saat berjalan. Takbir tersebut dilakukan dengan mengeraskan suara khusus bagi laki-laki.
Selain itu, takbir muqayyad bagi orang yang tidak berhaji dilakukan mulai dari salat Subuh pada hari Arafah (9 Dzulhijjah), hingga waktu Asar pada hari Tasyrik yang terakhir.
Syekh Ibrahim Al Bajuri juga menjelaskan takbir pada hari raya Idul Adha menyandang dua istilah sekaligus, yakni mursal dan muqayyad, karena dibaca sejak malam Ied hingga hari Tasyrtk terakhir.
Berapa Hari Takbir Idul Adha?
Takbir Idul Adha termasuk ke dalam jenis takbir muqayyad yang dibaca setelah sholat fardu dan sunah pada waktu-waktu tertentu. Waktunya dimulai setelah sholat Subuh hari Arafah (9 Dzulhijjah) hingga setelah sholat Ashar hari Tasyrik terakhir (13 Dzulhijjah), sehingga berlangsung selama lima hari. Berikut rinciannya.
- 9 Dzulhijjah (Arafah): Mulai setelah Subuh hingga akhir hari
- 10 Dzulhijjah (Idul Adha): Setelah setiap shalat, termasuk shalat Id
- 11-13 Dzulhijjah (Tasyrik): Dilanjutkan setelah sholat fardu/sunah hingga Asar hari ke-13
Bedanya Takbiran Idul Fitri dan Idul Adha
Mengenai batas akhir takbiran hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, keduanya memiliki perbedaan. Takbiran Idul Fitri dibatasi sampai khutbah sholat Idul Fitri. Ketentuan ini sesuai pendapat sahih dari Imam An-Nawawi.
Sementara batas akhir takbiran Idul Adha tidak hanya sampai sholat Idul Adha (10 Dzulhijjah), melainkan sampai hari tasyrik selesai (11, 12, 13 Dzulhijjah). Selama itu, takbir disunahkan tetap dikumandangkan setelah sholat fardu.
Hal ini juga dijelaskan dalam kitab Fathul Qarib, yang dikutip dari NU Online, bahwa takbiran disunahkan sejak malam harinya, bagi semua muslim di mana saja. Muhammad bin Qasim Al-Ghazi mengatakan:
"Disunahkan takbir bagi laki-laki dan perempuan, musafir dan mukim, baik yang sedang di rumah, jalan, masjid, ataupun pasar. Dimulai dari terbenam matahari pada malam hari raya berlanjut sampai shalat Idul Fitri. Tidak disunahkan takbir setelah shalat Idul Fitri atau pada malamnya, akan tetapi menurut An-Nawawi di dalam Al-Azkar hal ini tetap disunahkan.
(irb/dpe)
