Pengendara yang melintas di wilayah Kecamatan Menganti, Gresik diminta lebih waspada. Sebab, ada tiga persimpangan jalan yang kerap mengalami kemacetan parah, terutama saat jam sibuk pagi dan sore hari.
Ketiga persimpangan tersebut yakni perempatan Pasar Menganti, Perempatan Bringkang dan Pertigaan Boboh. Selain sempitnya jalan, penyebab kemacetan yang sering terjadi di ketiga persimpangan tersebut tidak berfungsinya traffic light hingga masih belum dipasang rambu-rambu pengatur lalu lintas.
Ditambah lagi, adanya supeltas yang lebih mendahulukan para pengendara yang memberi uang, memicu antrean ratusan meter hingga dua kilometer. Kemacetan ini tidak hanya memperlambat arus kendaraan, tetapi juga sering memicu antrean panjang hingga ratusan meter.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemacetan di perempatan Pasar Menganti, selain tidak ada traffic light, jalan yang sempit hingga berlubang, membuat kendaraan dari berbagai arah mengalami kemacetan panjang. Mulai pagi hingga sore menjelang buka puasa, perempatan tersebut menjadi titik kemacetan parah di Kecamatan Menganti.
Titik kemacetan parah yang kedua yakni Perempatan Bringkang. Meski jalan Menganti-Wiyung sudah diperlebar oleh Pemerintah Kabupaten Gresik, kemacetan terjadi di Jalan Provinsi Menganti Kedamean.
Di Perempatan Bringkang, terdapat traffic light yang tidak berfungsi. Meski bertahun-tahun rusak, traffic light tersebut tak kunjung diperbaiki oleh dinas terkait.
"Ini sudah rusak bertahun-tahun. Setahu saya udah hampir delapan tahun gak berfungsi. Makanya dijaga polisi cepek (Supeltas)," kata Januri, salah satu pengendara dari Kedamean, Rabu (11/3/2026).
Selain kedua perempatan tersebut, para pengendara terutama roda 4 atau lebih juga harus merasakan kemacetan parah di pertigaan Boboh menuju Morowudi maupun ke arah Kepatihan. Tidak adanya traffic light membuat para pengendara saling serobot karena terlalu lama menunggu giliran yang diatur oleh supeltas.
"Kadang polisi cepek ini mendahulukan yang ngasih uang. Jadi lama bagi kendaraan yang mau lurus (dari Kepatihan menuju Morowudi)," kata Didik, salah satu sopir truk.
Menurut Didik, seharusnya setiap persimpangan harus diberi traffic light. Selain pembagian waktu berjalan yang merata hal itu membuat dirinya yang bekerja sebagai sopir truk bisa lebih hemat.
"Kalau saya mau belok dari Morowudi Menuju Menganti pasti ngasih uang. Kalau gak gitu, nanti gak dikasih giliran jalan. Bukan masalah uangnya, meski 1.000 kalau beberapa kali bisa lumayan mas buat beli makan," kata Didik.
Didik dan pengendara lainnya berharap, agar pemerintah setempat bisa memasang rambu-rambu lalu lintas seperti traffic light. Agar bisa mengurangi kemacetan dan bisa mempercepat roda perekonomian.
(irb/hil)











































