Hantavirus Merebak, Pakar Soroti Pentingnya Pendekatan One Health

Hantavirus Merebak, Pakar Soroti Pentingnya Pendekatan One Health

Allysa Salsabillah Dwi Gayatri - detikJatim
Senin, 11 Mei 2026 23:15 WIB
IDAI Minta Masyarakat Tak Cemas soal Hantavirus, Difteri dan Campak Dinilai Lebih Mendesak
Ilustrasi Hantavirus (Foto: Getty Images/kemalbas)
Surabaya -

Merebaknya kasus dugaan hantavirus kembali menjadi perhatian. Pakar Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Laura Navika Yamani, mengingatkan pentingnya pendekatan One Health dalam menghadapi ancaman penyakit zoonosis tersebut.

Pendekatan One Health mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan untuk memperkuat deteksi dini hingga pencegahan penyebaran penyakit. Menurut Laura, penguatan sanitasi, surveilans kesehatan, pemantauan gejala, hingga komunikasi risiko yang efektif menjadi langkah penting dalam mencegah penyebaran.

"Dalam era mobilitas global yang semakin tinggi, kesiapsiagaan sistem kesehatan dan deteksi dini sangat diperlukan untuk mencegah eskalasi kasus serupa di masa depan," jelas Laura dalam keterangannya, Senin (11/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pernyataan itu disampaikan menyusul kemunculan klaster dugaan hantavirus di kapal pesiar MV Hondius. Sejumlah penumpang dilaporkan mengalami gangguan pernapasan berat selama pelayaran lintas negara.

ADVERTISEMENT

Laura menjelaskan, hantavirus umumnya tidak muncul secara tiba-tiba di lingkungan tertutup seperti kapal pesiar. Ia menilai kemungkinan paparan terjadi sebelum perjalanan atau saat berada di wilayah dengan reservoir hewan pengerat.

"Masa inkubasi hantavirus dapat berlangsung beberapa minggu. Sehingga kasus baru dapat muncul ketika individu sudah berpindah lokasi," ujarnya.

Mobilitas lintas negara, khususnya dalam perjalanan laut, disebut berpotensi memperluas jangkauan deteksi tanpa menunjukkan lokasi infeksi awal secara langsung.

Dari sisi penularan, Laura menyebut hantavirus dapat menyebar melalui paparan artikel dari urin, feses, atau air liur hewan pengerat yang terinfeksi. Penularan terjadi melalui inhalasi partikel yang terkontaminasi dan tidak selalu membutuhkan kontak langsung.

Ia menuturkan sebagian besar hantavirus tidak menunjukkan transmisi antar manusia. Namun, beberapa stain tertentu seperti Andres virus mempunyai kemampuan terbatas untuk menular antarmanusia. Oleh karena itu, ia menilai bahwa investigasi epidemiologi dan analisis genomik tetap menjadi langkah penting untuk memastikan pola penularan yang terjadi.

Selain itu, perubahan lingkungan seperti perubahan iklim dan pergeseran habitat satwa, turut memengaruhi penyebaran reservoir penyakit.

"Aktivitas manusia di wilayah baru dan meningkatnya ekowisata memperbesar peluang kontak dengan sumber zoonosis yang sebelumnya terbatas di habitat tertentu," terangnya.

Laura juga menjelaskan gejala awal hantavirus cenderung tidak spesifik, seperti demam, kelelahan, dan gangguan gastrointestinal. Namun, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi pneumonia berat, kemudian berlanjut ke Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS), hingga syok. Pasien perlu mendapat penanganan intensif di fasilitas kesehatan apabila sudah pada fase tersebut.

Menurutnya, bentuk berat infeksi hantavirus yakni Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) memiliki tingkat fatalitas yang cukup tinggi.

"Pada kasus HPS, tingkat fatalitas dapat mencapai 30-50 persen. Terutama jika penanganan tidak dilakukan secara cepat," pungkasnya.




(auh/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads