Miris! Ini Sederet Kasus Bunuh Diri di Malang Sepanjang 2026

Miris! Ini Sederet Kasus Bunuh Diri di Malang Sepanjang 2026

Allysa Salsabillah Dwi Gayatri - detikJatim
Jumat, 27 Mar 2026 15:45 WIB
ilustrasi gantung diri
Ilustrasi. (Foto: Dok.Detikcom)
Surabaya -

Kasus bunuh diri dan percobaan bunuh diri di wilayah Malang sepanjang 2026 menjadi perhatian serius. Baru memasuki bulan ketiga, sejumlah peristiwa sudah terjadi di berbagai lokasi, dengan latar belakang korban yang beragam, sebagian berujung meninggal dunia, sementara lainnya berhasil diselamatkan.

Rentetan kejadian ini memicu kekhawatiran masyarakat sekaligus menjadi pengingat pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental. Para ahli menilai, tekanan hidup, masalah ekonomi, hingga kurangnya dukungan sosial dapat menjadi faktor pemicu yang perlu diantisipasi bersama.

Deretan Kasus Bunuh Diri di Malang Sepanjang 2026

Berikut rangkaian kasus bunuh diri dan percobaan bunuh diri yang terjadi di wilayah Malang sepanjang 2026 :

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. Pria Mau Lompat dari Jembatan Suhat Kota Malang

Kasus percobaan bunuh diri terbaru terjadi pada Rabu (25/3/2026) sekitar pukul 18.00 WIB. Pria tersebut diduga hendak melompat dari Jembatan Soekarno Hatta, Kota Malang. Aksi tersebut berhasil digagalkan oleh sejumlah petugas dan warga sehingga berhasil diselamatkan.

Kapospam UB Iptu Tri Sulistyo mengatakan petugas yang sedang memantau arus lalu lintas di Simpang Tiga Jembatan UB dalam rangka Operasi Ketupat Semeru 2026 mendapati seorang pria yang menunjukkan gelagat mencurigakan. Kecurigaan itu semakin memuncak ketika pria tersebut tampak tidak stabil dan menangis histeris di tepi jembatan.

ADVERTISEMENT

"Saat mencoba melompat ke sungai, anggota kami bersama warga segera bergerak cepat mengamankan yang bersangkutan," ujar Tri Sulistyo kepada wartawan Kamis (26/3/2026)

Diketahui pria berinisial SF tersebut sedang terhimpit masalah pribadi yang melibatkan kekasih dan keluarga kekasihnya. Setelah melihat kondisi emosional pria stabil, petugas langsung mengantarkannya ke kediamannya di kawasan Sumbersari, Kota Malang.

2. Mahasiswa Ditemukan Tak Bernyawa di Lantai Dasar Apartemen Soekarno Hatta

Pemuda berinisial CLS (20) ditemukan meninggal dunia di lantai dasar Apartemen Soekarno Hatta, Jalan Soekarno Hatta, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang pada Rabu (25/3/2026). Sekitar pukul 00.15.

Korban merupakan mahasiswa semester dua di salah satu PTN di Kota Malang, berasal dari Sawah Besar, Jakarta Pusat.

"Dari hasil pemeriksaan dan keterangan saksi, korban sengaja menjatuhkan diri dari kamar nomor 51 yang berada di lantai 11 Apartemen Soehat," ujar Anang Tri Hananta Kapolsek Lowokwaru, kepada wartawan, Rabu (25/3/2026).

Diketahui sebelumnya korban mengunggah pesan perpisahan di media sosial. Pesan tersebut berisi ucapan terima kasih dan permohonan maaf kepada orang-orang yang disayanginya. Korban juga diketahui sudah memiliki niatan untuk mengakhiri hidup sejak setahun lalu.

Jenazah korban telah dievakuasi ke kamar jenazah Rumah Sakit Saiful Anwar untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Pihak kepolisian juga telah menghubungi pihak keluarga di Jakarta.

3. Mahasiswa Asal Pontianak Tewas Gantung Diri di Makam Betek Malang

Seorang pemuda ditemukan gantung diri di area makam umum Betek Jalan Mayjen Panjaitan, Kota Malang pada Senin (2/2/2026) pagi. Korban yang diketahui inisial ESR tersebut berstatus pelajar atau mahasiswa dan merupakan warga Pontianak, Kalimantan Barat.

Kasi Humas Polresta Malang Kota Ipda Lukman Shobikin menyampaikan bahwa peristiwa tersebut terungkap setelah adanya laporan dari warga terkait temuan seseorang yang diduga mengakhiri hidupnya di kawasan makam Betek, sekitar pukul 07.20 WIB.

Diketahui dari hasil olah TKP korban gantung diri di sebuah dahan pohon yang berada di area makam. Belum diketahui latar belakang alasan korban mengakhiri hidupnya.

4. Warga Malang Ditemukan Tewas Tergantung di Kebun Apel

Seorang pria ditemukan tewas mengenaskan dalam keadaan tergantung di sebuah gubuk di kebun apel milik warga pada Senin (19/1/2026) sekitar pukul 07.00 WIB. Pria berinisial AW tersebut merupakan warga Dusun Karas, Desa Madiredo, Kecamatan Pujon.

Korban yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani tersebut ditemukan dalam kondisi tergantung, dengan leher terikat tali tampar yang dikaitkan pada bagian atap gubuk. Saat ditemukan, korban mengenakan pakaian lengkap berupa jaket abu-abu dan celana jins.

Kepala Desa Wiyurejo Muflid Farid membenarkan kejadian tersebut. Namun, ia tidak mengetahui secara detail karena pada saat jenazah ditemukan, dia berada di Kota Batu.

"Saya kurang tahu (untuk detailnya), kalau dari informasi yang saya dapat, jenazah ini ditemukan pada sekitar pukul 09.00 WIB," ungkap Farid saat dihubungi detikJatim pada Senin (19/1/2026).

5. Percobaan Bunuh Diri oleh Mahasiswa di Jembatan Suhat Malang

Seorang mahasiswa berinisial TA asal Jakarta mencoba mengakhiri hidupnya dengan melompat di Jembatan Jalan Soekarno-Hatta (Suhat), Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Beruntung, korban selamat meski mengalami luka di sejumlah bagian tubuh.

Kapolsek Lowokwaru Kompol Anang Tri Hananta menyampaikan kejadian tersebut pertama kali diketahui oleh pengguna jalan sekitar pukul 00.30 WIB. Melihat ada yang melompat, saksi kemudian melapor kepada pihak kepolisian. Petugas bersama tim medis kemudian mendatangi lokasi kejadian.

"Saat tiba di lokasi, petugas menemukan korban dalam kondisi masih hidup. Dari pengecekan korban diperkirakan mengalami korban luka patah tulang di bagian tangan kanan," kata Anang.

Selanjutnya, tim medis bersama relawan mengevakuasi korban dan membawanya ke RS dr Saiful Anwar (RSSA) Kota Malang untuk mendapatkan penanganan medis.

Tanggapan Akademisi Atas Maraknya Bunuh Diri Mahasiswa di Kota Malang

Sejumlah korban dalam kasus percobaan bunuh diri dan bunuh diri diketahui berstatus mahasiswa. Dosen Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Fuji Puji Astutik menilai faktor akademik seperti skripsi bukan satu-satunya penyebab melainkan hanya permukaan dari persoalan yang lebih kompleks.

Menurutnya kerentanan mahasiswa kerap dipengaruhi pengalaman masa kecil, pola asuh, hingga trauma, ditambah minimnya kesiapan mental dalam menghadapi masalah. Tekanan juga diperparah standar sosial tinggi dan pengaruh media sosial yang memicu perbandingan tidak sehat.

"Belum lagi perbedaan cara pandang antar generasi; jika dulu mahasiswa dapat nilai C mungkin hanya merasa perlu mengulang, sekarang bagi Gen Z, mendapatkan nilai B saja sudah dianggap sebagai kegagalan besar karena standar sosial yang terlalu tinggi," bebernya.

Fuji pun mendorong kampus lebih serius memperhatikan kesehatan mental dengan melakukan screening kesehatan mental sejak dini.

Melihat urgensi ini, Fuji mendorong agar institusi pendidikan tinggi tidak hanya berfokus pada kecerdasan intelektual, tetapi juga mulai serius melakukan screening kesehatan mental sejak dini.

"Sering kali mereka yang memiliki tingkat depresi tinggi justru tidak tampak, bahkan mereka yang biasanya menjadi pemecah masalah bagi orang lain pun bisa memiliki keinginan itu karena merasa tidak ada yang benar-benar mengerti mereka," pungkas Fuji.




(auh/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads