Kalau bicara soal RA Kartini, yang sering dibahas biasanya soal perjuangannya memperjuangkan hak perempuan. Tapi, jarang yang menyoroti satu sosok penting dalam hidupnya setelah menikah, yaitu sang suami.
Padahal, di masa ketika perempuan masih dibatasi ruang geraknya, Kartini justru mendapat dukungan untuk tetap menjalankan gagasannya. Lalu, seperti apa sebenarnya sosok suami Kartini dan peran yang ia berikan? Simak selengkapnya yuk, detikers!
Sosok Suami Kartini, Raden Adipati Djojo Adiningrat
Suami Kartini adalah Raden Adipati Djojo Adiningrat, seorang bupati di Rembang yang berasal dari kalangan bangsawan. Dalam catatan sejarah, ia dikenal dengan nama lengkap K R M Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia bukan sosok biasa. Sebagai Bupati Rembang yang menjabat cukup lama, ia punya posisi penting, sekaligus pengaruh besar di masyarakat. Namun yang menarik, di balik statusnya sebagai pejabat pada masa kolonial, ia dikenal memiliki pemikiran yang relatif maju untuk ukuran zamannya.
Kisah Pernikahan Kartini dan Djojo Adiningrat
Dikutip dari buku berjudul 'Sisi Lain Kartini' karya Djoko Marihandono dkk, Kartini menikah dengan Djojo Adiningrat pada 8 November 1903. Saat itu, sang bupati sudah berstatus duda dan memiliki anak-anak dari pernikahan sebelumnya.
Namun, Kartini tidak serta-merta menerima lamaran begitu saja. Ia mengajukan syarat yang cukup berani untuk ukuran saat itu.
Salah satunya adalah keinginan agar ia tetap bisa menjalankan cita-citanya, termasuk membuka sekolah untuk perempuan. Syarat ini kemudian disetujui, inilah yang menjadi salah satu alasan pernikahan mereka tetap terlaksana.
Hubungan Kartini dan Suaminya yang Tidak Biasa di Zamannya
Di masa itu, hubungan suami istri cenderung kaku dan tidak setara. Namun, Kartini justru mengalami hal yang berbeda.
Berbeda dengan istri pejabat lainnya, Kartini sering berdiskusi dengan suaminya secara panjang lebar. Hal inilah yang menjadi persoalan pada era itu, karena banyak di antara istri yang hanya berbicara sesingkat mungkin dengan suaminya.
Kartini memiliki nasib baik, karena banyak hal dapat dirundingkan dengan suaminya yang sangat mendukung usaha istrinya bersama adik-adiknya.
Mengenai pribadi Bupati Rembang, Kartini menulis, bahwa ia sepaham dan sependapat dengan Kartini dalam hal semangat mencintai rakyat, dan sangat mendukung usaha serta cita-cita Kartini.
Kartini sendiri merasa cukup tenang menjelang pernikahannya. Ia bahkan mengungkapkan tidak memiliki kekhawatiran akan diperlakukan tidak adil.
Ketenangan ini muncul sebab Bupati Rembang sendiri telah banyak melakukan perbaikan di wilayahnya yang menimbulkan rasa kagum dan hormat pada diri Kartini terhadap calon suaminya.
Oleh karena itu, Kartini yakin calon suaminya akan memberikan kesempatan kepada Kartini untuk mengembangkan sayapnya.
Peran Suami Kartini dalam Mendukung Pendidikan Perempuan
Salah satu bentuk dukungan paling terasa dari Raden Adipati Djojoadiningrat adalah ketika ia memberi ruang penuh bagi Kartini untuk mewujudkan idenya soal pendidikan perempuan.
Bukan cuma sekadar mengizinkan saja, bahkan ia juga ikut memfasilitasi berdirinya sekolah perempuan di Rembang. Lokasinya pun dibuat cukup strategis, di dekat kompleks kantor kabupaten.
Berkatnya, perempuan Jawa yang sebelumnya terbiasa dengan budaya pingit, mulai punya kesempatan untuk belajar dan berkembang.
Kartini dan Realitas Poligami
Namun, di balik semua dukungan tersebut, ada satu kenyataan yang tak bisa dihindari Kartini. Satu hal yang sering jadi pertanyaan adalah bagaimana Kartini menghadapi kenyataan bahwa suaminya telah memiliki istri lain.
Apalagi, Kartini dikenal memiliki pandangan kritis terhadap praktik poligami. Namun nyatanya, Kartini tetap menjalani peran sebagai istri dengan sikap yang cukup dewasa. Ia menerima anak-anak suaminya, dan memperlakukan mereka dengan penuh kasih.
Situasi ini memang tidak sederhana. Tapi justru di sinilah terlihat bagaimana Kartini tetap berpegang pada nilai kemanusiaan dan empati, tanpa sepenuhnya meninggalkan idealismenya.
(irb/hil)
