Kasus Suspek Campak Capai 126 di Surabaya, Mayoritas Anak

Kasus Suspek Campak Capai 126 di Surabaya, Mayoritas Anak

Esti Widiyana - detikJatim
Rabu, 08 Apr 2026 16:00 WIB
Ilustrasi campak
Ilustrasi campak/Foto: Freepik
Surabaya -

Ratusan anak di Kota Surabaya terdata sebagai suspek penyakit campak. Selain di Surabaya, sejumlah daerah di Jawa Timur juga dilaporkan mengalami peningkatan kasus serupa pada anak.

"Sampai bulan Maret ini, ada 126 suspek campak. Laporan ditemukan di beberapa wilayah di Kota Surabaya dan masih dalam proses pemantauan serta penanganan lebih lanjut," kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya dr Billy Daniel Massakh, Rabu (8/4/2026).

Dari total 126 suspek campak tersebut, satu anak saat ini menjalani perawatan di rumah sakit dengan kondisi klinis stabil. Sementara itu, kasus lainnya menjalani rawat jalan dan masih dalam pemantauan puskesmas setempat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Billy menjelaskan, seluruh kasus yang tercatat masih berstatus suspek atau terduga campak. Kepastian diagnosis masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium, sehingga belum dapat dinyatakan sebagai kasus terkonfirmasi.

ADVERTISEMENT

Campak diketahui dapat menyerang semua kelompok usia, baik anak-anak maupun dewasa. Namun, kelompok usia anak menjadi yang paling rentan.

Berdasarkan data Dinkes Surabaya, mayoritas kasus suspek campak ditemukan pada anak usia di bawah 10 tahun. Hal ini diduga karena belum terbentuknya kekebalan tubuh atau belum lengkapnya imunisasi.

Ia menjelaskan, gejala campak umumnya meliputi demam, batuk, pilek, mata merah atau berair, serta munculnya ruam kemerahan pada kulit yang biasanya diawali dari wajah dan menyebar ke seluruh tubuh.

Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan. Pasalnya, jika tidak ditangani dengan cepat, campak dapat menimbulkan komplikasi serius seperti diare berat, radang paru (pneumonia), infeksi telinga, hingga peradangan otak (ensefalitis) yang berisiko fatal.

"Penyebab utama campak adalah infeksi virus campak yang sangat mudah menular melalui percikan droplet. Risiko penularan akan lebih tinggi pada individu yang belum mendapatkan imunisasi lengkap atau memiliki kekebalan tubuh yang rendah," jelasnya.

Sebagai langkah pencegahan, Dinkes Surabaya memperkuat program imunisasi rutin dan imunisasi kejar, serta meningkatkan surveilans dan deteksi dini kasus di fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes).

"Memberikan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat, terutama pola hidup bersih dan sehat. Menerapkan kewaspadaan di Fasyankes. Melakukan koordinasi lintas sektor dalam pengendalian penyakit menular," pungkasnya.




(esw/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads