Hari Buku Sedunia, Ini Penulis Populer Asal Jawa Timur

Jihan Navira - detikJatim
Kamis, 23 Apr 2026 07:00 WIB
Ilustrasi Hari Buku Sedunia. Foto: Istimewa
Surabaya -

Setiap 23 April, dunia memperingati Hari Buku Sedunia sebagai momentum untuk kembali menyadari peran penting buku dalam kehidupan. Melalui buku, pengetahuan, gagasan, hingga karya sastra dapat terus hidup dan diwariskan lintas generasi, menjadikannya bagian tak terpisahkan dari perkembangan peradaban.

Di Indonesia, semangat yang sama juga tercermin lewat peringatan Hari Buku Nasional, yang mendorong tumbuhnya budaya literasi di tengah masyarakat. Momen ini tak hanya mengajak untuk gemar membaca, tetapi juga membuka ruang bagi lahirnya para penulis baru.

Menariknya, Jawa Timur termasuk daerah yang banyak melahirkan penulis ternama dengan karya-karya berpengaruh di kancah nasional. Lalu, bagaimana sejarah Hari Buku Sedunia dan Hari Buku Nasional, serta siapa saja penulis populer asal Jatim?

Sejarah Hari Buku Sedunia

Hari Buku Sedunia atau World Book and Copyright resmi ditetapkan pada 23 April 1995 oleh United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO). Penetapan ini berkaitan dengan hari wafat sejumlah tokoh sastra ternama, di antaranya penulis sejarah Spanyol, William Shakespeare dan Inca Garcilaso de la Vega.

Sebelumnya, di salah satu kota di Spanyol, sudah ada peringatan hari ST George Day, tapi sejak 1436, masyarakat setempat mengenalnya sebagai The Day of the Rose, di mana sepasang kekasih menukar hadiah yang mirip seperti hari valentine.

Dari berbagai sumber menjelaskan bahwa yang ditukar saat The Day of the Rose adalah antara bunga dan buku, di mana si lelaki akan mendapat buku, sedangkan perempuan mendapat bunga.

Meski UNESCO sudah merayakan Hari Buku Sedunia dan Hak Cipta sudah dilakukan sejak 1995 secara internasional, tapi perayaan penukaran buku di Spanyol pertama kali dilakukan untuk memperingati kematian Miguel de Cervantes bersamaan dengan The Day of the Rose di Catalonia pada 1926.

Bahkan, untuk memperingati wafatnya Miguel de Cervantes, Spanyol merayakannya dengan membaca karya Miguel, yaitu Don Quixote selama dua hari berturut-turut. Hadiah ajang ini dipersembahkan oleh raja di Alcalá de Henares.

Oleh karena itu, UNESCO menjadikan Catalonian Festival sebagai landasan ditetapkannya Hari Buku dan Hak Cipta. 23 April juga dipilih karena bertepatan bulan lahir dan tanggal wafatnya William Shakespeare, kematian Miguel de Cervantes, Inca Garcilaso de la Vega, dan Josep Pla, kelahiran Maurice Druon, Manuel Mejía Vallejo, dan Halldór Laxness.

Meski begitu, ternyata fakta ini tidak sepenuhnya benar, karena pada saat itu Inggris masih memakai kalender Julian. Menurut kalender Julian, benar jika Shakespeare meninggal pada tanggal tersebut.

Tapi sebetulnya, ia meninggal 11 hari setelah kematian Miguel de Cervantes, karena ada perbedaan perhitungan dari kedua sistem kalender. Oleh karena itu, ini menjadi sebuah kebetulan yang menguntungkan bagi UNESCO.

Sejarah Hari Buku Nasional

Berbeda dengan Hari Buku Sedunia, di Indonesia peringatan Hari Buku Nasional dirayakan pada 17 Mei setiap tahunnya. Dilansir dari laman Perpustakaan Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Hari Buku Nasional pertama kali diperingati pada 2002.

Pada tahun tersebut, UNESCO mencatat bawa tingkat melek huruf di Indonesia pada orang dewasa hanya 87,9 persen, lebih rendah dari negara-negara seperti Malaysia, Vietnam, dan Thailand.

Kondisi tersebut kemudian memunculkan keprihatinan karena kesadaran akan literasi dasar yang seharusnya menjadi pondasi utama untuk kemajuan suatu bangsa, justru tidak menjadi prioritas.

Menanggapi fenomena tersebut, sejumlah masyarakat, terutama kalangan pencinta buku mulai mendorong peningkatan budaya membaca. Hingga pada akhirnya diciptakannya Hari Buku Nasional, yang dicetuskan Abdul Malik Fajar, yang kala itu menjabat sebagai Menteri Pendidikan.

Kemunculan Hari Buku Nasional bertujuan sebagai momen khusus untuk mempromosikan budaya literasi, dan menekankan pentingnya membaca di kalangan masyarakat Indonesia.

Adapun pemilihan tanggal 17 Mei sebagai Hari Buku Nasional karena tanggal tersebut merujuk pada momen bersejarah berdirinya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, tepatnya pada 17 Mei 1980.

Penulis Populer Asal Jatim

Setelah mengetahui sejarah peringatannya, Hari Buku Sedunia juga menjadi waktu yang tepat untuk mengenang para penulis yang telah memberi warna bagi dunia literasi, khususnya di Jawa Timur.

Jawa Timur termasuk salah satu daerah yang banyak melahirkan tokoh sastra dengan karya-karya berpengaruh, mulai dari novel, cerpen, puisi, hingga naskah drama. Berikut sejumlah penulis populer asal Jatim yang namanya dikenal luas di Indonesia.

1. Zawawi Imron

KH D Zawawi Imron membacakan puisi dalam perayaan 1 Abad NU. Berikut isi puisi tersebut. Foto: Tangkapan Layar

D Zawawi Imron adalah sastrawan Madura terkemuka yang dikenal sebagai pelopor puisi surealisme Indonesia dengan imajinasi alam dan spiritualitas pedesaan. Ia lahir pada 1 Januari 1945 di Desa Batang-batang, Kecamatan Batang-batang, Kabupaten Sumenep, ujung timur Pulau Madura, Jawa Timur.

Zawawi dibesarkan di lingkungan pesisir Madura yang kental akan budaya. Nama Zawawi sendiri mulai menonjol sejak Temu Penyair 10 Kota di Taman Ismail Marzuki, Jakarta (1982).

Ia menghasilkan puisi-puisi ikonik bertema lanskap Madura, kritik kemanusiaan, dan spiritualitas, dengan gaya surealisme yang dipuji Subagio Sastrowardojo. Bahkan, puisi-puisinya diterjemahkan ke berbagai bahasa dan sering dibawakan lisan sebagai pendakwah budaya.

Selama berkarya, Zawawi berhasil menyabet berbagai penghargaan, salah satunya SEA Write Award dari keluarga kerajaan Thailand pada tahun 1982.

2. Akhudiat

Sastrawan Akhudiat Foto: Istimewa (Dok Yasmin Fitrida)

Akhudiat adalah sastrawan kelahiran Banyuwangi yang paling dikenal sebagai penulis naskah drama yang juga menulis puisi, cerpen, dan karya nonfiksi. Namanya berhasil melejit pada 1970-an lewat naskah drama yang memenangkan sayembara Dewan Kesenian Jakarta.

Karyanya yang paling populer pada masanya adalah rafito (1972), Rumah Tak Beratap Rumah Tak Berasap dan Langit Dekat dan Langit Sehat (1974), Bui (1975), Jaka Tarub (1974), dan Re (1977).

Naskah-naskah itu banyak meraih hadiah Sayembara Penulisan Drama DKJ. Grafito lah yang dianggap terbaik di antara yang lain karena dialognya berhasil memadukan konflik dan gagasan sosial secara tajam.

Ia juga dikenal sebagai tokoh yang ikut membentuk wajah teater modern Indonesia, khususnya Jawa Timur. Ia aktif di Bengkel Muda Surabaya, terlibat dalam Dewan Kesenian Surabaya, dan mendapat penghargaan Aktivis Teater Modern dari Pemerintah Kota Surabaya, serta penghargaan seniman berprestasi dari Jawa Timur.

3. Khilma Anis

Khilma Anis merupakan penulis asal Jember yang lahir pada 4 Oktober 1986. Ia juga dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Annur Kesilir di Wuluhan, Jember. Perjalanan kepenulisannya dimulai sejak duduk di bangku Madrasah Aliyah.

Saat itu, ia dipercaya menjadi redaktur majalah ELITE, majalah siswa MAN Tambakberas Jombang. Pengalaman tersebut menjadi pijakan awal yang mengasah kemampuan menulisnya.

Setelah lulus, Khilma melanjutkan pendidikan di UIN Sunan Kalijaga, tepatnya di Fakultas Dakwah jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI). Selama masa kuliah, ia aktif di organisasi pers mahasiswa ARENA, yang membuatnya semakin produktif menulis cerpen dan mengirimkan karya ke berbagai media.

Ia juga sempat mengajar di Madrasah Muallimat Kudus serta menjadi pembimbing majalah KALAMUNA. Berbekal pengalaman yang lekat dengan dunia pesantren dan budaya Jawa, Khilma kemudian melahirkan karya-karya yang mengangkat tema tersebut. Salah satu yang paling dikenal adalah novel best seller Hati Suhita, yang diadaptasi menjadi film dan tayang pada Mei 2023.

4. Makinuddin Samin

Makinuddin Samin merupakan penulis kelahiran Tuban yang menempuh pendidikan di berbagai daerah di Jawa Timur, mulai dari Lamongan hingga Pasuruan. Latar perjalanan pendidikannya ini turut membentuk sudut pandang dan warna dalam karya-karyanya.

Ia kemudian melanjutkan studi di Universitas Jenderal Soedirman, tepatnya di Fakultas Hukum, dan lulus pada 2001. Setelah itu, Makinuddin sempat bekerja sebagai peneliti di Pusat Analisis Sosial di Bandung.

Sejak 2006, ia terlibat dalam program bidang manajemen dan pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar di wilayah Sumatra Utara dan Jawa Barat. Pengalaman tersebut semakin memperkaya perspektifnya dalam menulis, terutama terkait isu sosial dan pendidikan.

Salah satu karyanya yang cukup dikenal adalah buku Ahangkara: Sengketa Kekuasaan dan Agama, yang menjadi salah satu best seller dan banyak dibaca karena mengangkat tema kekuasaan dan agama secara kritis.



Simak Video "Video: Fadli Zon Bantah Penulisan Ulang Sejarah Dilakukan Secara Sentralistik"

(irb/hil)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork