Berusia 208 Tahun, Rumah Indis di Jabon Sidoarjo Masih Kokoh

Berusia 208 Tahun, Rumah Indis di Jabon Sidoarjo Masih Kokoh

Suparno - detikJatim
Kamis, 07 Mei 2026 19:50 WIB
Rumah di Jabon Sidoarjo yang berdiri sejak tahun 1818
Rumah di Jabon Sidoarjo yang berdiri sejak tahun 1818 (Foto: Suparno/detikJatim)
Sidoarjo -

Sebuah rumah bergaya Indis peninggalan era kolonial Belanda yang diperkirakan berusia 208 tahun masih berdiri kokoh di Dusun Kauman, Desa Kedungcangkring, Kecamatan Jabon, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

Rumah tersebut memiliki penanda tahun 1818 yang masih terlihat jelas pada bagian bangunan. Keberadaan rumah ini menjadi salah satu bukti bahwa kawasan Kedungcangkring telah berkembang sejak lebih dari dua abad lalu.

Ketua RW 01 Dusun Kauman, H. Nurkholis, mengatakan kawasan tersebut menyimpan banyak bangunan tua yang hingga kini masih dihuni oleh keturunan pemilik aslinya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Di lingkungan RW 01 ini ada sekitar 60 hingga 70 rumah peninggalan zaman kolonial Belanda. Sampai sekarang masih berdiri kokoh dan ditempati ahli warisnya," kata Nurkholis saat ditemui detikJatim, Kamis (7/5/2026).

Menurut dia, rata-rata penghuni rumah-rumah tua itu kini merupakan generasi ketiga hingga keempat. Salah satu rumah tertua yang dibangun pada 1818 bahkan kini hanya ditempati satu orang keturunan generasi keempat.

ADVERTISEMENT

"Kondisinya masih asli, hanya atap dan genteng yang pernah diganti karena termakan usia dan sempat ambruk," ujarnya.

Selain rumah tahun 1818, di kawasan tersebut juga ditemukan sejumlah bangunan dengan penanda tahun lain seperti 1903, 1915, 1919, dan 1931. Ciri khas arsitektur kolonial tampak dari bentuk pintu dan jendela yang tinggi serta memanjang.

Nurkholis menjelaskan, Dusun Kauman dahulu dikenal sebagai pusat perdagangan batik yang maju di wilayah Sidoarjo bagian timur. Banyak pedagang dari luar daerah hingga mancanegara datang ke kawasan itu untuk membeli kain batik produksi warga setempat.

"Dulu cerita dari nenek moyang banyak tamu dari Cina dan Arab datang ke sini untuk belanja batik. Produk sini dikenal sebagai Batik Kedungcangkring," ucapnya.

Ia menambahkan, di wilayah itu juga pernah berdiri perserikatan dagang pengusaha pribumi, termasuk Sarekat Dagang Islam. Jejak sejarah tersebut disebut masih terlihat pada salah satu rumah tua melalui ukiran dan kaca grafis berlambang Sarekat Islam.

Tak hanya dikenal sebagai sentra batik, kawasan Kedungcangkring juga memiliki sejarah penting dalam sektor pertanian tebu pada masa kolonial. Jalur air di wilayah tersebut dibuat terstruktur untuk mendukung irigasi sekaligus operasional Pabrik Gula Porong.

"Sampai sekarang masih ada rumah pompa air tahun 1920 di depan pintu masuk kampung," katanya.

Menurut Nurkholis, kawasan rumah-rumah tua di Dusun Kauman kini kerap dikunjungi komunitas pecinta bangunan kuno, instansi pemerintah, hingga lembaga resmi untuk kepentingan edukasi dan pendataan cagar budaya.

"Hampir setiap bulan ada tamu yang datang. Minggu lalu juga ada dari Pemprov dan Kementerian Pariwisata yang melakukan penelusuran bangunan bersejarah," ujarnya.

Warga berharap deretan rumah kuno di Dusun Kauman dapat terus dilestarikan sebagai warisan sejarah sekaligus pengingat kejayaan ekonomi batik di masa lampau.




(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads