Anak Pemberani yang Gigih Membela Orang Lain Itu Bernama Marsinah

Anak Pemberani yang Gigih Membela Orang Lain Itu Bernama Marsinah

Bakrie - detikJatim
Jumat, 01 Mei 2026 08:30 WIB
Museum Marsinah di Nganjuk
Museum Marsinah di Nganjuk. (Foto: Bakrie/detikJatim)
Nganjuk -

Marsinah dikenal sebagai pejuang hak buruh yang gugur pada 8 Mei 1993. Mendiang perempuan asal Nganjuk itu kini menyandang gelar Pahlawan Nasional.

Tak banyak yang tahu, jauh sebelum Marsinah berkiprah sebagai pejuang buruh, perempuan kelahiran Nganjuk 10 April 1969 itu sudah memiliki jiwa sosial tinggi dan pemberani sejak kecil.

Marsinah kecil lahir dan tumbuh di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk. Sejak duduk di sekolah dasar, tepatnya di SDN Karangsemi 1/189, Kecamatan Gondang, ia sudah dikenal memiliki jiwa sosial tinggi dan berani membela orang lain.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dari kecil itu sudah berani. Sejak SD kelas satu sudah pernah membela temannya, istilahnya 'mbelani', temannya yang diganggu," ujar Marsini, kakak kandung Marsinah saat ditemui detikJatim, Kamis (29/4/2026).

Menurut Marsini, jika Marsinah melihat ada teman sekolah diintimidasi orang lain, dan dia yakin bahwa teman itu benar, maka Marsinah kecil tak segan pasang badan. Pasti langsung gigih membela.

ADVERTISEMENT

Marsinah lulus dari SDN 1/189 Karangsemi pada 1983. Ia kemudian melanjutkan ke SMPN 5 Nganjuk hingga lulus Tahun 1986, serta menyelesaikan pendidikan di SMA Muhammadiyah Nganjuk pada 1989. Selama bersekolah, ia dikenal menonjol di mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila, Ilmu Pengetahuan Sosial, dan Sejarah.

Tak hanya di lingkungan sekolah, kepedulian Marsinah juga tampak dalam kehidupan sehari-hari. Marsini menceritakan sebuah peristiwa menjelang lebaran terakhir, sebelum wafatnya Marsinah pada awal 1990.

Saat itu, Marsinah menggagalkan praktik penebasan padi saat musim panen di desanya, yang dinilai merugikan petani. Marsini menceritakan, seorang perantara menawarkan uang muka kecil kepada petani untuk menebas padi. Namun, Marsinah mencurigai praktik tersebut.

"Uangnya cuma segitu, nanti setelah dipanen orangnya hilang. Akhirnya didatangi perantaranya dan uangnya dikembalikan," tutur Marsini.

Keputusan itu terbukti tepat. Sejumlah petani lain yang terlanjur menerima tawaran serupa justru tidak mendapatkan pembayaran setelah panen.

Mengenang Marsinah.Marsini, kakak kandung Marsinah saat mengenang masa kecil adiknya. (Foto: Bakrie/detikJatim)

"Untungnya punya nenek kami tidak jadi ditebas. Yang lain sudah, tapi orangnya tidak kembali," imbuh Marsini.

Dari riwayat masa kecil itu, Marsini meyakini, sikap kritis dan keberanian Marsinah bukanlah hal yang muncul tiba-tiba saat dewasa.

"Memang tertanam sejak kecil dan terus terbawa, sampai adik saya menjadi buruh yang gigih memperjuangkan hak-hak pekerja," ujar Marsini.

Sementara Wijiati, adik kandung Marsinah juga memiliki kenangan berkesan semasa hidup sang kakak. Ia masih mengingat ketika semasa kecil sering dibonceng sepeda onthel dan diberi jajan.

"Saya dulu kecil kan sempat diasuh bulik (bibi), itu sering dijemput Mbak Marsinah, dikasi jajan, sayang banget sama saya," ungkap Wijiati.

Sebelum bekerja sebagai buruh pabrik, Wijiati juga ingat Marsinah pernah membantu saudara neneknya menjadi kuli angkut gabah. Fisik sebagai perempuan tidak menghalangi Marsinah melakukan pekerjaan yang umumnya dilakukan laki-laki.

"Mbak Marsinah itu memang lebih mementingkan membantu orang lain. Saudara nenek saya saat itu memang buta mata sebelah, jadi saat panen gabah selalu dibantu Mbak Marsinah, dari memikul karung gabah sampai nyelep gabah ditangani sendiri," ujar Wijiati.

Mengenang Marsinah.Makam Marsinah, sang Pahlawan Nasional dalam hal perjuangan buruh. (Foto: Bakrie/detikJatim)

Kepada Wijiati sendiri Marsinah juga sangat peduli. Contohnya ketika Wijiati sakit keras saat bekerja di salah satu pabrik di Surabaya. Marsinah jauh-jauh datang dari Porong, Sidoarjo ke Surabaya untuk menjenguk dan merawat adiknya.

"Saya diminta pulang saja ke rumah nenek di Nganjuk. Nanti diajak kerja di Porong kalau sudah sehat. Kata Mbak saya, pekerjaan di pabrik bisa dicari, tapi kesehatan dan keselamatan nyawa lebih penting," ujar Wijiati.

Marsinah juga tak masalah ketika Wijiati mendahuluinya menikah.

"Prinsipnya yang penting saudaranya bahagia, bisa menemukan jodohnya. Setahu saya sampai Mbak Marsinah meninggal, belum pernah pacaran atau punya calon suami," pungkas Wijiati.



(auh/dpe)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads