Mabit di Mina merupakan salah satu rangkaian penting dalam ibadah haji yang dilakukan setelah jemaah menunaikan wukuf di Arafah. Dalam praktiknya, mabit tidak hanya dilakukan di Mina, tetapi juga diawali di Muzdalifah sebagai bagian dari rangkaian manasik haji.
Secara bahasa, mabit berarti bermalam atau menginap. Dalam konteks ibadah haji, mabit menjadi momen bagi jemaah untuk beristirahat sekaligus memperbanyak ibadah. Lalu, apa itu mabit di Mina dan bagaimana pelaksanaannya? Berikut penjelasan lengkapnya.
Mabit di Mina
Dikutip dari laman resmi Kementerian Agama, Mina merupakan lembah di kawasan padang pasir yang terletak sekitar 5 kilometer dari Kota Makkah, Arab Saudi, dan termasuk wilayah tanah haram. Mina juga dikenal dengan istilah Muna yang berarti harapan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di tempat inilah jemaah haji dianjurkan untuk memanjatkan doa serta menyampaikan berbagai harapan kepada Allah SWT. Selama berada di Mina, jemaah dianjurkan memperbanyak munajat, sebagaimana yang dicontohkan para nabi terdahulu.
Durasi Mabit di Mina
Pelaksanaan mabit di Mina menjadi salah satu rangkaian penting dalam ibadah haji yang perlu dipahami jemaah. Dikutip dari buku "Tuntunan Manasik Haji dan Umroh", durasi mabit di Mina terbagi menjadi dua tahap sebagai berikut.
1. Mabit Sebelum Wukuf (Hari Tarwiyah)
Mabit dilakukan pada 8 Dzulhijjah, yang dikenal sebagai hari tarwiyah. Hukumnya adalah sunah, karena Rasulullah SAW dan para sahabat melaksanakannya.
Jika tidak dilakukan, tidak mempengaruhi sah atau tidaknya ibadah haji dan tidak dikenakan dam. Namun, jemaah akan kehilangan keutamaan dari amalan tersebut.
2. Mabit Setelah Wukuf (Hari Tasyrik)
Mabit di Mina dilaksanakan kembali setelah wukuf di Arafah, yaitu pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah yang dikenal sebagai hari tasyrik.
Pada tahap ini, mabit di Mina hukumnya wajib, dengan ketentuan dilakukan pada sebagian besar malam atau lebih dari setengah malam.
Hukum Mabit di Mina
Mabit di Mina merupakan salah satu rangkaian penting dalam ibadah haji yang memiliki ketentuan hukum berbeda. Perbedaan ini bergantung pada waktu pelaksanaannya.
- Hari Tarwiyah 8 Dzulhijjah: Sunah
- Hari Tasyrik 11-13 Dzulhijjah: Wajib menurut Imam Malik, Imam Syafi'i, Imam Ahmad, dan Ibnu Hanbal
Dalam pelaksanaan ibadah haji, mabit di Mina pada hari tasyrik memiliki ketentuan yang harus dipenuhi. Apabila ditinggalkan, terdapat konsekuensi berupa dam yang wajib ditunaikan sebagai berikut.
- Tidak mabit 1 malam: wajib membayar 1 mud
- Tidak mabit 2 malam: wajib membayar 2 mud
- Tidak mabit 3 malam: wajib menyembelih seekor kambing
Namun, bagi jemaah yang memiliki uzur, seperti sakit, tidak mendapatkan tempat, atau sedang bertugas sebagai tenaga medis, diperbolehkan untuk tidak melaksanakan mabit.
Kapan Mabit di Mina?
Mabit di Mina dilaksanakan dua tahap, yakni sebelum dan setelah wukuf di Arafah. Berdasarkan Kalender Hijriah 2026 yang dikeluarkan Kementerian Agama, yang menetapkan 1 Dzulhijjah jatuh pada 18 Mei 2026, maka jadwal mabit di Mina adalah sebagai berikut.
- Hari Tarwiyah 8 Dzulhijjah: 25 Mei 2026
- Hari Tasyrik 11 Dzulhijjah: 28 Mei 2026
- Hari Tasyrik 12 Dzulhijjah: 29 Mei 2026
- Hari Tasyrik 13 Dzulhijjah: 30 Mei 2026
Meski begitu, penetapan resmi 1 Dzulhijjah 1447 Hijriah masih menunggu sidang isbat yang digelar Kemenag. Selain itu, pelaksanaan ibadah haji juga mengikuti keputusan pemerintah Arab Saudi.
Amalan Saat Mabit di Mina
Waktu mabit di Mina menjadi kesempatan berharga bagi jemaah haji untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Selama berada di sana, jemaah dianjurkan memperbanyak ibadah melalui berbagai amalan.
- Melaksanakan salat wajib lima waktu dengan cara qashar.
- Tidak melaksanakan salat rawatib, kecuali qabliyah Subuh.
- Tetap diperbolehkan melaksanakan salat sunah lainnya seperti salat malam dan Duha.
- Memperbanyak zikir.
- Membaca Al-Qur'an.
- Mengisi waktu dengan berbagai amalan yang mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Makna Spiritual Mabit di Mina
Mabit di Mina bukan sekadar bermalam, tetapi menjadi momen refleksi spiritual bagi jemaah haji. Di tempat ini, jemaah diajak untuk memperbanyak doa, memperkuat keimanan, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dengan memahami pengertian, hukum, dan amalan mabit di Mina, diharapkan jemaah dapat menjalankan ibadah haji dengan lebih khusyuk dan sesuai tuntunan.
Semoga penjelasan ini membantu memahami rangkaian ibadah haji, khususnya mabit di Mina, sehingga pelaksanaannya bisa lebih maksimal dan penuh makna.
(ihc/irb)











































