Universitas Brawijaya (UB) resmi memperkuat sistem perlindungan kesehatan mental bagi mahasiswanya. Langkah ini diambil sebagai respons atas fenomena tekanan psikologis di lingkungan kampus yang kian kompleks.
Tidak lagi sekadar menunggu laporan, kampus biru ini kini memperkuat sistem deteksi dini dengan mengedepankan budaya pendengar aktif.
Penanganan yang terintegrasi untuk memutus rantai tekanan mental yang kerap berujung pada tindakan fatal juga tengah diupayakan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kaprodi Psikiatri Fakultas Kedokteran UB, dr. Frilya Rachma Putri menjelaskan, tekanan mental yang dialami mahasiswa merupakan hasil akumulasi dari berbagai persoalan yang saling bertumpuk.
Menurut dr Frilya, fase transisi dari remaja menuju dewasa menjadikan mahasiswa sangat rentan terhadap kebingungan peran jika tidak didukung oleh lingkungan yang peka.
"Kampus tidak bisa hanya reaktif. Kampus perlu memiliki 'radar', bukan sekadar 'ambulans'. Artinya, kita harus mampu membaca sinyal awal sebelum krisis benar-benar terjadi," ujar dr. Frilya kepada wartawan, Rabu (8/4/2026).
Langkah konkret yang diambil UB mencakup penguatan layanan konseling gratis yang sudah berjalan sejak 2017 agar menjadi lebih komprehensif.
Selain memastikan akses pembiayaan melalui BPJS, seluruh elemen kampus kini didorong untuk menjadi garis terdepan sebagai pendengar aktif bagi mahasiswa yang membutuhkan ruang bicara.
Di sisi lain, UB juga mempertegas komitmen perlindungan mahasiswa dengan menerapkan kebijakan toleransi nol terhadap segala bentuk perundungan dan kekerasan seksual.
Sebagai jaring pengaman terakhir, kampus menggandeng Program Indonesia Sehat Jiwa dan Rumah Sakit Universitas Brawijaya (RSUB) untuk memastikan mahasiswa yang berada dalam kondisi krisis mendapatkan penanganan medis yang cepat melalui layanan IGD dan tenaga ahli.
Sementara Ketua Program Indonesia Sehat Jiwa Sofia Ambarini, menegaskan bahwa penanganan kesehatan mental tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus menyentuh aspek promotif hingga rehabilitatif.
Kerja sama dengan RSUB menjadi bukti nyata bahwa kampus menyediakan dukungan klinis yang serius bagi mereka yang membutuhkan pertolongan segera.
"Kami juga bekerja sama dengan layanan IGD dan tenaga ahli di RSUB sebagai bentuk penanganan krisis bagi mahasiswa," pungkasnya.
(irb/hil)











































