Cara Mudah Mengenali Makanan Menggunakan Minyak Babi

Cara Mudah Mengenali Makanan Menggunakan Minyak Babi

Jihan Navira - detikJatim
Rabu, 13 Mei 2026 03:00 WIB
Ciri-ciri makanan mengandung minyak babi.
Ciri-ciri makanan mengandung minyak babi. Foto: jcomp/Freepik
Surabaya -

Tidak sedikit orang yang sebenarnya sulit membedakan makanan yang dimasak menggunakan minyak babi dengan minyak biasa. Apalagi secara tampilan, banyak makanan tetap terlihat normal, menggugah selera, bahkan tidak memiliki aroma yang terlalu mencolok.

Karena itu, sebagian konsumen baru menyadari setelah mengetahui bahan atau proses memasaknya secara langsung. Padahal, minyak babi atau lard memang cukup sering digunakan dalam dunia kuliner karena dianggap mampu membuat makanan lebih gurih, renyah, dan harum.

Mulai dari pastry, gorengan, hingga beberapa jenis bakmi dan makanan panggang, penggunaan lard masih cukup umum ditemukan. Karena itu, penting mengetahui ciri-ciri makanan yang kemungkinan menggunakan minyak babi agar bisa lebih teliti sebelum membeli atau mengonsumsinya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apa Itu Minyak Babi?

Minyak babi atau lard memang sudah lama digunakan dalam dunia kuliner. Lemak ini dianggap mampu meningkatkan cita rasa makanan, membuat lebih renyah, sekaligus menghasilkan aroma yang lebih menggoda.

Menurut Oxford Dictionary, minyak babi merupakan lemak dari bagian perut babi yang diproses dan dimurnikan untuk digunakan dalam memasak. Sementara Cambridge Dictionary menyebutnya sebagai bahan berwarna putih krem yang berasal dari lemak babi dan umum dipakai untuk memasak maupun memanggang.

ADVERTISEMENT

Secara bentuk, minyak babi biasanya memiliki tekstur lembut seperti mentega dengan warna putih pucat. Dalam suhu ruang, minyak babi cenderung berbentuk padat dan buram. Namun, ketika dipanaskan, lemak tersebut akan berubah menjadi cairan bening.

Dilansir dari Bergfeld et al. (2017), minyak babi berasal dari lemak bagian tubuh babi seperti perut, bahu, hingga bokong yang kemudian diproses melalui metode pelelehan lemak.

Dalam jurnal "Analisis Minyak Babi Pada Krim Pelembab Wajah yang Mengandung Minyak Zaitun dengan Menggunakan Spektroskopi Fourier Transform Infrared (FTIR)" karya Putri Assifa, minyak babi memiliki kandungan trigliserida lebih rendah dibanding lemak sapi. Kandungan asam lemak utama dalam minyak babi terdiri dari asam palmitat, asam oleat, dan asam stearat.

Kenapa Minyak Babi Masih Dipakai Memasak?

Dalam dunia kuliner, minyak babi dianggap memiliki kemampuan khusus yang sulit digantikan minyak biasa. Biasanya minyak babi digunakan pada pastry atau makanan panggang karena hasil akhirnya membuat adonan jadi lebih berlapis, renyah, tapi tetap lembut.

Minyak babi juga memiliki titik asap tinggi. Artinya, minyak ini cocok untuk teknik memasak suhu tinggi seperti deep frying, shallow frying, memanggang, hingga menumis. Minyak babi biasanya digunakan untuk pastry, pie, bakmi, Chinese food, gorengan, hingga beberapa makanan viral yang terkenal sangat gurih.

Alasan Minyak Babi Masih Sering Digunakan

Melansir jurnal "Halal Concerns on Lard in Food Products and its Detection Methods"oleh Masyitah Binti Nizar dkk, selain dianggap mampu membuat makanan lebih gurih dan renyah, faktor harga juga menjadi alasan minyak babi masih dipakai dalam industri makanan.

Dibanding beberapa jenis minyak konsumsi lain, harga minyak babi relatif lebih murah. Karena alasan itu, minyak babi tidak hanya digunakan pada makanan rumahan, tetapi pada sejumlah produk olahan, pastry, hingga makanan siap saji tertentu.

Apalagi karakter minyak babi yang stabil saat dipanaskan membuatnya dinilai lebih efisien untuk proses memasak dalam jumlah besar. Namun, di sisi lain, penggunaan minyak babi tetap menjadi perhatian bagi banyak konsumen.

Dalam ajaran Islam dan Yahudi misalnya, kandungan minyak dalam makanan termasuk bahan yang dilarang untuk dikonsumsi. Karena itu, transparansi bahan baku menjadi hal penting, terutama pada produk makanan yang dijual luas ke masyarakat.

Selain berkaitan dengan aspek agama, konsumsi minyak babi juga kerap dikaitkan dengan faktor kesehatan. Walaupun minyak babi dianggap memiliki beberapa kelebihan dibanding mentega, kandungan lemak jenuhnya tetap perlu diperhatikan karena jika dikonsumsi berlebihan dapat berdampak pada kesehatan tubuh.

Kandungan lemak jenuh dalam minyak babi dapat meningkatkan kadar low-density lipoprotein (LDL) atau kolesterol jahat, sekaligus menurunkan high-density lipoprotein (HDL) atau kolesterol baik. Kondisi ini dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, hipertensi, diabetes, hingga obesitas.

Ciri Makanan Mengandung Minyak Babi

Makanan yang menggunakan minyak babi sebenarnya bisa dikenali dari beberapa karakteristik. Meski memang tidak selalu mudah, ada sejumlah tanda yang cukup sering muncul pada makanan yang dimasak menggunakan lard. Dilansir dari HuffPost, berikut ciri makanan mengandung minyak babi.

1. Tekstur Makanan Biasanya Lebih Renyah

Salah satu ciri paling umum adalah teksturnya yang terasa lebih crispy. Makanan yang digoreng menggunakan minyak babi biasanya lebih renyah dan lebih tahan lama dibanding minyak biasa.

Hal ini terjadi karena minyak babi memiliki titik asap tinggi sehingga cocok dipakai untuk proses deep fry sehingga makanan terasa garing di luar tetapi tetap lembut di bagian dalam. Karena itu, minyak babi cukup sering dipakai pada gorengan, ayam crispy, pastry, pie, hingga beberapa jenis camilan.

2. Aroma Gurihnya Cenderung Lebih Khas

Aroma makanan yang memakai minyak babi biasanya memiliki aroma gurih yang lebih "berat" dan khas. Meski begitu, aroma minyak babi tidak selalu menyengat seperti daging babi.

Pada beberapa makanan, aromanya justru terasa lembut dan menyatu dengan bumbu masakan. Inilah yang sering kali membuat orang tidak sadar jika makanan yang dikonsumsi ternyata dimasak menggunakan minyak babi.

3. Tampilan Makanan Lebih Berminyak dan Mengilap

Makanan yang menggunakan minyak babi cenderung terlihat lebih mengilap. Bada bakmi atau nasi goreng misalnya, lapisan minyak terlihat lebih jelas di permukaan makanan.

Sementara pada pastry, teksturnya tampak berlapis, rapuh, dan flaky. Namun, tampilan ini tetap tidak bisa dijadikan patokan mutlak karena penggunaan butter atau minyak biasa juga bisa menghasilkan efek serupa.

Cara Paling Aman Memastikan Makanan Mengandung Minyak Babi atau Tidak

Jika masih ragu, cara paling aman adalah bertanya langsung kepada penjual atau melihat komposisi bahan makanan. Penting juga untuk mengetahui beberapa istilah yang perlu diperhatikan pada label makanan antara lain sebagai berikut.

  • Lard
  • Pork fat
  • Pork oil
  • Shortening hewani
  • Minyak babi

Hal ini penting terutama saat membeli jenis makanan seperti makanan impor, frozen food, pastry, serta makanan viral yang belum memiliki label halal yang jelas. Selain itu, memilih tempat makan bersertifikat halal juga menjadi langkah aman untuk memastikan bahan dan proses memasaknya sudah diperiksa.

Di tengah tren kuliner yang semakin beragam, konsumen memang perlu lebih teliti terhadap bahan makanan yang digunakan. Apalagi penggunaan minyak babi tidak selalu terlihat jelas dari tampilan luar makanan.

Karena itu, memahami ciri-ciri makanan yang kemungkinan memakai minyak babi bisa membantu untuk lebih hati-hati sebelum membeli atau mengonsumsi makanan tertentu.




(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads