Dinkes Surabaya Minta Warga Tak Panik Hantavirus: Bukan Penyakit Baru

Dinkes Surabaya Minta Warga Tak Panik Hantavirus: Bukan Penyakit Baru

Esti Widiyana - detikJatim
Minggu, 10 Mei 2026 14:00 WIB
Strips of newspaper with the words Hantavirus typed on them. Black and white. Close up.
Ilustrasi Hantavirus (Foto: Getty Images/Professor25)
Surabaya -

Kemenkes mencatat kasus hantavirus terdeteksi ada 23 kasus tersebar di sembilan provinsi. Hantavirus mendapat sorotan global ketika menyerang kapal pesiar mewah MV Hondius.

Dinkes Surabaya memastikan tidak ada kasus hantavirus di Kota Pahlawan. Meski begitu, Pemkot tetap melakukan antisipasi dan masyarakat diminta tidak panik, namun tetap waspada.

Kepala Dinkes Surabaya dr Billy Daniel Messakh mengatakan, hantavirus bukan penyakit baru, karena virus tersebut sudah lama dikenal di dunia medis. Penularannya diketahui berasal dari tikus, namun kasusnya bersifat sporadik sehingga belum menimbulkan lonjakan kasus seperti penyakit menular lainnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Hantavirus ini sebenarnya bukan penyakit baru. Sudah lama ada dan penularannya dari tikus. Sampai sekarang di Surabaya juga belum ada kasus yang terbukti positif," kata dr. Billy, Minggu (10/5/2026).

Ia menjelaskan, gejala hantavirus kerap menyerupai flu biasa atau common cold sehingga masyarakat diminta tetap waspada tanpa perlu merasa khawatir berlebihan. Langkah penting saat ini adalah memperkuat deteksi dini dan menjaga daya tahan tubuh.

ADVERTISEMENT

Sebagai bentuk antisipasi, Dinkes Surabaya mendorong pemeriksaan suhu tubuh di pintu masuk transportasi publik seperti bandara, pelabuhan, dan jalur transportasi darat kembali diaktifkan menggunakan alat pemindai suhu elektronik. Langkah itu dinilai penting untuk mendeteksi lebih dini masyarakat yang mengalami kondisi kesehatan tidak normal.

"Kalau ada yang terdeteksi suhu tubuhnya di atas normal, tentu harus segera dipantau atau dilakukan langkah pengawasan lebih lanjut," ujarnya.

Selain itu, masyarakat juga diimbau kembali menerapkan kebiasaan hidup sehat, mulai dari menjaga pola makan, istirahat cukup, hingga menggunakan masker saat berada di ruang tertutup atau keramaian.

Dokter Billy menyebut sejumlah negara di Eropa juga mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit menular dengan kembali menggunakan alat pelindung diri seperti saat Pandemi Covid-19.

Di sisi lain, hingga kini pemerintah daerah masih menunggu arahan teknis dari pemerintah pusat terkait mekanisme skrining hantavirus. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin disebut telah meminta panduan resmi kepada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terkait pelaksanaan skrining tersebut.

"Kami masih menunggu guidance dari Kementerian Kesehatan terkait screening. Namun Pemkot Surabaya tetap aktif berkoordinasi dan menyiapkan langkah antisipasi," jelasnya.

Masyarakat jug untuk membatasi aktivitas di luar rumah apabila tidak mendesak. Namun apabila harus beraktivitas, warga diminta tetap menjaga kebugaran tubuh dan menggunakan perlindungan diri.

"Yang paling penting masyarakat tetap menjaga daya tahan tubuh. Olahraga rutin, makan bergizi, dan kalau berada di keramaian atau ruang tertutup sebaiknya menggunakan masker," katanya.

Sementara bagi warga yang akan bepergian ke luar negeri, Dinkes Surabaya mengingatkan pentingnya melengkapi vaksinasi seperti meningitis, influenza, dan pneumonia sebagai perlindungan tambahan selama perjalanan.

"Vaksinasi tersebut juga dapat diakses masyarakat di RSUD Dr Soewandhie Surabaya. Untuk warga yang bepergian ke luar negeri, vaksinnya harus dilengkapi. Itu penting sebagai perlindungan," pungkasnya.




(ihc/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads