- Kronologi Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar MV Hondius
- Tiga Orang Tewas dan Sejumlah Penumpang Diduga Terinfeksi
- WHO: Hantavirus Tidak Menular Semudah COVID-19
- Apa Perbedaan Hantavirus dan COVID-19?
- Mengapa Kapal Pesiar Rentan Jadi Lokasi Penyebaran Wabah?
- Penumpang Akan Dikarantina Setelah Tiba di Spanyol
- WHO Masih Melacak Kontak Penumpang di Berbagai Negara
Kepanikan sempat menyelimuti kapal pesiar mewah MV Hondius setelah wabah hantavirus menyebabkan tiga penumpang meninggal dunia dan ratusan orang harus menjalani pemantauan kesehatan. Situasi ini langsung memicu kekhawatiran publik karena kasusnya mengingatkan banyak orang pada awal pandemi COVID-19, apalagi wabah terjadi di ruang tertutup seperti kapal pesiar.
Namun, WHO menegaskan bahwa hantavirus tidak menular semudah COVID-19. Virus ini disebut membutuhkan kontak fisik yang sangat dekat untuk bisa berpindah antarmanusia. Meski begitu, otoritas kesehatan internasional tetap menerapkan pengawasan ketat karena masa inkubasi hantavirus bisa berlangsung cukup lama hingga 45 hari.
Kronologi Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar MV Hondius
Kapal pesiar MV Hondius sempat terombang-ambing di lepas pantai Tanjung Verde setelah muncul dugaan wabah hantavirus di atas kapal. Kapal tersebut membawa hampir 150 orang penumpang dan kru.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada Rabu (6/5/2026) waktu setempat, kapal akhirnya diberangkatkan menuju Tenerife, Kepulauan Canary, Spanyol. Menteri Kesehatan Spanyol, Monica Garcia, mengatakan kapal diperkirakan tiba dalam waktu tiga hari.
Meski situasi di atas kapal cukup serius, penumpang yang masih berada di kapal disebut belum menunjukkan gejala baru. Kondisi ini sedikit meredakan kekhawatiran otoritas kesehatan internasional.
Tiga Orang Tewas dan Sejumlah Penumpang Diduga Terinfeksi
Hingga kini, wabah tersebut telah menyebabkan tiga korban meninggal dunia, yakni pasangan suami istri asal Belanda dan seorang warga negara Jerman.
WHO mengidentifikasi sedikitnya delapan orang diduga terpapar hantavirus. Tiga kasus di antaranya telah dikonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium, termasuk seorang warga Swiss yang kini menjalani perawatan di Zurich.
Kasus ini menjadi perhatian internasional karena dugaan virus yang terlibat merupakan varian Andes hantavirus, salah satu jenis hantavirus yang diketahui dapat menular antarmanusia dalam kondisi tertentu.
WHO: Hantavirus Tidak Menular Semudah COVID-19
Direktur Manajemen Epidemi dan Pandemi WHO, Maria Van Kerkhove, menegaskan bahwa risiko penularan hantavirus ke masyarakat luas masih tergolong rendah.
Dalam keterangannya kepada Reuters, Van Kerkhove menjelaskan bahwa penularan antarmanusia hanya terjadi melalui kontak yang sangat dekat.
"Ketika kami menyebut 'kontak dekat' untuk penularan antarmanusia, yang kami maksud adalah kontak fisik yang sangat, sangat dekat. Misalnya berbagi kamar tidur, berbagi kabin, atau memberikan perawatan medis langsung. Ini sangat, sangat berbeda dengan COVID dan sangat berbeda dengan influenza," ujar Maria Van Kerkhove kepada Reuters.
Pernyataan tersebut sekaligus menjawab kekhawatiran publik yang sempat takut hantavirus akan berkembang menjadi pandemi baru seperti COVID-19.
Apa Perbedaan Hantavirus dan COVID-19?
Berbeda dengan COVID-19 yang dapat menyebar melalui udara dalam interaksi sosial biasa, hantavirus varian Andes membutuhkan kontak intens dan berkepanjangan untuk berpindah dari satu orang ke orang lain.
COVID-19 dikenal sangat mudah menyebar di ruangan tertutup melalui droplet maupun airborne transmission. Sementara pada hantavirus, risiko penularan tertinggi justru terjadi ketika seseorang melakukan kontak langsung dengan cairan tubuh penderita atau berada dalam jarak sangat dekat dalam waktu lama.
Inilah alasan WHO menyebut risiko wabah global dari kasus ini masih jauh lebih rendah dibanding COVID-19.
Mengapa Kapal Pesiar Rentan Jadi Lokasi Penyebaran Wabah?
Kapal pesiar sejak lama dikenal sebagai lokasi yang rentan menjadi tempat penyebaran penyakit menular. Lingkungan tertutup, penggunaan fasilitas bersama, serta interaksi intens antarpenumpang membuat virus lebih mudah terdeteksi menyebar di area kapal.
Meski begitu, dalam kasus hantavirus ini, WHO menilai penularan tidak terjadi secara masif seperti wabah COVID-19 di kapal pesiar beberapa tahun lalu.
Para penumpang juga dilaporkan tetap menjaga suasana tetap kondusif selama masa isolasi di kapal. Kasem Hato, salah satu penumpang, mengatakan kapten kapal terus memberikan pembaruan informasi secara transparan kepada seluruh penumpang.
"Orang-orang menanggapi situasi ini dengan serius tetapi tanpa kepanikan. Kami mencoba menjaga jarak sosial dan mengenakan masker agar tetap aman. Hari-hari kami berjalan hampir normal; kami menyibukkan diri dengan membaca, menonton film, dan minum minuman hangat. Semangat di atas kapal tetap tinggi," ungkap Hato.
Penumpang Akan Dikarantina Setelah Tiba di Spanyol
Pemerintah Spanyol telah menyiapkan prosedur khusus begitu kapal tiba di Tenerife.
Warga negara non-Spanyol yang dinyatakan sehat akan menjalani proses repatriasi. Sementara itu, 14 warga negara Spanyol akan dikarantina di rumah sakit militer di Madrid.
Menurut Menteri Kesehatan Spanyol Monica Garcia, durasi karantina akan disesuaikan dengan waktu terakhir kontak terhadap virus karena masa inkubasi hantavirus dapat mencapai 45 hari.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan tidak ada kasus baru yang lolos dari pengawasan kesehatan.
WHO Masih Melacak Kontak Penumpang di Berbagai Negara
WHO kini bekerja sama dengan sejumlah negara untuk melacak penumpang yang sebelumnya sempat turun di Pulau Saint Helena sebelum kapal mencapai Tanjung Verde.
Di Afrika Selatan, sebanyak 65 orang yang sempat melakukan kontak dengan pasien telah diidentifikasi untuk pemantauan kesehatan lanjutan. Selain itu, ada 12 orang lain di berbagai negara yang juga masuk daftar pemantauan.
Pelacakan ini dilakukan sebagai langkah antisipasi untuk mencegah kemungkinan penularan lanjutan.
Meski WHO memastikan hantavirus tidak menular semudah COVID-19, kasus wabah di kapal pesiar MV Hondius tetap menjadi pengingat bahwa penyakit zoonosis masih perlu diwaspadai. Terlebih, mobilitas internasional dan ruang tertutup seperti kapal pesiar bisa meningkatkan risiko penyebaran penyakit jika tidak ditangani cepat.
Karena itu, penting bagi masyarakat untuk memahami cara penularan, gejala, dan langkah pencegahan hantavirus agar tidak mudah termakan kepanikan maupun informasi menyesatkan. Ikuti terus perkembangan informasi kesehatan terbaru dari sumber resmi agar tetap aman dan tidak salah memahami risiko sebenarnya.
(ihc/dpe)
