Viral Bunuh Diri di Jembatan Cangar, MUI Jatim: Haram Mutlak-Dosa Besar!

Viral Bunuh Diri di Jembatan Cangar, MUI Jatim: Haram Mutlak-Dosa Besar!

Jihan Navira - detikJatim
Senin, 27 Apr 2026 21:40 WIB
Logo MUI
Logo MUI (Foto: detikINET/Agus Tri Haryanto)
Surabaya -

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur menyoroti maraknya kasus bunuh diri yang terjadi belakangan ini di sejumlah daerah seperti di Jembatan Cangar, Kota Batu, serta peristiwa serupa yang terjadi di area masjid di Kediri.

Sekretaris MUI Jawa Timur, M Hasan Ubaidillah menegaskan bahwa bunuh diri merupakan perbuatan yang diharamkan secara mutlak dalam Islam. Menurutnya, setiap manusia memiliki kewajiban menjaga jiwa yang telah diberikan Allah SWT.

"Dalam Islam bunuh diri itu diharamkan secara mutlak. Kita harus menjaga jiwa kita, bukan malah menghilangkannya," ujar Hasan kepada detikJatim, Senin (27/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menjelaskan, bunuh diri tidak hanya dimaknai sebagai tindakan langsung seperti gantung diri, melompat dari ketinggian, atau melukai diri dengan senjata tajam hingga menyebabkan kematian.

Menurutnya, tindakan yang merusak tubuh secara perlahan seperti mengonsumsi narkoba dan minuman keras juga termasuk perbuatan yang membahayakan jiwa dan termasuk ke dalam bunuh diri secara perlahan.

ADVERTISEMENT

"Janganlah kalian menjatuhkan diri kalian ke jurang kehancuran yang membahayakan jiwa. Perbuatan yang merusak diri sendiri, baik langsung maupun perlahan, tetap dilarang," katanya.

Ia kemudian menjelaskan bahwa dalam ajaran Islam terdapat empat prinsip dasar yang harus ditegakkan. Yang pertama adalah memelihara agama, sedangkan yang kedua adalah hifdzun nafs atau menjaga jiwa, yakni kewajiban memelihara keselamatan hidup.

"Maka berbagai macam perbuatan yang itu dapat membahayakan jiwa kita, apalagi bunuh diri, diharamkam secara mutlak dalam Islam," tegasnya.

Karena itu, segala bentuk tindakan yang mengarah pada hilangnya nyawa sendiri merupakan pelanggaran serius.

"Jelas ada konsekuensi yang membuntutinya, itu adalah perbuatan dosa besar. Yang namanya dosa besar itu tempatnya di neraka," imbuhnya.

Bunuh diri juga disebut tidak menyelesaikan persoalan hidup. Sebaliknya, tindakan tersebut justru menjadi dosa besar yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

"Masalah hidup di dunia mungkin dianggap selesai, tetapi di akhirat tetap harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Pembunuhan saja itu hukumannya kalau di dalam Islam harus dibunuh saking beratnya dosa pembunuhan itu. Sedangkan membunuh diri sendiri maka dia harus tetap mempertanggungjawabkan karena nyawa itu amanah dari Allah," tegasnya.

Hasan juga menanggapi anggapan bahwa faktor ekonomi atau persoalan asmara menjadi penyebab utama seseorang nekat mengakhiri hidup. Menurutnya, persoalan tersebut bukan satu-satunya faktor, melainkan juga berkaitan dengan lemahnya ketahanan mental, iman, dan kedekatan spiritual.

"Itu kan sebenarnya masalah yang biasa dan dialami oleh banyak orang. Banyak yang diuji ekonominya tapi tetap sabar. Banyak yang putus cinta tapi bisa bangkit. Karena itu yang penting adalah penguatan akidah, keimanan, dan relasinya dengan Tuhan," ujarnya.

Terkait kasus bunuh diri yang terjadi di masjid di Kediri, Hasan menilai tempat ibadah tidak otomatis menjamin seseorang memiliki ketenangan batin apabila hatinya jauh dari nilai-nilai keimanan.

"Tempat yang baik tidak otomatis menjadikan orang baik, sedangkan orang beriman tidak akan melakukan hal itu selain memasrahkan diri kepada Allah. Kalau pikirannya kosong dan hatinya jauh dari Allah, tindakan seperti itu tetap bisa terjadi," katanya.

MUI Jatim pun mengajak keluarga, tokoh agama, pemerintah, dan masyarakat untuk lebih peduli terhadap kondisi psikologis generasi muda. Ia menilai ketahanan keluarga dan lingkungan sosial sangat penting untuk mencegah tindakan nekat tersebut.

"Majelis Ulama Indonesia Provinsi Jawa Timur sangat prihatin sekali terhadap fenomena-fenomena maraknya bunuh diri yang dilakukan oleh kalangan-kalangan muda saat ini. Kalau keluarga mendukung, lingkungan peduli, masyarakat saling menjaga, insyaAllah hal-hal seperti ini bisa dicegah. Ketika ada yang dirasa aneh terhadap seseorang, kita sama-sama mengingatkan," pungkas Hasan.




(auh/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads