Musik Wasik Surabaya Jadi Surga Pecinta Kaset dan Piringan Hitam

Musik Wasik Surabaya Jadi Surga Pecinta Kaset dan Piringan Hitam

Chilyah Auliya - detikJatim
Minggu, 17 Mei 2026 23:00 WIB
Musik Wasik Surabaya
Musik Wasik Surabaya (Foto: Chilyah Auliya/detikJatim)
Surabaya -

Di tengah dominasi platform streaming musik, sebuah toko rilisan fisik di Surabaya justru menarik perhatian pecinta musik. Musik Wasik Store hadir sebagai ruang alternatif bagi kolektor hingga generasi muda yang ingin merasakan pengalaman mendengarkan musik secara analog.

Toko yang merupakan akronim dari 'Warung Klasik' ini menyediakan berbagai rilisan fisik seperti kaset pita, CD, hingga piringan hitam (vinyl). Pengunjung juga dapat mencoba langsung perangkat pemutar musik era 1980-an hingga 1990-an.

Shopkeeper Musik Wasik Store, Tyo Sujadmiko, mengatakan toko fisik tersebut baru beroperasi sekitar tujuh hingga delapan bulan, meski bisnisnya sudah dirintis sejak masa pandemi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sebenarnya kata 'Wasik' itu kepanjangannya Warung Klasik. Owner-nya memang suka tentang barang-barang klasik atau vintage stuff seperti itu. Tapi kalau Musik Wasik Store sendiri itu lebih ingin menjadi tempat, ya toko juga dan tempat untuk teman-teman yang belum pernah merasakan experience analog musik boleh datang. Putar kaset, putar CD, bahkan piringan hitam boleh," ujar Tyo kepada detikJatim, Minggu (17/5/2026).

ADVERTISEMENT

Selain berfungsi sebagai toko, Musik Wasik juga menjadi tempat nongkrong bagi komunitas pecinta musik analog. Pengunjung diberi kebebasan untuk mencoba koleksi yang tersedia.

"Ya, silahkan datang, putar, ya experience-lah. Kalian merasakan langsung," tambahnya.

Koleksi yang ditawarkan cukup beragam, dengan harga kaset mulai Rp 35 ribu hingga piringan hitam yang mencapai Rp 600 ribu. Seluruh barang diklaim asli karena melalui proses kurasi kolektor hingga lelang.

Musik Wasik SurabayaMusik Wasik Surabaya Foto: Chilyah Auliya/detikJatim

"Beberapa datang dari orang yang menawarkan, tapi kebanyakan koleksi pribadi. Mungkin owner-nya bosan, pengen ganti hobi, dijual. Nyari di kolektor juga biar legit aja barangnya. Otentiknya terjaminlah," jelasnya.

Di tengah perkembangan teknologi digital, Tyo menilai rilisan fisik tetap memiliki nilai lebih dari sisi pengalaman dan kedekatan emosional.

"Jadi kalau dibilang, ya sudah, semua punya kolamnya masing-masing. Saya pun juga masih dengerin kalau mau nyari referensi atau nyari musik kayak penasaran sama musik-musik sekarang, ya saya nyarinya di digital platform, mau enggak mau. Setelah itu kalau cocok, biasanya nyari rilisan fisiknya. Soalnya musisi sekarang pun juga masih produksi kaset, produksi piringan hitam juga," paparnya.

Meski lokasinya tergolong tersembunyi, Musik Wasik justru kerap dikunjungi berbagai kalangan, termasuk pelajar hingga wisatawan mancanegara.

"Walau hidden gem, herannya banyak anak sekolah yang mungkin mampir ke Pos Bloc jadi melipir ke sini. Istimewanya mereka jauh dari Malaysia, Singapura, dan lain-lain. Toko musik sekarang semakin jarang, kan. Aku gak bilang di sini toko musik satu-satunya di Surabaya. Tapi aku emang gatau di mana yang proper bahkan bisa nongkrong di situ," bebernya.

Tyo menambahkan, pemilik toko tidak semata mengejar keuntungan, melainkan menjaga nilai koleksi dan keberlanjutan komunitas.

"Ownernya gak mau ikut arus dikit-dikit diskon, tapi ga naikin juga. Harga pasar aja. Asalkan ada standard, supaya value barang tidak turun. Intinya nongkrong aja dulu. Nanti kalau sudah familiar, sudah nyaman, bisnisnya akan jalan sendiri kok," pungkasnya.




(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads