Informasi dalam artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi kepada siapa pun untuk melakukan tindakan serupa. Bagi Anda pembaca yang merasakan gejala depresi dengan kecenderungan berupa pemikiran untuk bunuh diri, segera konsultasikan persoalan Anda ke pihak-pihak yang dapat membantu seperti psikolog, psikiater, ataupun klinik kesehatan mental.
Perilaku bunuh diri ternyata bisa menular. Itu sebabnya terkadang setelah terjadi suatu peristiwa bunuh diri, tak lama setelahnya akan terjadi peristiwa serupa, bahkan dengan metode mengakhiri hidup yang sama.
Dalam psikologi, hal ini disebut "werther effect" atau kecenderungan seseorang meniru tindakan bunuh diri setelah terpapar informasi atau pemberitaan tentang kasus serupa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa cara sebuah peristiwa disampaikan, khususnya lewat media dapat memberi pengaruh besar terhadap individu yang sedang berada dalam kondisi rentan.
Asal-usul Istilah Werther Effect
Melansir dari laman PDSKJI, istilah Werther Effect berakar dari kisah dalam novel "The Sorrows of Young Werther" yang ditulis Johann Wolfgang von Goethe pada akhir abad ke-18.
Dalam cerita tersebut, tokoh utama bernama Werther mengakhiri hidupnya setelah mengalami kegagalan cinta. Kisah yang ditulis dengan sangat dramatis itu ternyata tidak berhenti sebagai karya sastra semata.
Tak lama setelah novel tersebut beredar luas di Eropa, muncul fenomena peniruan di kalangan pembaca. Sejumlah orang dilaporkan mengakhiri hidup dengan cara yang mirip seperti tokoh dalam cerita, bahkan hingga meniru gaya berpakaian yang sama. Peristiwa ini sempat menimbulkan kegemparan hingga membuat buku tersebut dilarang penyebarannya di beberapa wilayah.
Dari rangkaian kejadian inilah kemudian lahir istilah Werther Effect yang menggambarkan bahwa perilaku bunuh diri dapat "menular" melalui paparan cerita, baik dari karya sastra maupun media. Fenomena ini menunjukkan bahwa individu, terutama yang berada dalam kondisi rentan dapat terdorong untuk meniru apa yang dilihat, dibaca, atau didengar.
Apa Saja Pemicu Werther Effect?
Werther Effect tidak muncul begitu saja, melainkan dipicu berbagai faktor yang saling berkaitan, terutama dari cara informasi disampaikan dan bagaimana individu menerimanya.
Dalam banyak kasus, paparan yang berulang, dramatis, dan mudah diakses menjadi pemicu utama munculnya perilaku imitasi, khususnya pada individu yang sedang berada dalam kondisi psikologis rentan.
Pakar psikologi Unair Atika Dian Ariana menjelaskan efek ini telah banyak diteliti dan terbukti memiliki dasar empiris yang kuat. Ia menyoroti paparan terhadap kasus bunuh diri, terutama dari figur publik, dapat membentuk cara pandang seseorang terhadap solusi atas masalah yang dihadapi. Berikut pemicu Werther Effect.
1. Pemberitaan yang Sensasional dan Berulang
Media yang mengangkat kasus bunuh diri secara besar-besaran, berulang, dan penuh dramatisasi dapat memperkuat ingatan serta emosi audiens. Paparan terus-menerus ini membuat peristiwa tersebut terasa dekat dan relevan, terutama bagi individu yang sedang mengalami tekanan serupa.
2. Figur Publik atau Selebritas
Kasus yang melibatkan tokoh terkenal cenderung memiliki dampak lebih luas. Tidak hanya penggemar, masyarakat umum pun bisa ikut terpengaruh karena adanya kedekatan emosional atau kesamaan pengalaman.
"Bukan pada fansnya saja, tapi masyarakat yang membaca beritanya bisa saja mengimitasi perilaku tersebut karena merasa memiliki persoalan yang mirip," disampaikan Atika kepada detikJatim, Jumat (24/4/2026).
3. Normalisasi sebagai "Solusi"
Ketika tindakan bunuh diri digambarkan sebagai jalan keluar dari masalah, hal ini dapat membentuk persepsi keliru. Individu yang sedang putus asa bisa melihatnya sebagai opsi yang dapat dipertimbangkan.
"Individu yang punya persoalan yang mirip bisa melihat seolah ada solusi seperti itu (dengan mengakhiri hidup," ujar Atika.
4. Romantisasi dalam Media
Penggambaran korban secara berlebihan, misalnya sebagai sosok yang dielu-elukan, ditangisi, atau dianggap "heroik" dapat memicu interpretasi yang berbahaya. Alih-alih melihatnya sebagai tragedi, sebagian orang justru menangkapnya sebagai bentuk penerimaan sosial sehingga keputusan mengakhiri hidup diwajarkan.
5. Kondisi Psikologis yang Rentan
Faktor internal tetap menjadi kunci. Individu yang sedang mengalami tekanan mental, kesepian, atau masalah hidup yang kompleks lebih mudah terdorong untuk meniru perilaku yang dilihat atau didengar, terutama jika tidak memiliki dukungan sosial yang memadai.
Memahami berbagai pemicu Werther Effect menjadi penting agar penyebaran informasi tidak justru memperparah kondisi. Peran media, lingkungan, hingga kesadaran individu dalam menyikapi informasi secara bijak menjadi kunci agar setiap cerita yang beredar tidak berujung pada peniruan, melainkan mendorong kepedulian dan upaya saling menjaga.
(irb/hil)











































