Sektor FnB Menjerit Imbas LPG 12 Kg Langka di Malang

Muhammad Aminudin - detikJatim
Rabu, 22 Apr 2026 17:45 WIB
Pelaku usaha FnB di Kota Malang keluhkan kelangkaan LPG 12 Kg. (Foto: Istimewa)
Malang -

Krisis pasokan LPG 12 kilogram atau nonsubsidi tengah melanda wilayah Kota Malang beberapa pekan terakhir. Kelangkaan sudah dirasakan pelaku usaha makanan dan minuman (FnB).

Mereka harus memutar otak demi mempertahankan dapur mereka agar tetap mengepul di tengah ketidakpastian stok dan lonjakan harga yang ugal-ugalan.

Dampak nyata dirasakan oleh Pengyu Kopitiam, di mana pembatasan pembelian maksimal tiga tabung per hari telah melumpuhkan sebagian kapasitas produksi mereka.

Muhammad Arief Rohman, penanggung jawab operasional Pengyu Kopitiam mengungkapkan bahwa keterbatasan ini memaksa pihaknya melakukan efisiensi ekstrem yang berujung pada pengurangan ketersediaan menu bagi pelanggan.

"Biasanya operasional butuh lebih, sekarang dibatasi tiga tabung. Akhirnya kami terpaksa mengurangi penggunaan kompor, dari tiga atau empat kompor jadi hanya dua. Dampaknya menu buka-tutup, ada menu yang tidak bisa dijual," ujar Arief kepada wartawan, Rabu (22/4/2026).

Kondisi ini membuat realisasi penjualan anjlok hingga menyentuh angka 30 porsi dari target semula 100 porsi per hari, yang secara otomatis memicu penurunan omzet secara signifikan.

Arief juga memperingatkan adanya potensi kenaikan harga menu dalam waktu dekat jika situasi tidak segera membaik.

Menurutnya, tekanan dari berbagai lini mulai dari kenaikan harga bahan baku plastik, daging, hingga gas yang harganya mulai dipermainkan di tingkat bawah, membuat penyesuaian harga menjadi pilihan yang sulit dihindari.

"Kalau ini terus berlangsung, ya mau tidak mau harga menu bisa naik. Gas naik, bahan lain juga naik, plastik naik, daging naik. Kalau semuanya terus begini, kami pasti menyesuaikan harga," ungkap Arief.

Ia bahkan menyayangkan adanya oknum yang memanfaatkan situasi dengan menawarkan gas seharga Rp 250 ribu per tabung, sebuah angka yang dinilainya sangat tidak masuk akal bagi para pengusaha kecil.

Sentimen serupa juga muncul dari Depot 2 Legenda. Store Manager Ade Dewantara merasa ironis karena meskipun pihaknya menggunakan LPG non-subsidi, mereka tetap dipersulit oleh ketiadaan stok di pasaran.

Ade menceritakan perjuangannya mencari tabung gas hingga ke pelosok wilayah demi menjaga operasional harian, bahkan ketika biaya operasional melonjak drastis karena harga beli yang naik hingga Rp 50 ribu per tabung.

"Sudah tidak pakai subsidi, tapi stok masih dimainkan. Ini yang bikin resah. Omzet masih normal, tapi operasional yang terpukul. Harusnya uang untuk beli lima tabung, sekarang cuma dapat empat," tutur Ade terpisah.

Situasi ini membuatnya mulai mempertimbangkan untuk beralih ke penyedia bahan bakar alternatif dari pihak swasta jika pemerintah tidak segera melakukan intervensi.

Krisis ini semakin terkonfirmasi dari pengakuan pihak pangkalan di Kota Malang yang menyebutkan bahwa pasokan dari distributor menurun drastis. Dari permintaan normal sebanyak 100 tabung, pihak pangkalan kini hanya menerima kiriman sekitar 10 hingga 15 tabung saja.

Kondisi kelangkaan ini pun diikuti dengan lonjakan harga tebus pangkalan yang mencapai Rp 218.500, sehingga harga jual ke konsumen kini melambung di angka Rp 228 ribu per tabung.

Para pelaku usaha FnB di Kota Malang kini mendesak pemerintah untuk segera melakukan penyelidikan mendalam terkait dugaan permainan stok di level pengepul maupun pangkalan.

Mereka berharap adanya tindakan tegas terhadap oknum yang sengaja menahan pasokan agar stabilitas ekonomi di sektor kuliner tidak semakin terpuruk dan membebani masyarakat luas melalui kenaikan harga pangan.

Sebelumnya, Adhan, salah satu pemilik pangkalan LPG di Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, menceritakan betapa sulitnya mendapatkan pasokan dalam beberapa pekan terakhir.

Ia menyebut situasi di lapangan sempat sangat semrawut akibat antrean panjang di Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE).

"Antrean truk agen di SPBE sampai 25 sampai 30 unit, tapi yang diisi hanya separuh. Itu yang membuat pasokan 3 kilogram sempat langka," ujar Adhan kepada wartawan Selasa (21/4/2026).

Meski kondisi LPG melon 3 kg mulai berangsur normal, Adhan menyebut 'penderitaan' sebenarnya justru kini dirasakan pada kategori non subsidi.

Hingga saat ini, kiriman tabung 12 kg ke pangkalannya masih dibatasi secara ekstrem dan belum kembali ke volume normal.

"Sampai sekarang pengambilan dibatasi. Saya biasanya order 100 tabung (LPG 12kg), cuma dikirim 10 sampai 15 tabung saja," ungkapnya dengan nada mengeluh.



Simak Video "Video Viral Beringin Raksasa Roboh di TPU Malang"

(auh/hil)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork