Kemarau 2026 di Jatim Lebih Kering, Tips Menghadapi Cuaca Terik!

Kemarau 2026 di Jatim Lebih Kering, Tips Menghadapi Cuaca Terik!

Jihan Navira - detikJatim
Minggu, 03 Mei 2026 01:00 WIB
Ilustrasi Kekeringan Musim Kemarau.
Ilustrasi Kekeringan Musim Kemarau. Foto: Chamika Jayasri/Unsplash
Surabaya -

Musim kemarau 2026 di Jawa Timur (Jatim) diprediksi akan lebih kering. Dari 74 Zona Musim (ZOM) di Jatim, sebagian besar wilayah diperkirakan mengalami kondisi kemarau dengan tingkat kekeringan di atas normal, dengan puncak musim terjadi pada Agustus 2026.

BMKG menjelaskan dinamika atmosfer dan lautan saat ini masih dipengaruhi fenomena El NiΓ±o-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) yang berada dalam kondisi netral hingga pertengahan 2026.

Namun, terdapat potensi penguatan El NiΓ±o ke kategori lemah hingga moderat dengan peluang sekitar 50-60 persen hingga akhir tahun 2026. Kondisi tersebut berpotensi membuat musim kemarau 2026 di Jatim berlangsung lebih kering dibandingkan kondisi normal pada tahun-tahun sebelumnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Awal Kemarau Mulai April-Mei 2026

Awal musim kemarau diperkirakan mulai terjadi pada Mei 2026 di 43 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 56,9 persen wilayah Jatim. Sementara itu, 26 ZOM diprediksi sudah memasuki musim kemarau lebih awal pada April 2026, dan lima ZOM lainnya pada Juni 2026.

Jika dibandingkan dengan kondisi normal periode 1991-2020, awal musim kemarau diperkirakan mundur di 36 ZOM atau sekitar 46,2 persen wilayah Jatim. Sebanyak 23 ZOM diprediksi sesuai dengan kondisi normal, sedangkan 15 ZOM lainnya justru lebih maju.

ADVERTISEMENT

BMKG juga memprediksi puncak musim kemarau 2026 akan dominan terjadi pada Agustus di 53 ZOM atau sekitar 70,9 persen wilayah Jatim. Sementara itu, puncak kemarau paling awal diperkirakan terjadi pada Juli di sekitar 15 persen wilayah. Berikut sebaran awal musim kemarau 2026 di Jawa Timur berdasarkan ZOM.

1. April 2026 (26 ZOM)

  • Bangkalan
  • Banyuwangi
  • Blitar
  • Bojonegoro
  • Bondowoso
  • Gresik
  • Jember
  • Kota Madiun
  • Kota Pasuruan
  • Kota Probolinggo
  • Lamongan
  • Lumajang
  • Madiun
  • Magetan
  • Malang
  • Nganjuk
  • Pacitan
  • Pamekasan
  • Pasuruan
  • Ponorogo
  • Probolinggo
  • Sampang
  • Situbondo
  • Sumenep
  • Trenggalek
  • Tuban

2. Mei 2026 (43 ZOM)

  • Bangkalan
  • Banyuwangi
  • Blitar
  • Bojonegoro
  • Bondowoso
  • Gresik
  • Jember
  • Jombang
  • Kediri
  • Kota Batu
  • Kota Blitar
  • Kota Kediri
  • Kota Madiun
  • Kota Malang
  • Kota Mojokerto
  • Kota Surabaya
  • Lamongan
  • Lumajang
  • Madiun
  • Magetan
  • Malang
  • Mojokerto
  • Nganjuk
  • Ngawi
  • Pacitan
  • Pamekasan
  • Pasuruan
  • Ponorogo
  • Probolinggo
  • Sampang
  • Sidoarjo
  • Situbondo
  • Sumenep
  • Trenggalek
  • Tulungagung

3. Juni 2026 (5 ZOM)

  • Banyuwangi
  • Bondowoso
  • Lumajang
  • Malang
  • Trenggalek

Curah Hujan Normal, Durasi Kemarau Lebih Panjang

Dari sisi curah hujan, sifat hujan selama musim kemarau 2026 diprediksi berada pada kategori bawah normal di 56 ZOM atau sekitar 75,5 persen wilayah Jatim. Sementara itu, 18 ZOM lainnya diperkirakan berada pada kategori normal.

Selama periode kemarau tersebut, curah hujan diperkirakan berada pada kisaran 101-200 milimeter hingga lebih dari 500 milimeter di sejumlah wilayah. Selain itu, durasi musim kemarau juga diprediksi cukup panjang.

BMKG mencatat rentang terpanjang terjadi pada 22-24 dasarian di 20 ZOM atau sekitar 23 persen wilayah Jawa Timur. Kemudian, terdapat wilayah dengan durasi 19-21 dasarian di 27 ZOM serta 16-18 dasarian di 20 ZOM.

Waspada Kemarau Panjang di Wilayah Jatim

BMKG menyebut prediksi musim kemarau ini merupakan peringatan dini (early warning) yang diharapkan dapat dimanfaatkan para pemangku kepentingan untuk melakukan langkah antisipasi sejak dini (early action).

Oleh karena itu, BMKG mengimbau pemerintah daerah serta berbagai sektor untuk bersiap menghadapi potensi kemarau, terutama di wilayah yang diprediksi mengalami kondisi lebih kering dan berdurasi panjang.

Pada sektor pangan, petani disarankan menyesuaikan kalender tanam serta menggunakan varietas padi berumur pendek yang lebih tahan terhadap kondisi kering. Selain itu, pola tanam juga dapat dialihkan dari padi ke tanaman palawija untuk mengurangi risiko gagal panen.

Sementara itu, pada sektor sumber daya air, pemerintah daerah diminta memaksimalkan panen air pada akhir musim hujan 2025/2026 untuk mengisi waduk dan menjaga ketersediaan air bagi masyarakat, pembangkit listrik tenaga air, serta kebutuhan irigasi yang lebih efisien.

BMKG juga mengingatkan potensi dampak di sektor kebencanaan, terutama terkait berkurangnya ketersediaan air bersih untuk konsumsi masyarakat serta meningkatnya risiko kebakaran lahan dan hutan.

Di sisi lain, kondisi kemarau yang dipengaruhi fenomena El NiΓ±o juga dapat dimanfaatkan untuk diversifikasi ekonomi, seperti pengembangan budidaya hortikultura serta peningkatan produksi garam rakyat, guna menjaga pendapatan petani dan nelayan selama musim kemarau.

Tips Menghadapi Cuaca Terik di Musim Kemarau

Memasuki musim kemarau 2026 yang diprediksi BMKG lebih kering di sejumlah wilayah Jawa Timur, masyarakat diimbau untuk mulai mewaspadai dampak cuaca panas yang berpotensi meningkat.

Kondisi suhu yang lebih terik dapat berdampak pada kesehatan, ketersediaan air bersih, hingga aktivitas harian masyarakat. Karena itu, penting untuk melakukan langkah antisipasi sejak dini agar tetap nyaman dan aman beraktivitas di tengah cuaca panas.

  • Perbanyak minum air putih. Pastikan tubuh tetap terhidrasi dengan minum air secara rutin, meski tidak merasa haus.
  • Hindari aktivitas di luar ruangan saat siang hari. Usahakan mengurangi aktivitas berat pada pukul 10.00-15.00 saat suhu paling tinggi.
  • Gunakan pelindung diri. Pakai topi, payung, kacamata hitam, dan pakaian yang ringan serta berwarna cerah.
  • Gunakan tabir surya (sunscreen). Untuk melindungi kulit dari paparan sinar matahari langsung.
  • Perbanyak konsumsi buah dan sayur. Pilih makanan yang mengandung banyak air seperti semangka, melon, dan timun.
  • Pastikan ventilasi rumah baik. Buka jendela di pagi atau sore hari agar sirkulasi udara tetap lancar.
  • Hemat penggunaan air. Antisipasi potensi berkurangnya pasokan air bersih selama musim kemarau.




(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads