Saat Distorsi Ketemu Religi, Cara Anak Metal Surabaya Perdalam Agama

Saat Distorsi Ketemu Religi, Cara Anak Metal Surabaya Perdalam Agama

Jemmi Purwodianto - detikJatim
Senin, 11 Mei 2026 09:45 WIB
Komunitas band metal mengikuti pengajian. Nuansa musik gothic berpadu dengan lirik Islami. Ini cara mereka belajar agama.
Komunitas band metal mengikuti pengajian. Nuansa musik gothic berpadu dengan lirik Islami. Ini cara mereka belajar agama. (Foto: Jemmi Purwodianto/detikJatim)
Surabaya -

Suasana sebuah warung kopi di kawasan Lidah Wetan, Surabaya, mendadak riuh namun khidmat. Bukan sekadar nongkrong biasa, puluhan pencinta musik gothic metal tampak berkumpul mengikuti pengajian bertajuk "Ngaji Lan Ngopi Bareng Gothic Metal".

Sekitar 80 peserta dari berbagai komunitas musik hadir dalam kegiatan rutin bulanan yang dipandu oleh Habib Muhammad Assegaf. Uniknya, diskusi keagamaan ini dibalut dengan penampilan cadas dari dua band gothic metal, yakni Innalillahi Gothic Metal dan Negatoria.

Bagi para musisi metal, momen ini menjadi ajang pembuktian bahwa musik ekstrem tidak selalu identik dengan hal negatif. Keyboardis Innalillahi Gothic Metal, Fredy Setyo Adi Wijaya, mengaku ini adalah pengalaman pertamanya memadukan distorsi musik dengan pengajian.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini kali pertama saya hadir dalam pengajian sekaligus memainkan musik gothic. Menjadi pengalaman yang tidak terlupakan dan kesempatan untuk meluruskan stigma masyarakat yang selama ini memandang musik gothic negatif," kata Fredy, Minggu (10/5/2026).

Fredy menjelaskan bahwa lirik yang mereka usung sebenarnya penuh dengan pesan spiritual, mulai dari refleksi kematian hingga ketuhanan.

ADVERTISEMENT

"Ada lagu kami berjudul Tuhan Tak Akan Pernah Mati. Lagu itu menceritakan bahwa selain Tuhan, semuanya akan musnah pada akhirnya. Jadi manusia jangan sampai terlena dengan urusan duniawi," tambahnya.

Komunitas band metal mengikuti pengajian. Nuansa musik gothic berpadu dengan lirik Islami. Ini cara mereka belajar agama.Komunitas band metal mengikuti pengajian. Nuansa musik gothic berpadu dengan lirik Islami. Ini cara mereka belajar agama. (Foto: Jemmi Purwodianto/detikJatim)

Hal senada diungkapkan Andi Wahyudi, personel band Negatoria. Menurutnya, banyak masyarakat yang belum memahami bahwa musik underground bisa menjadi media penyampaian pesan moral dan kritik sosial yang religius.

"Beberapa lagu kami juga menceritakan tentang akhir alam semesta dan keserakahan penguasa. Namun pesan itu kami sampaikan lewat musik underground yang mungkin belum dipahami semua kalangan," ujar Andi.

Fredy dan Andi pun berencana membawa semangat ini lebih jauh dengan mengajak komunitas mereka sendiri untuk lebih memperdalam ilmu agama sebagai bekal kehidupan.

Habib Muhammad Assegaf, sang pemandu pengajian menegaskan bahwa dakwah harus menyentuh semua kalangan tanpa memandang latar belakang komunitas maupun penampilan luar.

"Semua punya hak untuk belajar agama. Kami ingin menciptakan ruang yang nyaman, santai, dan penuh persaudaraan. Salah satunya dengan merangkul komunitas musik seperti ini," ujar Habib Muhammad.

Ia menambahkan, pendekatan melalui hobi jauh lebih efektif untuk menanamkan kecintaan kepada Allah dan Rasulullah bagi anak-anak muda.

"Bagaimanapun, semua orang punya hak belajar agama. Dan kita bisa mengajak mereka lewat hal yang mereka sukai dengan menyisipkan kecintaan kepada Allah dan Rasulullah," pungkasnya.




(irb/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads