Bulan Ramadan sudah berada di penghujung, namun semangat orang-orang di Masjid Muhdor Kelurahan Kutorejo, Tuban membuat bubur tetap riuh seperti biasanya. Tradisi bubur Muhdor ini biasanya dibuat setiap sore menjelang buka puasa.
Di tengah suasana sore yang teduh, aroma harum rempah yang tajam dan menggoda mulai menyeruak, menandakan bahwa kuliner legendaris itu sedang diproses.
Bubur MNNuhdor yang dikenal memiliki cita rasa khas timur tengah ini telah lama menjadi tradisi ikonik. Sebab kehadirannya hanya ada pada bulan Ramadan saja.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Remaja Masjid setempat, Alwi Ba'agil, keunikan Bubur Muhdor terletak pada perpaduan harmonis antara kekayaan rempah nusantara dengan teknik pengolahan khas Arab.
Namun seiring berjalannya waktu, volume produksi bubur ini terus mengalami peningkatan yang signifikan. Sebab antusiasme masyarakat yang kian membludak.
"Untuk resep-resepnya sendiri ini berkembang, beras yang awalnya dulu 10 kilogram kemudian berkembang sampai 30 kilogram, karena peminatnya semakin banyak lagi," kata Alwi, Kamis (19/3/2026).
Tak hanya porsi beras yang ditambah, komposisi protein yang menjadi kunci kelezatan bubur ini pun turut ditingkatkan. Daging kambing yang menjadi campuran utama kini jumlahnya mencapai 15 kilogram dari yang semula hanya 10 kilogram.
Proses pembuatan bubur Muhdor Tuban yang hanya ada selama Ramadan Foto: Ainur Rofiq/detikJatim |
Penggunaan daging kambing berkualitas yang berpadu dengan bumbu khusus menciptakan karakteristik rasa yang kuat dan sulit ditemukan pada jenis bubur lainnya.
Alwi menegaskan bahwa ada rahasia di balik kelezatan hidangan ini yang membuatnya tetap istimewa dan tidak bisa dijumpai di luar bulan suci.
Menurutnya, dalam pembuatan bubur Muhdor ini terdapat resep atau bumbu khusus, sehingga rasanya tidak bisa ditemukan dimanapun selain bulan Ramadan.
Detail komposisi bumbu yang digunakan mencakup bahan-bahan lokal pilihan seperti bawang merah, bawang putih, kayu manis, serai, hingga beras berkualitas tinggi, yang kemudian dikolaborasikan dengan bumbu-bumbu rahasia asal timur tengah.
"Proses pembuatannya dimulai setelah dhuhur sampai sebelum ashar, kurang lebih prosesnya 2,5 jam," beber Alwi.
Tradisi berbagi ini menjadi momen yang paling dinantikan oleh warga Tuban setiap sore menjelang waktu berbuka puasa. Sekitar pukul 16.00 WIB, warga dari berbagai penjuru mulai memadati halaman masjid dengan membawa wadah masing-masing untuk mengantre pembagian bubur secara cuma-cuma.
Dari total 30 kilogram beras yang diolah setiap harinya, pihak takmir masjid mampu menyajikan sekitar 100 porsi besar yang dibagikan secara gratis kepada masyarakat.
Fenomena Bubur Muhdor ini bukan sekadar tentang pemenuhan rasa lapar, melainkan simbol kedermawanan dan perekat tali silaturahmi antar warga di Kabupaten Tuban selama bulan penuh berkah.
(auh/abq)

