Mengenang 2 Srikandi Buruh dari Jatim, Siapakah Mereka?

Mengenang 2 Srikandi Buruh dari Jatim, Siapakah Mereka?

Chilyah Auliya - detikJatim
Jumat, 01 Mei 2026 10:30 WIB
Museum Marsinah di Nganjuk.
Museum Marsinah di Nganjuk. Foto: Bakrie
Surabaya -

Perjuangan buruh di Indonesia tak lepas dari peran para perempuan tangguh yang turut berada di garis depan. Di tengah berbagai tantangan, mulai upah yang tak layak hingga kondisi kerja yang belum ideal, ada sosok-sosok perempuan dari Jawa Timur yang berani bersuara dan memperjuangkan hak-hak pekerja dengan gigih.

Mereka bukan sekadar bagian dari gerakan, melainkan simbol keberanian dan keteguhan hati dalam memperjuangkan keadilan. Kisah mereka menjadi pengingat bahwa perubahan tidak datang begitu saja, melainkan lahir dari keberanian individu yang memilih untuk berdiri dan melawan ketidakadilan.

Dua Srikandi Buruh dari Jawa Timur yang Menginspirasi

Di balik berbagai aksi dan advokasi buruh, terdapat dua sosok perempuan dari Jawa Timur yang kiprahnya begitu menonjol. Dengan latar belakang dan perjuangan yang berbeda, keduanya memiliki satu tujuan yang sama: memperjuangkan kesejahteraan buruh dan memastikan suara pekerja didengar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ialah Marsinah dan Ari Sunarijati. Mereka adalah simbol bahwa perjuangan kelas pekerja bukan sekadar soal angka di atas kertas, melainkan tentang mempertahankan martabat kemanusiaan.

1. Marsinah

25 Tahun, kematian Marsinah masih misteri25 Tahun, kematian Marsinah masih misteri Foto: Zaki Alfarabi

ADVERTISEMENT

Marsinah tidak lahir dari kemewahan. Ia lahir pada 10 April 1969 di Desa Nglundo, Kabupaten Nganjuk, dan tumbuh dalam kesederhanaan di bawah asuhan neneknya, Puirah, serta bibinya, Sini.

Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Marsinah sudah akrab dengan kerasnya hidup. Ia kerap mengisi hari-harinya dengan berjualan kue untuk membantu perekonomian keluarga.

Meski memiliki semangat belajar yang tinggi, pendidikannya di Pondok Pesantren Muhammadiyah harus terhenti karena keterbatasan biaya. Namun, kondisi itu justru menempa mentalnya menjadi lebih kuat dan tangguh.

Takdir kemudian membawanya menjadi buruh pabrik, mulai dari pabrik sepatu Bata di Surabaya, hingga akhirnya bekerja di PT Catur Putra Surya (CPS) di Porong, Sidoarjo. Di sana, Marsinah dikenal sebagai sosok yang vokal dan tak gentar menghadapi ketidakadilan.

Puncaknya terjadi pada Mei 1993, ketika ia memimpin aksi mogok kerja untuk menuntut kenaikan upah dari Rp 1.700 menjadi Rp 2.250 per hari. Namun, keberaniannya berujung tragis. Setelah memperjuangkan belasan rekan kerjanya yang ditahan di Kodim Sidoarjo, Marsinah hilang misterius pada malam 5 Mei 1993.

Empat hari kemudian, jasadnya ditemukan di sebuah gubuk di Nganjuk dalam kondisi mengenaskan. Hingga kini, dalang di balik pembunuhannya masih menjadi luka sejarah yang belum sepenuhnya terungkap.

Pada 10 November 2025, Presiden Prabowo Subianto resmi menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional. Kini, monumen dan rumah singgah di Desa Nglundo akan berdiri sebagai pengingat bahwa api perjuangan Marsinah tak pernah benar-benar padam oleh waktu.

2. Ari Sunarijati

Jika Marsinah adalah simbol perlawanan di garis massa, Ari Sunarijati adalah arsitek pergerakan yang merajut perjuangan melalui jalur organisasi dan edukasi. Lahir pada tahun 1952 dari keluarga kelas menengah, kepekaan sosial Ari sudah terasah sejak usia belia.

Ayahnya yang seorang rimbawan dan ibunya yang berprofesi sebagai guru membentuk karakter Ari menjadi pribadi yang peka terhadap ketidakadilan. Sejak masih duduk di bangku sekolah, ia bahkan sudah berani memprotes harga koperasi yang dianggap terlalu mahal, serta membela hak-hak teman-temannya.

Karier profesionalnya terbilang unik. Setelah lulus sebagai Sarjana Administrasi Bisnis, ia memulai langkahnya sebagai asisten manajer personalia di sebuah pabrik tekstil pada 1974.

Di posisi yang kerap dipandang sebagai perpanjangan tangan manajemen, Ari justru bergerak dari dalam sistem. Ia berhasil meyakinkan perusahaan untuk memenuhi hak-hak normatif pekerja. Ketulusannya membuatnya kemudian terpilih secara aklamasi sebagai pimpinan serikat buruh tingkat pabrik pada 1979.

Pada akhir 1983, Ari mengambil keputusan besar dengan meninggalkan kenyamanan jabatannya demi menjadi aktivis secara penuh. Ia meyakini bahwa kekuatan utama buruh, terutama perempuan, terletak pada pengetahuan dan kesadaran kritis.

Ia pun mendirikan Pondok Wanita Pekerja, sebuah ruang pelatihan yang bertujuan meningkatkan literasi hukum dan kemampuan organisasi para buruh.

Hingga akhir hayatnya, Ari tetap konsisten pada visinya, terciptanya serikat pekerja yang mandiri, diorganisir, dan dikelola murni oleh buruh sendiri tanpa tunggangan kepentingan politik luar yang kerap memperlemah gerakan rakyat.

Kisah Marsinah dan Ari Sunarijati menjadi cermin dari dua sisi perjuangan yang saling melengkapi. Keduanya menunjukkan bahwa ruang demokrasi yang kita nikmati hari ini bukanlah hadiah cuma-cuma, melainkan hasil dari pengorbanan yang sangat besar.

Di tengah perjuangan buruh yang terus berulang setiap tahun, kisah dua srikandi ini menjadi pengingat bahwa tanpa penegakan keadilan atas pelanggaran HAM dan tanpa ruang bagi serikat pekerja yang mandiri, maka kesejahteraan buruh akan tetap sulit terwujud.




(irb/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads