Warga Kota Malang tampaknya harus merogoh kocek lebih dalam sekaligus ekstra sabar dalam memburu tabung LPG. Setelah sempat adanya kelangkaan LPG subsidi 3 kg, kini giliran pasokan LPG 12 kg, tersendat dan harga yang melonjak tajam.
Krisis energi di level lokal ini disebut-sebut merupakan imbas dari gangguan distribusi di tingkat pusat. Kabar mengenai kapal tanker Pertamina yang terjebak di Selat Hormuz disinyalir menjadi pemantik utama tersendatnya aliran gas ke daerah-daerah, termasuk ke wilayah Malang Raya.
Adhan, salah satu pemilik pangkalan LPG di Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, menceritakan betapa sulitnya mendapatkan pasokan dalam beberapa pekan terakhir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menyebut situasi di lapangan sempat sangat semrawut akibat antrean panjang di Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE).
"Antrean truk agen di SPBE sampai 25 sampai 30 unit, tapi yang diisi hanya separuh. Itu yang membuat pasokan 3 kilogram sempat langka," ujar Adhan kepada wartawan, Selasa (21/4/2026).
Meski kondisi LPG melon 3 kg mulai berangsur normal, Adhan menyebut 'penderitaan' sebenarnya justru kini dirasakan pada kategori non subsidi.
Hingga saat ini, kiriman tabung 12 kg ke pangkalannya masih dibatasi secara ekstrem dan belum kembali ke volume normal.
"Sampai sekarang pengambilan dibatasi. Saya biasanya order 100 tabung (LPG 12kg), cuma dikirim 10 sampai 15 tabung saja," ungkapnya mengeluh.
Pembatasan yang terlampau jauh ini otomatis membuat stok di pangkalan seringkali ludes dalam sekejap. Adhan bahkan mengaku pernah mengalami kekosongan stok hingga empat hari lamanya.
Hal ini memicu kepanikan di tingkat konsumen yang akhirnya harus bergerilya mencari gas dari satu toko ke toko lainnya demi dapur tetap mengepul.
"Kalau yang 3 kg sekarang sudah mulai normal. Sebelumnya sempat sampai 4 hari kosong terus," tambahnya.
Sudah jatuh tertimpa tangga, itulah perumpamaan yang pas bagi konsumen saat ini.
Di tengah barang yang sulit didapat, harga LPG non subsidi justru melambung tinggi. Harga tebus untuk tabung 12 kg yang semula berada di angka Rp 182 ribu, kini melompat ke Rp 218.500 per tabung.
Lonjakan sebesar Rp 36.500 ini memaksa harga jual resmi di tingkat konsumen menyentuh angka Rp 228 ribu. Kenaikan harga ini tidak hanya menyasar tabung besar. Termasuk untuk Bright Gas 5,5 kg juga ikut terkerek dari harga jual Rp 90 ribu menjadi Rp 107 ribu.
Kondisi ini tentu menjadi sorotan tajam, terutama mengenai ketahanan distribusi energi nasional yang dianggap rapuh terhadap gangguan global. Menanggapi situasi yang mencekik ini, Adhan mengaku tidak punya banyak pilihan selain bertahan di tengah ketidakpastian stok.
"Ya mau gak mau kita harus mengikuti situasi. Sekarang harga naik, stoknya tipis. Ya kita ikuti saja," pungkasnya.
(auh/hil)











































