Terhentinya pelayaran akibat cuaca buruk menyebabkan pasokan BBM dan LPG ke Pulau Bawean tersendat. Selama sepekan terakhir, aktivitas ekonomi, pendidikan, hingga perdagangan warga pun ikut terganggu.
Kondisi cuaca buruk itu, membuat operasional kapal pengangkut logistik ke Pulau Bawean terhambat. Hal itu membuat aktivitas ekonomi dan sosial warga Bawean nyaris lumpuh. Mau tidak mau, warga harus mengeluarkan uang lebih untuk mendapatkan kebutuhan energi tersebut.
Seperti yang disampaikan oleh Firman, warga Kecamatan Tambak. Sejak sepekan terakhir, LPG 3 Kg mengalami kelangkaan. Bahkan, sebelum mengalami kelangkaan, harga LPG 3 kg sempat mencapai harga Rp 55 ribu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dua hari yang lalu LPG 3 kilogram sampai Rp 55 ribu, sekarang sudah tidak ada sama sekali. Bahkan LPG 12 kg juga kosong, kemarin harganya tembus Rp 300 ribu," kata Firman, Senin (26/1/2026).
Dampak kelangkaan energi juga dirasakan di Kecamatan Sangkapura. Hefni, salah satu warga Desa Sidogedungbatu, Sangkapura mengatakan, kelangkaan BBM dan LPG hampir membuat seluruh sektor terdampak.
"Mulai dari perdagangan, aktivitas kerja, hingga pendidikan. Beberapa hari ini di Kecamatan Sangkapura hampir semua fasilitas lumpuh. Orang ke pasar sedikit, orang mau kerja terhambat, siswa ke sekolah juga banyak yang tidak masuk. Kalau dipresentasikan, sudah sekitar 40 persen pergerakan lumpuh gara-gara tidak ada bensin dan tidak adanya kapal," ujarnya.
Sementara itu, salah satu pengusaha Bawean, H. Abdurrahman, meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik segera turun tangan dengan menyiapkan armada kapal yang mampu mengangkut BBM dan LPG ke Bawean. Menurutnya, ketersediaan bensin dan gas merupakan kunci utama perputaran ekonomi masyarakat.
"Bawean itu sudah krisis pangan, terutama kalau bensin dan gas LPG itu tidak ada atau langka. Kalau bensin dan LPG tidak ada, maka pangan dan ekonomi itu tidak bisa berputar. Kuncinya di situ," ujarnya.
Ia menjelaskan, kelangkaan LPG di wilayah Sangkapura sudah terjadi sejak sekitar satu minggu terakhir dan dalam tiga hari terakhir kondisinya semakin parah hingga memicu kepanikan warga.
"Kalau BBM tidak ada, masih bisa dikendalikan. Tapi kalau LPG tidak ada, orang itu nangis, karena tidak bisa masak. LPG itu sudah seminggu atau 10 hari yang lalu langkanya," jelasnya.
Masyarakat Bawean berharap Pemkab Gresik segera mengambil langkah konkret dan darurat agar distribusi BBM dan LPG ke Bawean dapat kembali normal, mengingat energi merupakan kebutuhan vital yang menyentuh seluruh sendi kehidupan warga di pulau tersebut.
