Makna, Aturan dan Tata Cara Lempar Jumrah Aqabah

Makna, Aturan dan Tata Cara Lempar Jumrah Aqabah

Salma Nisrina Fahriyyah - detikJatim
Jumat, 01 Mei 2026 20:00 WIB
Muslim pilgrims cast their stones at a pillar symbolising Satan, during the annual hajj pilgrimage in Mina, Saudi Arabia, June 6, 2025. REUTERS/Khaled Abdullah
Ilustrasi melempar jumrah. Foto: REUTERS/Khaled Abdullah
Surabaya -

Setiap orang pasti pernah menghadapi godaan, baik emosi, ego, atau hal-hal yang menjauhkan dari kebaikan. Dalam ibadah haji, hal ini disimbolkan lewat lempar jumrah yang dimulai dari jumrah aqabah.

Selain itu, pelaksanaannya juga punya aturan waktu, lokasi, dan konsekuensi jika ditinggalkan. Yuk, simak selengkapnya tentang lempar jumrah aqabah.

Apa Itu Jumrah Aqabah?

Dilansir detikHikmah, Wahbah Az-Zuhaili dalam Fiqih Islam wa Adilatuhu menjelaskan arti jumrah secara bahasa berasal dari kata ramyul jimaar atau melempar batu-batu kecil (kerikil). Dari segi syariat, jumrah berarti melempar kerikil pada waktu yang khusus dan di tempat yang khusus.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Melansir NU Online, melempar jumrah Aqabah adalah ibadah wajib dalam haji. Ini dilakukan sebagai bentuk simbol perlawanan terhadap setan yang termasuk perbuatan, godaan, dan sifat buruk. Jika ditinggalkan, ibadah haji tetap sah, tetapi jamaah wajib membayar dam (denda) berupa menyembelih seekor kambing.

ADVERTISEMENT

Jumrah aqabah berupa kolom beton besar yang terbelah menjadi tiga bagian, masing‑masing berbentuk dinding melingkar dengan celah untuk melempar batu sehingga jamaah bisa melempar dari tiga sisi sekaligus.

Ini juga adalah jumrah terjauh dari Mina, dan paling dekat dengan arah Makkah. Jadi, di sinilah lokasi pelemparan jumrah pertama yang dilakukan pada 10 Dzulhijah.

Aturan Melempar Jumrah

Jemaah tidak boleh meninggalkan Mina sebelum melempar jumrah ini kecuali dengan uzur syar'i, misalnya sedang sakit berat sehingga boleh diwakilkan orang lain. Pembadalan lempar jumrah diperbolehkan dalam fiqih.

Pembadalan lempar jumrah tidak mewajibkan jemaah haji lansia atau risti untuk membayar dam karena lontar jumrahnya tetap sah. Hanya saja, badal lempar jumrah disyaratkan agar melempar jumrah untuk dirinya terlebih dahulu.

Ψ₯Ψ°Ψ§ ΨΉΨ¬Ψ² ΨΉΩ† Ψ§Ω„Ψ±Ω…ΩŠ بنفسه Ψ₯Ω…Ψ§ Ω„Ω…Ψ±ΨΆ أو Ψ­Ψ¨Ψ³ أو ΨΉΨ°Ψ± Ω„Ω‡ Ψ£Ω† يسΨͺΩ†ΩŠΨ¨ Ω…Ω† ΩŠΨ±Ω…ΩŠ ΨΉΩ†Ω‡ Ω„ΩƒΩ† Ω„Ψ§ يءح Ψ±Ω…ΩŠ Ψ§Ω„Ω†Ψ§Ψ¦Ψ¨ ΨΉΩ† Ψ§Ω„Ω…Ψ³ΨͺΩ†ΩŠΨ¨ Ψ₯Ω„Ψ§ Ψ¨ΨΉΨ― Ψ±Ω…ΩŠ Ψ§Ω„Ω†Ψ§Ψ¦Ψ¨ ΨΉΩ† نفسه

Artinya: Bila seseorang tidak sanggup melontar sendiri karena sakit, tertahan, atau uzur, maka ia boleh meminta orang lain membadalkannya untuk melontar. Tetapi lontaran orang yang membadalkannya tidak sah kecuali setelah ia melontar untuk dirinya sendiri. (Taqiyuddin Al-Hishni, Kifayatul Akhyar, [Beirut, Darul Fikr: 1994 M/1414 H], juz I, halaman 182).

Kenapa Lempar Jumrah 3 Kali?

Melempar jumrah dilakukan selama 3-4 hari, yaitu pada 10, 11, 12, dan 13 Dzulhijah dengan total tujuh kali lemparan kerikil per jumrah. Pada 10 Zulhijah, hanya melempar jumrah aqabah (7 kali).

Pada hari Tasyrik (11, 12, 13 Zulhijah), melempar 3 jumrah (Ula, Wustha, Aqabah) masing-masing 7 kali, total 21 kali per hari. Urutan lemparan jumrah ini dipercaya melambangkan mengusir tiga godaan setan yang dialami Nabi Ibrahim ketika akan menyembelih putranya Ismail.

Ketika Ibrahim berjalan dari Arafah menuju Mina dan ke tempat penyembelihan, Iblis muncul tiga kali di tempat berbeda untuk menggoda beliau agar membatalkan perintah Allah SWT.

Akan tetapi, karena iman Nabi Ibrahim sangat kuat, Nabi Ibrahim kemudian melempari setan itu dengan tujuh batu kerikil di jumrah aqabah, yang letaknya paling dekat dengan Ka'bah.

Lalu, setan tersebut datang lagi untuk menggoda di jumrah wustha. Kali ini Nabi Ibrahim kembali melempari batu kerikil kepada setan itu. Dan, terakhir setan itu datang di jumrah sughra. Nabi Ibrahim pun mengusirnya kembali dengan tujuh lemparan kerikil. Akhirnya, setan itu tidak kembali lagi.

Urutan Melempar Jumrah

Urutan melempar jumrah menjadi salah satu rangkaian penting dalam pelaksanaan ibadah haji, khususnya saat berada di Mina. Agar ibadah berjalan sah dan tertib, jemaah perlu memahami urutan yang benar sesuai tuntunan syariat.

1. Jumrah Aqabah

Pada 10 Dzulhijjah, jemaah haji melempar jumrah aqabah sebanyak tujuh kali dengan batu kerikil sebesar kelereng. Waktu yang baik untuk mengamalkan lempar jumrah ini adalah pada waktu Duha, sekitar pukul 8-10. Adapun lafaz yang bisa dibaca saat melempar jumrah.

Ψ§Ω„Ω„ΩŽΩ‘Ω‡Ω Ψ£ΩŽΩƒΩ’Ψ¨ΩŽΨ±ΩΨŒ Ψ§Ω„Ω„ΩŽΩ‘Ω‡Ω Ψ£ΩŽΩƒΩ’Ψ¨ΩŽΨ±ΩΨŒ Ψ§Ω„Ω„ΩŽΩ‘Ω‡Ω Ψ£ΩŽΩƒΩ’Ψ¨ΩŽΨ±Ω ΩƒΩŽΨ¨ΩΩŠΨ±Ω‹Ψ§

Bacaan Latin: Allahu akbar, allahu akbar, allahu akbar kabiira.

Artinya: Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar dengan sebesar besar-Nya.

Selain takbir, ada juga bacaan tambahan, yakni mengucapkan doa berikut.

Ψ§Ω„Ω„Ω‘Ω‡ΩΩ…Ω‘ΩŽ Ψ§Ψ¬Ω’ΨΉΩŽΩ„Ω’ Ψ­ΩŽΨ¬ΩŽΩ‰ Ω…ΩŽΨ¨Ω’Ψ±ΩΩˆΨ±Ω‹Ψ§

Bacaan Latin: Allahummaj'al hajjana hajjan mabruura.

Artinya: Ya Allah, jadikanlah haji yang mabrur.

2. Jumrah Sughra, Wustha dan 'Aqabah

Jumrah sughra (ula), jumrah wustha, dan jumrah aqabah (kubra) dilakukan pada hari tasyrik (11, 12, dan 13 Dzulhijjah) secara berurutan.

  • Pada 11 Dzulhijjah, setelah sholat Zuhur kita melempar jumrah ula, jumrah wustha, dan jumrah kubra. Masing-masing tujuh batu kerikil.
  • Pada 12 Dzulhijjah, setelah sholat Zuhur kita juga melakukan lempar jumrah ula, jumrah wustha, dan jumrah kubra. Apabila kita sempat kembali ke Makkah sebelum Magrib, maka itu dianjurkan. Ini disebut dengan nafar awwal.
  • Pada 13 Dzulhijjah, setelah sholat Zuhur kita juga melakukan lempar jumrah ula, jumrah wustha, dan jumrah kubra. Setelah selesai melakukan lempar jumrah ini, kita kembali ke Makkah. Inilah yang disebut dengan nafar tsani.

Jarak antara jumrah aqabah dengan jumrah wustha adalah 117 meter, dan antara jumrah wustha dengan jumrah ula adalah 156 meter. Amalan jumrah ini merupakan bentuk bakti dan ketundukan hamba kepada perintah Tuhannya, sesuai apa yang dicontohkan Rasulullah SAW.

Doa melempar Jumrah Aqabah

Doa melempar jumrah bisa dipanjatkan ketika kaum muslimin melakukan rangkaian syarat wajib haji tersebut. Amalan lempar jumrah dilakukan pada hari nahar dan hari tasyrik.

1. Doa ketika Melempar Jumrah

Arab Latin: Bismillahi wallahu akbar, rajman lusysyayaathiini wa ridhan lirrahmaani. Allahummaj'al hajjan mabruuran wa sa'yan masykuuran

Artinya: Dengan menyebut nama Allah, Allah Maha Besar. Laknat bagi setan dan keridhaan bagi Allah yang Maha Kasih. Ya Allah, jadikanlah hajiku ini diterima (mabrur) dan sa'iku ini disyukuri.

2. Doa setelah Melempar Jumrah

Arab Latin: Allahummaj'alhu hajjan mabruuron wa dzanban maghfuuron.

Artinya: Ya Allah jadikanlah (melempar jumrah ini) sebagai sarana untuk meraih haji mabrur dan dosa yang terampuni. (HR Ahmad)

Tata Cara Melempar Jumrah

Tata cara melempar jumrah menjadi hal penting yang perlu dipahami jemaah haji agar pelaksanaannya sesuai tuntunan syariat. Mengutip dari buku "Ensiklopedia Fiqih Haji dan Umrah" susunan Agus Arifin, berikut tata cara melempar jumrah.

  • Melempar jumrah menggunakan kerikil. Ukuran kerikil kira-kira sebesar ruas jari kelingking.
  • Kerikil yang digunakan untuk melempar merupakan kerikil baru, bukan bekas dipakai melempar sebelumnya apabila mengacu pada mazhab Hambali dan Maliki. Sedangkan menurut mazhab Hanafi dan Syafi'i diperbolehkan melempar dengan kerikil bekas.
  • Satu kerikil digunakan untuk satu lemparan. Apabila melemparkan tujuh kerikil sekaligus, maka tetap dihitung satu lemparan.
  • Melempar jumrah dilakukan dengan tangan dan tidak boleh menggunakan alat pelontar.
  • Membaca takbir setiap kali melempar jumrah.
  • Tertib dalam pelemparan, yaitu dilakukan dengan urutan yang benar.



(irb/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads