Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian (Dinaskerin) Kabupaten Madiun menyebut CV Sukses Jaya Abadi sebagai residivis dalam kasus penahanan ijazah eks karyawan. Hal itu disampaikan Kepala Dinaskerin Kabupaten Madiun, Arik Krisdiananto usai sidak di pabrik plastik yang berlokasi di Desa/Kecamatan Wonosari, Madiun.
Menurut Arik, praktik penahanan ijazah oleh perusahaan tersebut bukan kali pertama terjadi. Pihaknya bahkan telah berulang kali memberikan peringatan.
"Disnakerin nyebut CV Sukses Jaya Abadi ini residivis. Karena sudah sering (menahan ijazah)," ujar Arik, Rabu (22/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia meminta perusahaan segera mengembalikan seluruh ijazah milik mantan karyawan yang masih ditahan. Jika tidak, kasus ini akan dilaporkan ke tingkat provinsi untuk ditindaklanjuti.
"Nanti kita laporkan provinsi biar tim penyidik pengawas provinsi. Kita minta pihak perusahaan segera serahkan semua ijazah," jelas Arik.
Menurut Arik, kejadian kali ini sudah tidak ada toleransi. Pasalnya, pihak Disnaker sudah memperingatkan bahwa kejadian penahanan ijazah yang terjadi beberapa waktu lalu adalah peringatan yang terakhir.
"Kemarin sudah saya ancam yang terakhir kali tapi, nyatanya hari ini ada kejadian lagi berarti saya harus tindak tegas kan seperti itu," jelas Arik.
"Berita acara hari ini akan kami jadikan dasar untuk membuat surat ke pengawas Disnaker Provinsi. Hasil penyidikan dari Pengawas Disnaker Provinsi itu sanksinya bisa teguran sampai pencabutan izin," tandas Arik.
Sebelumnya, sejumlah mantan karyawan CV Sukses Jaya Abadi yang berlokasi di Jalan Raya Basuki Rahmat, Kecamatan Wonoasari, Madiun diduga melakukan penahanan ijazah karyawannya. Para pekerja kini mengeluhkan mengambil dokumen mereka setelah berhenti bekerja atau resign.
Salah satu korban, Ina Vernanda, warga Desa Sidorejo, Saradan, mengaku sudah berulang kali menagih ijazahnya ke pihak perusahaan. Namun, upaya tersebut hanya berbuah janji manis dari pihak manajemen.
"Pertamanya saya keluar, terus tanya HRD kapan ijazah saya keluar, tapi jawabnya nanti. Setiap saya tanya lagi jawabnya nanti-nanti terus," ujar Ina kepada wartawan, Rabu (22/4/2026).
