Kisah Edi 'Dokter' Tape Lawas di Pasar Genteng Surabaya

Kisah Edi 'Dokter' Tape Lawas di Pasar Genteng Surabaya

Anastasia Trifena - detikJatim
Selasa, 31 Mar 2026 10:00 WIB
Edi Sutrisno saat berada di kiosnya
Edi Sutrisno saat berada di kiosnya (Foto: Raihan Akbar Mahendra/detikJatim)
Surabaya -

Sudah sejak dulu, lantai dua dan tiga Pasar Genteng Surabaya menjadi markas perbaikan barang elektronik yang usang. Namun di antara deretan kios yang ada, hanya satu nama yang terus diingat pelanggan ketika ingin menghidupkan kembali perangkat lawas: Edi Jaya Servis Elektronik.

Di lapak sederhana miliknya, Edi Sutrisno (68) menghabiskan hari-hari dengan memperbaiki perangkat lama yang datang silih berganti. Ia memang ahlinya dalam menelusuri kerusakan pada tape, ampli, dan perangkat suara lainnya.

"Kebanyakan yang masuk memang barang lama. Penjual lain ngasih tahu ke pelanggan kalau servis barang lama ke sini. Akhirnya yang servis ke saya barang-barang lama rata-rata," jelas Edi kepada detikJatim, Senin (30/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Usaha itu dirintisnya sejak 1996. Jauh sebelumnya, Edi telah lebih dulu menyelami dunia elektronik sejak 1983 dengan membantu sang kakak. Solder dan komponen kecil sudah menjadi sahabat untuk memecahkan misteri kerusakan di setiap perangkat yang datang.

Sabar dan telaten jadi makanan sehari-hari bagi Edi. Pasalnya bukan hal yang mudah untuk menebak letak kerusakan pada perangkat yang usianya tak lagi muda. Ditambah jika ada komponen elektronik lama yang tak lagi diproduksi.

ADVERTISEMENT

"Kalau barangnya (komponen) nggak ada ya itu, harus bisa 'ngakali'. Gimana kira-kira kalau pakai yang lain, bisa apa nggak? Nafsirnya itu yang sulit memang," urai Edi.

Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, Edi tak hanya mengandalkan stok yang ada. Ia kerap berburu komponen pengganti di toko elektronik sekitar. Jika tak menemukan yang cocok, ia mencoba mencarinya secara daring.

Di titik itulah pengalaman mengambil peran. Sejak awal, Edi memang terbiasa belajar dengan caranya sendiri. Membongkar dan memahami perangkat satu per satu tanpa banyak bergantung pada teori.

"Yang 'ngajari' itu barangnya. Karena dipegang kan, terus dilihat, nanti bisa 'baca' (kerusakannya) sendiri," ucap pria yang sudah berusia senja itu.

Tape, ampli, dan perangkat suara lainnya yang berada di kios EdiTape, ampli, dan perangkat suara lainnya yang berada di kios Edi Foto: Raihan Akbar Mahendra/detikJatim

Kadang kala, Edi mengambil rehat sejenak saat pikiran tak bisa dipaksa bekerja. Jeda kecil dengan jalan-jalan sejenak justru kerap menjadi titik terang. Ketika kembali ke meja kerjanya, ia bak menemukan arah baru untuk menelusuri bagian yang sebelumnya terlewat sehingga akar masalah terungkap.

Pengalaman jadi guru terbaiknya. Kepiawaian Edi dalam menghidupkan kembali perangkat rusak. Tahun demi tahun menempa kepekaannya dalam mengenali kerusakan. Kepiawaiannya menghidupkan kembali perangkat rusak tumbuh dari ketekunan yang terus diuji waktu.

Kepercayaan pelanggan pun terbangun dari sana. Sebagian adalah pelanggan lama yang sudah mempercayakan perbaikan sejak dulu kala. Bahkan ada yang rela menunggu saat gerai masih ditutup agar barangnya ditangani langsung oleh Edi.

Menariknya, kini bukan hanya generasi lama yang datang. Anak-anak muda turut menapaki jejak yang sama, membawa perangkat lawas yang kembali mereka cari.

"Malah anak muda-muda, yang kuliah itu ke sini karena senang dengan kaset gini. Katanya lebih enak suaranya dibanding USB," jelasnya.

Di balik pasang surut usaha servisnya, ada Afrait (65) sang istri yang setia menemani. Sekitar satu dekade terakhir, ia ikut menjaga kios, berbagi waktu dan rutinitas yang sama.

Dari pukul 11.00-17.00 WIB, keduanya menjalani hari di tempat sederhana itu. Sembari sesekali menerima 'panggilan rindu' dari anak-anaknya, yang salah satunya mewarisi ketertarikan Edi terhadap dunia elektronik.

"(Anak) yang nomor dua ini elektronik juga bisa. Dulu pernah ikut di sini. Habis itu ngelamar di PLN keterima. Kerja di sana sampai sekarang," ucap Edi bangga.

Bilik kecil itu jadi saksi bagaimana kehidupan keluarga Edi dibangun. Anak-anak tumbuh hingga mandiri, sementara Edi tetap bertahan pada apa yang sudah ia tekuni sejak lama.

Sebab baginya, setiap perangkat yang kembali menyala bukan sekadar tanda bahwa pekerjaan selesai. Di dalamnya ada rasa lega, juga kepuasan yang diam-diam menghapus lelah yang sempat mengendap.




(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads