Warga Lampung hingga Banten sempat dibuat heboh dengan kemunculan benda bercahaya yang melintas di langit pada Sabtu malam 4 April 2026. Objek tersebut tampak terang dengan ekor cahaya dan bergerak cepat, sehingga banyak yang mengira sebagai meteor atau fenomena langit langka.
Namun, peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memastikan benda tersebut bukan meteor. Berdasarkan analisis orbit terbaru, objek itu merupakan pecahan sampah antariksa dari roket China yang terbakar saat memasuki atmosfer Bumi. Lalu, bagaimana kronologinya dan apakah berbahaya?
Kronologi Kemunculan Benda Bercahaya di Lampung
Dikutip dari detikEdu dan detikSumbagsel, fenomena ini pertama kali dilaporkan warga pada Sabtu malam sekitar pukul 19.50-20.00 WIB.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejumlah saksi mata melihat cahaya terang membelah langit dengan warna kebiruan disertai jejak seperti ekor.
Salah satu warga Lampung, Sepri menggambarkan kejadian tersebut sebagai cahaya jatuh dari langit.
"Ya, tadi kayak ada cahaya jatuh, cuma nggak tahu apa. Sekitar jam 08.00 malam," ujarnya, dikutip dari 20Detik.
Penampakan ini tidak hanya terlihat di Lampung, tetapi juga dilaporkan warga di wilayah lain, seperti Bengkulu dan Palembang, sehingga menambah spekulasi publik terkait fenomena tersebut.
Penjelasan BRIN soal Fenomena Ini
Peneliti ahli utama BRIN Prof Thomas Djamaluddin menjelaskan bahwa objek tersebut adalah pecahan sampah antariksa, bukan benda langit alami.
"Itu adalah pecahan sampah antariksa. Info terbaru dari Space-Track dan analisis orbit menunjukkan bahwa bekas roket Tiongkok tersebut meluncur dari arah India menuju Samudera Hindia di pantai barat Sumatera," jelasnya dalam keterangan tertulis pada Minggu (5/4/2026).
Ia juga menjelaskan bahwa pada sekitar pukul 19.56 WIB, objek tersebut sudah turun ke ketinggian di bawah 120 kilometer, dan mulai memasuki atmosfer yang lebih padat.
Saat itulah benda tersebut mengalami gesekan hebat dengan udara, sehingga terbakar dan pecah menjadi beberapa bagian yang kemudian terlihat sebagai cahaya terang dari daratan.
"Itulah yang disaksikan warga di Lampung dan Banten," tambahnya.
Analisis ITERA Bilang Ini Bukan Meteor atau Komet
Penjelasan serupa juga disampaikan Observatorium Astronomi ITERA Lampung (OAIL). Kepala OAIL Annisa Novia Indra Putri menyebut objek tersebut kemungkinan besar berasal dari tubuh roket atau rocket body milik China.
Ia menegaskan bahwa karakteristik objek tersebut tidak sesuai dengan meteor maupun komet. Dari hasil pengamatan timnya, gerakan benda tersebut terlihat lebih lambat dibanding meteor pada umumnya, serta pola pecahannya tidak menunjukkan ciri khas komet.
"Kalau fenomena langit di Lampung ini bukan dari komet, tapi kemungkinan besar adalah sampah antariksa," ujarnya, dikutip dari detikSumbagsel.
Ia juga menambahkan bahwa hujan meteor biasanya bersifat periodik, sementara fenomena ini tidak terjadi dalam pola waktu tertentu.
Apakah Fenomena Ini Berbahaya?
Sejauh ini, para peneliti memastikan objek tersebut tidak berpotensi jatuh di wilayah Lampung. Analisis lintasan masih terus dilakukan, namun secara umum, sebagian besar sampah antariksa akan habis terbakar sebelum mencapai permukaan Bumi.
Fenomena seperti ini sebenarnya bukan hal yang sepenuhnya langka. Sisa peluncuran roket atau satelit yang kembali memasuki atmosfer memang bisa menimbulkan efek cahaya terang yang terlihat dari permukaan.
(irb/irb)











































