- Kapan Malam 21 Ramadhan 2026?
- Apa Malam 21 Ramadhan Termasuk Lailatul Qadar?
- Keutamaan Sepuluh Malam Terakhir dan Amalan Rasul 1. Menghidupkan Malam dengan Ibadah 2. Membangunkan Keluarga untuk Beribadah 3. Memburu Kenikmatan Ibadah 4. Puasa Wishal 5. Membersihkan Diri dan Memakai Wewangian 6. Beriktikaf
Sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan selalu menjadi waktu yang paling dinantikan umat Islam. Pada malam-malam tersebut, umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan ibadah karena diyakini terdapat satu malam istimewa yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu Lailatul Qadar.
Lantas, kapan tepatnya malam ke-21 Ramadhan tahun 2026? Apakah malam tersebut berpeluang menjadi Lailatul Qadar?
Pertanyaan ini sering muncul karena malam 21 Ramadhan termasuk salah satu malam ganjil di sepuluh hari terakhir yang disebut-sebut memiliki kemungkinan besar turunnya malam kemuliaan tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Umat Islam berlomba-lomba mencari keberkahan malam Lailatul Qadar dalam sepuluh hari terakhir Ramadhan. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan dari hadis dari Abu Sa'id al Khudri RA:
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
Arab Latin: Taharrâu lailatal qadri fî al-witri min al-'asyri al-âkhirati mir.
Artinya: Carilah oleh kalian Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil (witir) dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.
Namun, apakah malam 21 Ramadhan termasuk Lailatul Qadar? Dalam ajaran Islam, waktu pasti Lailatul Qadar memang dirahasiakan. Meski begitu, Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk mencarinya pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan.
Kapan Malam 21 Ramadhan 2026?
Jika dilihat dari perhitungan awal Ramadhan 1447 Hijriah yang jatuh pada Kamis 19 Februari 2026, maka malam 21 Ramadhan diperkirakan jatuh pada Selasa malam 10 Maret 2026.
Dalam kalender hijriah, pergantian hari dimulai setelah waktu Maghrib. Artinya, malam 21 Ramadhan dimulai sejak Maghrib pada 10 Maret 2026 hingga menjelang fajar 11 Maret 2026.
Apa Malam 21 Ramadhan Termasuk Lailatul Qadar?
Malam 21 Ramadhan berpotensi menjadi Lailatul Qadar, tetapi tidak bisa dipastikan secara pasti. Rasulullah SAW hanya memberikan petunjuk agar umat Islam mencarinya pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah RA:
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
Latin: Taharrāw lailatal-qadri fil-witri minal 'asyri al-awākhiri min Ramaḍān.
Artinya: Bersungguh-sungguhlah kalian mencari Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. (HR Bukhari)
Karena itu, malam yang sering disebut memiliki peluang besar terjadinya Lailatul Qadar adalah malam-malam di sepuluh hari terakhir Ramadhan sebagai berikut.
- Malam 21 Ramadhan
- Malam 23 Ramadhan
- Malam 25 Ramadhan
- Malam 27 Ramadhan
- Malam 29 Ramadhan
Keutamaan Sepuluh Malam Terakhir dan Amalan Rasul
Rasulullah SAW sangat bersungguh-sungguh beribadah di sepuluh malam terakhir Ramadhan, melebihi malam-malam sebelumnya, sebagaimana dijelaskan dalam riwayat muslim.
Mengutip Nahdlatul Ulama (NU) Online, Rasulullah SAW juga mencontohkan kepada umatnya untuk meningkatkan beribadah kepada Allah SWT. Berikut amalan yang dilakukan oleh Rasul.
1. Menghidupkan Malam dengan Ibadah
Dalam shahih Muslim, Aisyah meriwayatkan:
ماعلمته صلى الله عليه وسلم قام ليلة حتى الصباح
Artinya: Aku selalu menyaksikan beliau beribadah selama Ramadhan hingga menjelang subuh.
2. Membangunkan Keluarga untuk Beribadah
Dalam hadis riwayat Abu Dzar disebutkan bahwa Rasulullah membangunkan keluarganya pada malam ke-23, 25, 27, dan 29 agar mereka senantiasa mendapatkan keberkahan Lailatul Qadar.
قام بهم ليلة ثلاث وعشرين وخمس وعشرين ذكر أنه دعا أهله ونساءه ليلة سبع وعشرين خاصة
Artinya: Bahwasanya Rasulullah SAW beserta keluarganya bangun (untuk beribadah) pada malam 23, 25, 27. Khususnya pada malam 29. Bahkan, dalam satu riwayat Rasulullah pernah membangunkan Fathimah dan Ali di malam hari itu dan berkata Ayo bangun-bangun, sholat-sholat.
3. Memburu Kenikmatan Ibadah
Rasulullah SAW disebutkan mengencangkan ikat pinggang saat Lailatul Qadar, dengan artian menghindari tempat tidur di malam sepuluh terakhir bulan Ramadhan. Beliau menyendiri memburu kenikmatan beribadah. Hal ini berdasar pada hadis berikut.
في الصحيحين عن عائشة رضي الله عنها قالت: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا دخل العشر شد مئزره، وأحيا ليله، وأيقظ أهله
Artinya: Bahwa Rasulullah SAW ketika memasuki sepuluh terakhir malam Ramadhan beliau mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan (beribadah) malam itu dan membangunkan keluarganya.
4. Puasa Wishal
Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Rasulullah pernah menyambung puasa tanpa berbuka hingga waktu berikutnya (wishal) untuk menjaga konsentrasi dalam beribadah. Namun, amalan ini dikhususkan bagi ia dan tidak dianjurkan bagi umatnya.
5. Membersihkan Diri dan Memakai Wewangian
Rasulullah mandi, merapikan pakaian, dan memakai wewangian pada sepuluh malam terakhir. Hal ini menjadi anjuran bagi umat Islam untuk menyambut malam-malam mulia dengan kebersihan lahir dan batin, serta memperbanyak taubat dan istigfar.
6. Beriktikaf
Rasulullah selalu beriktikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadhan hingga wafatnya. Iktikaf dilakukan untuk lebih fokus beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
(hil/irb)
