Sisi Kelam Kehidupan Perempuan di Era Kartini

Sisi Kelam Kehidupan Perempuan di Era Kartini

Salma Nisrina Fahriyyah - detikJatim
Rabu, 15 Apr 2026 09:00 WIB
Poster Hari Kartini 2026.
Poster Hari Kartini 2026. Foto: Canva
Surabaya -

Nama Raden Ajeng (RA) Kartini sering dikaitkan dengan emansipasi perempuan. Tapi di balik itu, ada realitas kelam yang jarang dibahas. Utamanya tentang bagaimana perempuan di zamannya hidup dalam sistem yang mengekang dari berbagai sisi.

Kartini memang lahir sebagai anak bangsawan. Ia punya akses ke pendidikan dasar yang mengajarkannya membaca dan menulis. Namun, justru dari dalam privilege itulah ia menyaksikan secara langsung bagaimana sistem sosial pada masanya membatasi perempuan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perempuan Lahir, Lalu Mati Tanpa Punya Kehidupan

Pada masa Kartini, di sekitar abad ke-19 lalu, perempuan seakan hidup hanya untuk tunduk pada perintah dan adat. Apalagi di masa itu sangatlah dipengaruhi paham feaodalisme, patriarki, dan kolonialisme.

Sejak lahir sebagai putri seorang bupati di masa Hindia Belanda, Kartini berada dalam sistem feodal yang sangat kaku. Status sosial menentukan hampir segalanya, termasuk akses pendidikan dan kebebasan hidup.

ADVERTISEMENT

Kaum bangsawan memang punya lebih banyak kebebasan dibanding rakyat biasa, tapi di sisi lain, mereka juga terikat oleh adat yang tidak kalah mengekang, terutama bagi perempuan.

Dulunya laki-laki dan kaum ningrat berada di posisi tertinggi, sementara perempuan ditempatkan dalam peran domestik yang sempit. Kartini sendiri mengkritik keras praktik-praktik seperti poligami dan norma adat yang merugikan perempuan.

Kelamnya Masa Pingitan

Tekanan itu semakin terasa ketika Kartini memasuki usia remaja. Dalam budaya Jawa saat itu, seorang gadis yang sudah mengalami menstruasi dianggap siap menjadi perempuan dewasa dan harus menjalani tradisi pingitan. Pada tahun 1892, di usia sekitar 12 tahun, Kartini dipaksa menghentikan pendidikannya dan menjalani masa pingitan di rumah.

Selama masa ini, ruang geraknya benar-benar dibatasi. Ia tidak diperbolehkan keluar rumah atau berinteraksi bebas dengan dunia luar sampai ada laki-laki yang datang melamarnya.

Dunia yang sebelumnya mulai ia kenal melalui pendidikan, tiba-tiba menyempit hanya sebatas dinding rumah. Bahkan dalam kesehariannya, ia harus mengikuti berbagai aturan ketat sebagai putri bangsawan. Ia harus belajar berbicara halus, berjalan perlahan, menundukkan kepala, hingga menahan ekspresi diri.

Pingitan yang awalnya dijalani sendirian, kemudian ditemani oleh adik-adiknya, Roekmini dan Kardinah. Namun, hal itu tidak serta-merta mengurangi tekanan batin yang ia rasakan.

Pingitan Membuat Kartini Sadar Hal Penting

Justru dalam keterbatasan itulah Kartini mulai banyak berpikir. Ia merenungkan kembali pengalaman, adat, dan sistem sosial yang selama ini ia lihat, terutama soal pernikahan dan posisi perempuan di dalamnya.

Kartini sadar bahwa perempuan dalam sistem adat lebih sering mengalami ketidakadilan. Mereka tidak memiliki banyak hak dalam rumah tangga, tetapi dibebani kewajiban penuh terhadap suami.

Sementara itu, laki-laki memiliki lebih banyak kebebasan, termasuk dalam praktik poligami. Perempuan sulit melawan karena hidup mereka bergantung secara ekonomi pada suami.

Sedihnya lagi, sistem ini bisa terus bertahan karena perempuan tidak punya akses untuk melawan. Bukan karena mereka tidak mau, tetapi karena mereka tidak punya pilihan. Ketergantungan ekonomi membuat mereka harus menerima keadaan, bahkan ketika itu merugikan diri mereka sendiri.

Di titik inilah pemikiran Kartini mulai terbentuk dengan lebih jelas. Ia percaya bahwa kunci perubahan adalah pendidikan.

Perempuan harus diberi kesempatan belajar agar bisa mandiri dan tidak sepenuhnya bergantung pada laki-laki. Gagasan ini sudah ia pikirkan bahkan sejak usia belasan tahun, di tengah kondisi pingitan yang membatasi dirinya.

Kolonial yang Memperparah Keadaan

Selain feodalisme dan patriarki, situasi kolonial juga memperparah keadaan. Pada masa itu, pemerintah Hindia Belanda memang membuka akses pendidikan, tetapi sangat terbatas.

Sekolah hanya diperuntukkan bagi anak bangsawan, dan itu pun dengan tujuan agar bisa mencetak tenaga kerja yang mendukung sistem kolonial, bukan untuk membebaskan cara berpikir.

Kebijakan seperti Cultuurstelsel atau Sistem Tanam Paksa (1830-1870) menunjukkan bagaimana kolonialisme mengeksploitasi masyarakat pribumi, termasuk melalui pendidikan yang diarahkan untuk kepentingan ekonomi kolonial.

Pendidikan tidak dirancang untuk membuka wawasan tentang kebebasan atau kesetaraan, melainkan untuk meningkatkan produktivitas kerja. Belanda juga membatasi penyebaran ide-ide besar seperti kebebasan dan kesetaraan yang saat itu berkembang di Eropa pasca Revolusi Prancis.

Mereka khawatir bahwa jika masyarakat pribumi, termasuk perempuan, mendapatkan akses pada pemikiran tersebut, akan muncul kesadaran untuk melawan sistem yang ada.

Surat Kartini Membuka Jalan Keadilan

Karena banyaknya ketidakadilan dan keadaan yang dulunya sangat mengekang, surat yang Kartini kirimkan kepada teman-temannya di Belanda adalah hal yang membuka kesempatan untuk perempuan.

Dalam surat-suratnya, Kartini kerap menyuarakan keresahan sekaligus harapannya, agar perempuan pribumi bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Mimpinya sederhana, tetapi revolusioner untuk zamannya.

Ia bertekad untuk mendirikan sekolah bagi perempuan yang mengajarkan membaca, menulis, berhitung, serta keterampilan praktis agar mereka punya pilihan hidup, bukan sekadar menjadi istri.

Kartini sangat berjuang melawan sistem berlapis yang mengekang perempuan dari berbagai arah saat hidupnya. Justru karena ia hidup di tengah tekanan feodalisme, patriarki, dan kolonialisme, pemikirannya menjadi begitu kuat dan masih saja dibahas hingga sekarang.

Tapi, jika melihat keadaan sekarang pun sebenarnya kita tak begitu berubah. Menurut kalian bagaimana detikers? Semoga perjuangan Kartini menginspirasi banyak perempuan untuk selalu memperjuangkan impiannya ya!




(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads