Makna Anyaman Janur Ketupat

Jihan Navira - detikJatim
Jumat, 27 Mar 2026 12:45 WIB
Ilustrasi Ketupat. Foto: Getty Images/iStockphoto/asnidamarwani
Surabaya -

Ketupat merupakan makanan khas Indonesia yang terbuat dari beras dan dibungkus dengan selongsong berbahan janur atau daun kelapa. Proses pembuatannya pun tidak sederhana, karena janur harus dianyam terlebih dahulu hingga membentuk segi empat sebelum diisi beras dan dimasak.

Di balik proses yang rumit tersebut, ketupat ternyata tidak sekadar menjadi hidangan pelengkap saat Lebaran Ketupat. Jika ditelisik lebih dalam, setiap bagian dari ketupat juga menyimpan makna filosofis yang mencerminkan perjalanan hidup manusia. Lantas, apa saja makna di balik bentuk, anyaman, hingga isi ketupat?

Makna Ketupat

Melansir jurnal "Makna Simbolik dan Kultural Tradisi Lebaran Ketupat Bagi Masyarakat Jawa" oleh Sriyana dan Wiwik Suprapti, ketupat dimaknai sebagai simbol permohonan ampun dan maaf, baik dalam hubungan manusia dengan Tuhan (habl min Allah) maupun dengan sesama manusia (habl min an-nas).

Tak heran, ketupat selalu hadir dalam perayaan Lebaran maupun Lebaran Ketupat yang menjadi momen penyucian diri, sekaligus waktu untuk saling memaafkan.

Ketika seseorang berkunjung ke rumah kerabat dan disuguhi ketupat, lalu ia memakannya, hal itu dimaknai sebagai tanda pintu maaf telah terbuka dan segala kesalahan keduanya telah dilebur.

Lebih dari sekadar simbol, ketupat juga memiliki makna filosofis dari bahan-bahan pembuatannya. Makanan ini terbuat dari tiga unsur utama, yaitu janur kuning, beras, dan santan, yang masing-masing mengandung nilai dan pesan tersendiri dalam kehidupan.

Makna Bentuk Ketupat

Ketupat ternyata tidak hanya memiliki satu bentuk, melainkan segi empat dan segi lima. Masing-masing bentuk ini menyimpan makna filosofis yang dalam bagi masyarakat Jawa.

Bentuk segi empat pada ketupat mencerminkan prinsip kiblat papat lima pancer, yang bermakna bahwa ke mana pun manusia melangkah, pada akhirnya akan kembali kepada Allah.

Filosofi ini juga sering diartikan sebagai empat jenis nafsu dalam diri manusia, yaitu amarah (emosi), aluamah (keinginan memenuhi kebutuhan jasmani), supiah (hasrat terhadap keindahan atau kesenangan), dan muthmainnah (dorongan untuk mencapai ketenangan).

Keempat nafsu tersebut menjadi hal yang dikendalikan selama menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Ketika ketupat disantap saat Lebaran Ketupat, maka melambangkan manusia telah mampu menahan dan mengendalikan nafsu-nafsu tersebut.

Sementara ketupat berbentuk segi lima memiliki prinsip barang limo ora kena ucul, yang berarti ada lima hal yang tidak boleh ditinggalkan, yakni kewajiban menjalankan sholat lima waktu, yaitu Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, dan Isya.

Makna Bahan dan Anyaman Ketupat

Masih merujuk pada jurnal yang sama, sebagian masyarakat memaknai rumitnya anyaman ketupat sebagai simbol dari beragam kesalahan manusia dalam kehidupan. Anyaman yang saling terikat menggambarkan berbagai macam kesalahan manusia.

Sedangkan, warna putih ketupat ketika dibelah dua mencerminkan kebersihan dan kesucian setelah memohon ampun dari kesalahan.

Sementara itu, ketika ketupat dibelah, bagian dalamnya yang berwarna putih melambangkan kebersihan dan kesucian hati setelah manusia memohon ampun atas kesalahan yang telah diperbuat.

Tak hanya dari rumitnya anyaman, ketupat juga memiliki makna filosofis dari bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatannya dan mengandung simbol dan pesan tersendiri. Berikut makna di balik janur kuning, beras, dan santan.

1. Janur Kuning

Kata janur berasal dari bahasa Arab, yaitu jâ'a nûr, yang artinya telah datang seberkas cahaya terang. Sedangkan falsafah Jawa, janur bermakna sejane ning nur (arah menggapai cahaya-maksudnya cahaya Ilahi). Adapun kuning bermakna sabdo dadi (yang dihasilkan dari hati atau jiwa yang bening).

Maka janur dalam penggunaannya mengandung cita-cita untuk memperoleh nur Allah dengan hati atau jiwa yang suci dan bening atau keadaan hati dan jiwa manusia yang suci setelah mendapatkan nur dari Allah.

2. Beras

Beras menjadi simbol kemakmuran dan kesejahteraan, sehingga pada ketupat dianggap sebagai doa agar masyarakat diberi kelimpahan kemakmuran setelah hari raya.

Beras dalam ketupat juga dimaknai setelah hati dan jiwa manusia itu bersih dari empat macam nafsu di atas, maka manusia akan memperoleh kemakmuran dan kesejahteraan.

3. Santan

Dalam bahasa Jawa, santan disebut santen, sama dengan kata ngapunten yang berarti memohon maaf. Oleh karena itu, ketika tuan rumah menyuguhkan ketupat, lalu tamu tersebut memakannya menjadi simbol dari terbukanya pintu maaf di antara keduanya.

Bagaimana, detikers? Ternyata tradisi Lebaran Ketupat menyimpan makna yang cukup kompleks dan mendalam. Bukan sekadar tradisi makan bersama, tetapi juga sarat nilai tentang kehidupan, pengendalian diri, hingga pentingnya saling memaafkan. Selamat merayakan Lebaran Ketupat!



Simak Video "Video Kakorlantas Cek Kesiapan Tol Japek II Selatan Jelang Operasi Ketupat 2026 "

(hil/irb)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork