Mengenang Europeesche Lagere School, Sekolah Kartini Dulu

Mengenang Europeesche Lagere School, Sekolah Kartini Dulu

Jihan Navira - detikJatim
Kamis, 16 Apr 2026 16:30 WIB
Ilustrasi Sekolah Lama
Ilustrasi Europeesche Lagere School (Foto: Tropenmuseum)
Surabaya -

Di balik semangat emansipasi perempuan yang digaungkan Raden Ajeng Kartini, tersimpan jejak pendidikan kolonial yang membentuk cara berpikirnya sejak kecil. Salah satunya adalah Europeesche Lagere School (ELS), sekolah dasar bergengsi pada masa Hindia Belanda yang tidak bisa diakses sembarang orang, terlebih bagi perempuan pribumi.

Lantas, apa sebenarnya ELS dan bagaimana sejarah terbentuknya?

Sejarah Pendidikan di Indonesia

Sebelum membahas ELS, akan lebih baik jika detikers mengerti terlebih dahulu bagaimana sejarah pendidikan di Indonesia pada masa kolonial yang rupanya tidak bisa dilepaskan dari kepentingan kekuasaan dan penyebaran agama.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasarkan buku Sejarah Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan dalam Lima Masa oleh Dr. Lin Purnamasari, S.Pd., M.Pd. dan Prof. Dr. A.Y. Soegeng Ysh, M.Pd., pendidikan saat itu lebih diarahkan untuk membentuk tenaga terampil yang mendukung sistem kolonial, bukan membangun karakter bangsa.

Kehadiran bangsa Eropa, mulai dari Portugis hingga Belanda, membawa sistem pendidikan yang berlandaskan misi keagamaan sekaligus kepentingan administratif. Portugis lebih dulu memperkenalkan pendidikan dasar untuk menunjang penyebaran Katolik, sebelum kemudian digantikan oleh Belanda yang mengembangkan sekolah-sekolah berbasis Kristen Protestan.

ADVERTISEMENT

Selama abad ke 16-18, sistem pendidikan Belanda melalui sekolah justru giat dilaksanakan di daerah Kepulauan Maluku karena penduduknya sudah memeluk agama Kristen Protestan.

Sampai akhir abad ke-18, Belanda baru sempat mendirikan sekolah-sekolah hanya di beberapa tempat saja, di antaranya Batavia, Banten, Cirebon, Sumatera Barat, dan Makasar.

Belanda Kenalkan Sistem Pendidikan Formal

Sistem pendidikan formal yang lebih terstruktur pada rakyat Indonesia diperkenalkan Belanda pada akhir era abad ke 19 dan awal abad ke 20, yaitu:

1. ELS (Europeesche Lagere School) - Sekolah dasar bagi orang Eropa.

2. HIS (Hollandsch-Inlandsche School) - Sekolah dasar bagi pribumi.

3. MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) - Sekolah menengah.

4. AMS (Algeme(e)ne Middelbare School) - Sekolah atas.

5. HBS (Hogere Burger School) - Pra-Universitas.

Pada abad ke-20, Belanda juga mendirikan sejumlah perguruan tinggi di Pulau Jawa pada abad ke-20 dengan tujuan memperdalam pendidikan di Indonesia. Beberapa perguruan tinggi yang didirikan antara lain:

1. STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) - Sekolah Kedokteran di Batavia.

2. NIAS (Nederland-Indische Artsen School) - Sekolah kedokteran di Surabaya.

3. RHS (Rechts Hoge School) - Sekolah hukum di Batavia.

4. THS (De Technische Hoges School) - Sekolah teknik di Bandung.

Europeesche Lagere School

ELS atau Europeesche Lagere School pertama kali didirikan di Batavia pada 1818 sebagai sekolah dasar.

Pendirian sekolah tersebut diawali oleh keinginan para penguasa Belanda yang sama-sama ingin melanjutkan usaha Daendels dalam bidang pendidikan. Reinwardt yang terkenal sebagai pendiri Kebun Raya Bogor kemudian mengusahakannya dengan menyusun undang-undang pendidikan dan pengajaran yang memuat peraturan peraturan atau ketentuan-ketentuan umum mengenai persekolahan, pengawasan dan penyelenggaraan pendidikan di sekolah.

Pada 1818, keluar lah peraturan pemerintah yang memuat peraturan umum mengenai persekolahan dan sekolah rendah. Berdasarkan undang-undang tersebut, pada 24 Februari 1817 di Batavia (Jakarta) dibuka sekolah pertama untuk anak-anak Eropa yaitu Europeesche Lagere School (ELS).

Mencontoh sekolah dasar yang ada di Belanda, pada 1820 sekolah jenis ELS kemudian dikembangkan menjadi tujuh, yaitu dua di Batavia (Welterden da Molenvliet), dan masing-masing satu di Cirebon, Semarang, Surakarta, Surabaya, dan Gresik yang sama-sama diberikan pelajaran menulis, membaca, berhitung, bahasa Belanda, Sejarah dan Ilmu Bumi.

Setelah berlangsung selama 9 bulan, pada 1826 pendidikan terganggu akibat adanya usaha-usaha penghematan sehingga pendidikan disederhanakan. Oleh karena itu, sekolah-sekolah masih hanya ditujukan untuk anak-anak Belanda dan anak-anak Indonesia yang memeluk agama Nasrani.

Sebagian besar anak-anak Eropa semakin dapat menikmati pendidikan dasar pada 1930. Tepatnya ketika kekuasaan di Indonesia beralih ke tangan Gubernur Jenderal Van de Bosh atau yang dikenal dengan Bapak Cultuurestelsel atau Tanam Paksa yang membutuhkan tenaga kerja terdidik. Maka, bidang pendidikan baik untuk golongan Eropa maupun bumiputera ditingkatkan.

Sekolah dasar pada 1833 dikembangkan menjadi 19 sekolah, 1845 menjadi 25 sekolah, 1895 menjadi 159 sekolah, dan 1902 menjadi 173 sekolah.

Namun, sampai pertengahan abad ke-19, ELS secara kualitatif disebut menyedihkan menurut ukuran Orang Belanda. Murid-murid yang berasal dari keturunan campuran dan anak tidak sah, hingga anak keturunan Eropa totok yang sehari-harinya berbahasa Melayu menjadikan sulitnya menerima pelajaran yang diberikan menggunakan Bahasa Belanda.

Saat era kolonial, warga elite Eropa menyekolahkan anaknya untuk pendidikan dasar di Europeesche Lagere School (ELS). Awalnya sekolah itu hanya terbuka bagi warga Belanda di Hindia Belanda dan menggunakan bahasa pengantar Bahasa Belanda.

Sejak tahun 1903, kesempatan belajar di sana juga diberikan kepada orang-orang pribumi yang mampu dan warga Tionghoa. Namun setelah beberapa tahun, pemerintah Belanda beranggapan bahwa hal ini ternyata membawa dampak negatif dari sudut pandang pemerintah kolonial, maka ELS kembali dikhususkan bagi warga Belanda saja.

Pada 1907, sekolah khusus warga pribumi kemudian dibuka dan dinamakan HIS- Holandsche Indlansche School, sementara sekolah bagi warga Tionghoa yaitu Hollandsch-Chineesche School (HCS) pada 1908.

Tujuan didirikannya sekolah bagi pribumi adalah untuk mempersiapkan pegawai-pegawai yang bekerja untuk Belanda sehingga para lulusan pendidikan tradisional tidak bisa bekerja baik di pabrik maupun sebagai tenaga birokrat.

R.A. Kartini Bersekolah di ELS

Europeesche Lagere School (ELS) adalah sekolah dasar berbahasa Belanda yang pada awalnya diperuntukkan terutama bagi anak‑anak keturunan Eropa dan putra/putri keluarga pribumi yang tergolong bangsawan. Karena Kartini berasal dari keluarga bangsawan (putri bupati Jepara), ia mendapat kesempatan masuk ELS, yang jarang bisa diakses perempuan pribumi biasa saat itu.

Kartini bersekolah di ELS hingga usianya sekitar 12 tahun dan tidak melanjutkan ke sekolah menengah seperti Hogere Burger School (HBS) karena tradisi "pingit" bagi perempuan bangsawan serta larangan ayahnya. Di ELS, ia belajar bahasa Belanda dan mulai terpapar pemikiran‑pemikiran modern Eropa, yang kemudian menjadi dasar gagasan emansipasi perempuan yang ia perjuangkan.

Pada akhirnya, Europeesche Lagere School (ELS) bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan cerminan sistem sosial kolonial yang sarat batasan sekaligus peluang.

Dari ruang yang terbatas itulah, sosok seperti Raden Ajeng Kartini mampu menyerap gagasan-gagasan baru yang kemudian ia olah menjadi pemikiran besar tentang kesetaraan dan kemajuan perempuan dan dari sana lah kita juga diingatkan bahwa akses pendidikan yang setara adalah kunci penting untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil dan berdaya.




(ihc/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads