Taufik Ferdiansyah (25) harus menempuh perjalanan panjang setiap hari untuk mendidik anak bangsa. Guru agama di SMP Negeri 1 Wajak, Kabupaten Malang ini rela melalui perjalanan pulang pergi (PP) sekitar 150 kilometer setiap hari dari rumahnya di Gempol, Pasuruan.
Rutinitas itu dimulai sejak dini hari. Taufik berangkat sebelum Subuh, sekitar pukul 04.45 WIB, menggunakan sepeda motor dari rumah menuju Terminal Arjosari, Malang. Setibanya di terminal, motor tersebut ia titipkan untuk kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan bus menuju sekolah.
Ia harus menyesuaikan perjalanan dengan jadwal bus yang tidak selalu pasti. Kondisi ini membuat waktu tiba di sekolah kerap berubah. Kadang ia sudah sampai pukul 06.30 WIB, namun tak jarang juga mendekati bahkan melewati jam masuk.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau dari rumah jam 04.45 WIB, sampai sekolahnya itu menyesuaikan dapat busnya. Kadang bisa 06.30 WIB sampai sekolahan. Bisa jam 06.45 WIB sampai sekolah, jam 07.00 WIB, kadang bisa jam 07.00 WIB lebih. Tergantung busnya," jelas Taufiq saat dihubungi detikJatim, Selasa (7/4/2026).
Sepulang mengajar, Taufik kembali menempuh rute serupa. Taufik biasanya meninggalkan sekolah sekitar pukul 15.30 WIB, dan baru tiba di rumah menjelang Magrib.
Ia naik bus dari Malang menuju Terminal Arjosari, lalu melanjutkan perjalanan dengan sepeda motor yang dititipkan sebelumnya, hingga sampai ke rumah di Gempol. Dalam sehari, total waktu yang dihabiskan di jalan bisa sekitar empat jam, termasuk perjalanan pulang.
Awalnya, Taufik lebih sering menempuh perjalanan dengan sepeda motor untuk pulang pergi. Momen itu juga sempat ia bagikan melalui akun Instagram pribadinya @taufikferdian_syah, hingga menjadi viral dan ditonton lebih dari 446 ribu kali.
Dalam video yang diunggah, ia terlihat harus menghadapi berbagai kondisi di jalan, mulai dari panas terik hingga hujan di perjalanan. Kondisi cuaca yang tidak menentu menjadi tantangan tersendiri selama perjalanan jauh tersebut.
Karenanya, seiring waktu, kondisi fisik menjadi pertimbangan. Kini, Taufik lebih sering memilih naik bus untuk sebagian perjalanan.
Meski begitu, perubahan moda transportasi tersebut tidak banyak mengurangi kelelahan. Waktu tempuh yang panjang dan perjalanan berlapis tetap menguras tenaga.
"Kalau dulu sering sepedaan, kalau sekarang lebih sering naik bus. Cuapek mbak, poll," ucapnya.
Di balik perjuangan itu, ada alasan kuat yang membuatnya tetap bertahan menjalani pulang pergi setiap hari. Ia ingin tetap dekat dengan istri dan anaknya yang masih berusia enam bulan.
"Yang bikin saya kuat itu ada istri dan anak mbak. Keluarga lah intinya. Bisa ketemu setiap hari. Lebih enak perjalanan dua jam tapi ketemu anak istri, daripada dua menit tapi tidak ketemu sama anak istri," tutur Taufik.
Namun, ternyata bukan hanya jarak yang menjadi tantangan. Selama empat tahun mengajar, Taufik masih berstatus sebagai guru honorer. Ia mengabdi di sekolah negeri, tetapi belum kunjung mendapat kepastian pengangkatan sebagai pegawai tetap.
Statusnya hanya diperkuat dengan surat keputusan yang diperbarui setiap enam bulan sekali. Hingga kini, belum ada kejelasan terkait masa depan kariernya.
"Ini sementara akan saya jalani dulu mbak, entah sampai kapan saya tidak tahu. Eman gitu sudah empat tahun (mengajar). Mungkin lima tahun lagi, enam tahun lagi diangkat atau berapa tahun lagi?" katanya.
Kondisi tersebut membuat Taufik seolah berada di persimpangan. Di satu sisi, ia ingin mencari pekerjaan yang lebih dekat dengan keluarga dan menjanjikan. Di sisi lain, ia enggan melepas profesi yang telah dijalani bertahun-tahun.
Dari sisi penghasilan, Taufik mengakui kebutuhan hidup saat ini dipenuhi dengan cara saling melengkapi bersama sang istri. Ia menyebut pendapatannya sebagai guru honorer belum sepenuhnya mencukupi jika berdiri sendiri.
"Kalau dihitung secara matematika itu tidak nutut, pasti tidak nutut. Tapi alhamdulillahnya sudah berjalan sekitar enam bulan ini nutut mbak. Di sisi lain, istri juga kerja. Jadi penghasilan saya untuk riwa-riwi (perjalanan), nah untuk kehidupan sehari-hari pakai penghasilannya istri," jelasnya.
Meski begitu, Taufik tetap memilih bertahan. Ia terus menjalani perannya sebagai pendidik di tengah keterbatasan. Sebab, menjadi guru merupakan cita-citanya sejak awal. Ia memandang profesi tersebut sebagai bentuk pengabdian.
"Saya ingin jadi guru itu memang karena cita-cita, mbak. Karena jadi guru ini merupakan salah satu profesi yang mulia. Karena guru ini bukan orang hebat, mbak, tapi Insyaallah semua orang hebat itu karena jasa guru, wasek," tuturnya diselingi gurau.
Di tengah perjalanan panjang yang melelahkan dan status yang belum pasti, ia hanya berharap ada kejelasan bagi para guru honorer seperti dirinya. Harapan itu ia sampaikan beriringan dengan pesan untuk sesama guru agar tetap bertahan dalam keterbatasan.
"Harapan saya untuk bapak ibu guru di seluruh Indonesia, saya harap bapak ibu tetap kuat, tetap ikhlas mengajar untuk mencerdaskan anak bangsa. Kita tahu memang gaji kita kecil, perjuangan kita berat, tapi lebih berat lagi jika kita menyerah," tandas Taufik.
(irb/hil)











































