Akhir-akhir ini, pembasmian ikan sapu-sapu ramai menjadi sorotan setelah pemerintah bersama masyarakat melakukan pengendalian populasi secara masif di berbagai daerah Indonesia.
Ikan yang dikenal cepat berkembang biak dan sulit dikendalikan ini dinilai merugikan karena merusak ekosistem perairan, mengganggu populasi ikan lokal, hingga merusak jaring nelayan.
Tak cuma ikan sapu-sapu, sejumlah spesies lain diketahui berdampak serius bagi ekosistem perairan. Kehadiran ikan-ikan ini dapat mengganggu keseimbangan lingkungan, mulai dari memangsa biota lokal, merusak habitat, hingga memicu kerugian bagi nelayan. Lantas, ikan apa saja yang termasuk merugikan?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa Itu Ikan Sapu-sapu?
Sebelum membahas ikan apa saja yang merugikan di Indonesia, ada baiknya mengenali lebih dahulu tentang ikan sapu-sapu. Ikan sapu-sapu memiliki nama ilmiah Suckermouth Catfish atau Pleco.
Dalam klasifikasi ilmiah, ikan ini termasuk dalam famili Loricariidae dengan genus seperti Pterygoplichthys dan Hypostomus. Ikan sapu-sapu sendiri bukan ikan domestik, melainkan ikan air tawar yang berasal dari Amerika Selatan.
Dikutip dari US Fish and Wildlife Service, spesies ini tergolong ikan invasif dengan kemampuan menyebar cepat dan beradaptasi dengan lingkungan baru di luar habitat aslinya.
Di habitat asalnya, populasi ikan sapu-sapu masih terkendali karena keberadaan predator alami, seperti peacock bass dan arapaima. Namun, ketika masuk ke perairan lain, ikan ini berkembang pesat dan mendominasi ekosistem karena minimnya predator alami.
Dengan tubuh keras menyerupai pelat, mulut berbentuk pengisap, serta duri tajam pada siripnya, ikan ini sulit dimangsa predator lain. Ikan sapu-sapu juga dikenal memiliki daya tahan tinggi.
Spesies ini mampu bertahan hidup di berbagai kondisi, mulai air bersih hingga perairan tercemar dengan kadar oksigen rendah. Kemampuan ini karena ikan sapu-sapu dapat mengambil oksigen langsung dari udara dan bertahan di luar air dalam waktu tertentu.
Adaptasi yang tinggi membuat ikan ini mudah berkembang biak dengan cepat di berbagai perairan, termasuk sungai dan waduk. Selain itu, ikan sapu-sapu juga mampu menggali dasar perairan untuk membuat sarang. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini berpotensi merusak struktur sungai dan mempercepat sedimentasi.
Dari Ikan Hias hingga Jadi Hama Perairan
Dikutip dari laman resmi Badan Karantina Indonesia (Barantin), awalnya ikan ini masuk ke Indonesia sebagai ikan hias akuarium. Namun, populasinya kemudian berkembang tanpa kendali karena dilepas ke alam bebas.
Seiring waktu, ikan ini masuk dalam kategori spesies asing invasif yang mengancam ekosistem perairan. Keberadaannya mengganggu keseimbangan lingkungan karena bersaing dengan ikan lokal dalam memperebutkan makanan dan habitat.
Tak hanya memakan alga, ikan sapu-sapu juga bersifat omnivora oportunistik yang memakan telur ikan lain, tumbuhan air, hingga organisme kecil yang berperan penting dalam rantai makanan. Hal ini membuat ikan lokal kesulitan berkembang biak dan mempertahankan populasinya.
Di sisi lain, ikan ini memiliki kemampuan berkembang biak yang sangat tinggi. Dalam sekali bertelur, ikan sapu-sapu dapat menghasilkan ratusan telur yang dijaga hingga menetas, sehingga tingkat kelangsungan hidupnya tinggi.
Secara keseluruhan, ikan sapu-sapu dianggap hama dan merugikan karena populasinya sulit dikendalikan, minim predator alami, dan berpotensi mendominasi perairan hingga menekan populasi ikan asli.
Selain Ikan Sapu-sapu, Ini Ikan yang Merugikan
Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KKP) Nomor 19/PERMEN-KP/2020 Tahun 2020 mengatur larangan pemasukan, pembudidayaan, peredaran, hingga pengeluaran jenis ikan yang dinilai membahayakan dan merugikan.
Selain ikan sapu-sapu, terdapat sejumlah ikan lain yang juga termasuk ke dalam kategori merugikan. Dalam aturan tersebut, tercatat ada 75 ikan yang termasuk kategori merugikan selain ikan sapu-sapu, berikut di antaranya.
- Hydrocynus vittatus - African tigerfish
- Hydrocynus goliath - Goliath tigerfish
- Hoplias malabaricus - Wolf fish
- Asterophysus batrachus - Gulper fish
- Parambassis alleni - Asiatic glassfish
- Parambassis baculis - Himalayan glassy perchlet
- Parambassis bistigmata - (tidak ada nama umum)
- Parambassis confinis - Sepik glass perchlet
- Parambassis dayi - Day's glassy perchlet
- Parambassis gulliveri - (tidak ada nama umum)
- Parambassis lala - High-fin glassy perchlet
- Parambassis pulcinella - Humphead glassy perchlet
- Parambassis ranga - Indian glassy perchlet
- Parambassis serrata - (tidak ada nama umum)
- Parambassis thomassi - Western Ghats glassy perchlet
- Parambassis vollmeri - (tidak ada nama umum)
- Parambassis waikhomi - (tidak ada nama umum)
- Pseudambassis roberti - (tidak ada nama umum)
- Arapaima gigas - Giant arapaima/pirarucu/paiche
- Arapaima leptosoma - Torpedo-shaped arapaima
- Channa argus - Northern snakehead/ocellated snakehead / amur snakehead
- Channa marulius - Giant snakehead/bullseye snakehead / great snakehead / indian snakehead
- Bramocharax bransfordii - Long jaw tetra
- Amatitlania nigrofasciata - Convict cichlid/zebra cichlid
- Amphilophus citrinellus - Midas cichlid
- Amphilophus labiatus - Red devil
- Andinoacara rivulatus - Green terror/gold saum
- Cichla ocellaris - Peacock bass/peacock cichild
- Cichla piquiti - Azul
- Cichla melaniae - (tidak ada nama umum)
- Cichlasoma trimaculatum - (tidak ada nama umum)
- Mayaheros urophthalmus - Mayan cichlid/Mexican mojarra
- Cribroheros alfari - Pastel cichlid
- Hemichromis elongatus - Banded jewel cichlid
- Parachromis managuensis - Jaguar guapote
- Pelmatolapia mariae - Spotted mangrove cichlid / black mangrove cichlid
- Tilapia sparrmanii - Banded tilapia
- Coptodon zillii - Redbelly tilapia/striped tilapia/cichild
- Coptodon tholloni - Slebra/Ekouni
- Sarotherodon occidentalis - Perch Africaine / West African tilapia
- Misgurnus anguillicaudatus - Weather loach/pond loach
- Hydrolycus armatus - Tetra vampir/fish puppy
- Cyprinella lutrensis - Red shiner
- Leuciscus idus - Golden orfe/ide/orfe / silver orfe
- Tinca tinca - Doctor fish/green tench
- Esox spp. - Pike
Esox americanus - Redfin pickerel - Acanthogobius flavimanus - Yellowfin goby
- Neogobius melanostomus - Black spotted goby / Round goby
- Ameiurus nebulosus - Brown Bullhead/Bullhead, Catfish/Common Bullhead/Common Catfish/Horned Pout / Hornpout / Marbled Bullhead/Minister / Mudcat / Northern Brown
Bullhead - Pylodictis olivaris - Flathead catfish
- Lates niloticus - Nile perch/Victoria Perch
- Micropterus salmoides - Black Bass/Green Bass/Large-Mouth Bass / Largemouth Bass / Largemouth Black Bass/Northern / Largemouth Bass
- Atractosteus spp. - Gar
- Lepisosteus spp. - Gar
- Pterygoplichthys spp. - Ikan sapu-sapu
- Megalops atlanticus - Atlantic tarpon
- Coreoperca kawamebari - Japanese perch
- Phalloceros caudimaculatus - Caudo / Speckled Mosquitofish / Spottail Mosquitofish / Spotted Livebearer / Dusky Millions Fish
- Serrasalmus spp. - Piranha
- Pygocentrus spp. - Piranha
- Pristobrycon striolatus - Pristo Striolatus / Striolatus / Caribito
- Metynnis argenteus - Silver dollar
- Electrophorus electricus - Electric eel
- Colomesus psittacus - Banded Puffer/Banded Pipefish/Parrot Pufferfish
- Tetraodon spp. - Puffer
- Paracanthopoma parva - (tidak ada nama umum)
- Plectrochilus spp. - Canero
- Vandellia spp. - Candiru
- Pacifastacus leniusculus - Californian Crayfish/Pacific Crayfish/Signal Crayfish
- Charybdis japonica - Asian Crab/Asian Padle Crab/Blue Crab/Swimming Crab
- Orconectes spp. - Crayfish
- Procambarus spp - Louisiana/Crayfish/Marbled/Crayfish
- Perna perna - Brown Mussel/ Mexilhao Mussel
- Rhinella marina - Bufo Toad/Bullfrog/Cane Toad/Giant American Toad/Giant Toad
- Osteopilus septentrionalis - Cuban Tree-frog/Rana Cubana / Giant Tree-frog/Marbled Tree-Toad
Jenis-jenis ikan tersebut dilarang karena berpotensi membahayakan ekosistem maupun manusia. Beberapa di antaranya bersifat predator yang dapat mengancam populasi ikan lokal. Ada juga ikan yang mengandung racun atau biotoksin, bersifat parasit, hingga berpotensi melukai dan membahayakan keselamatan manusia.
Karena itu, penangkapan serta pengendalian populasi ikan sapu-sapu dilakukan sebagai upaya menjaga keseimbangan lingkungan dan mencegah kerusakan yang lebih luas pada ekosistem perairan. Sejumlah daerah pun mulai bergerak melakukan pembasmian spesies ini.
