Sejarah Kolam Renang Brantas, Cagar Budaya Surabaya Kini Tinggal Nama

Sejarah Kolam Renang Brantas, Cagar Budaya Surabaya Kini Tinggal Nama

Jihan Navira - detikJatim
Minggu, 08 Mar 2026 21:00 WIB
Kondisi Kolam renang Brantas
Kondisi Kolam Renang Brantas (Foto: Jihan Navira/detikjatim)
Surabaya -

Kolam Renang Brantas di Jalan Irian Barat, Surabaya, dulunya pernah menjadi primadona bagi warga Eropa pada masa kolonial Belanda. Kini, bangunan tersebut masuk daftar cagar budaya Surabaya, meski keberadaannya tak lagi seperti dulu.

Menurut Pemerhati Sejarah dan Budaya Surabaya Nur Setiawan (44) kolam renang tersebut diinisiatori oleh salah seorang Belanda yang kemudian dibangun pada tahun 1920-an ketika perkembangan Kota Surabaya sudah mengarah ke selatan oleh sekumpulan pengusaha Belanda.

Nur menyebut, tujuan pembangunan kolam renang ini tidak hanya untuk berlatih renang, melainkan juga berfokus pada kebugaran dalam menjaga kesehatan badan dan lain sebagainya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi orang-orang Belanda saat itu tidak hanya mementingkan industri dan bisnis saja, tapi juga sarana-sarana lainnya. Satunya tempat renang ini, Brantas ini. Namun sayang di kemudian hari, kolam renang yang sempat ditetapkan sebagai cagar budaya ini dikuasai oleh pihak swasta," ujar Nur.

Pada masa kolonial Belanda, Kolam Renang Brantas merupakan fasilitas yang diperuntukkan khusus bagi warga Eropa. Warga pribumi tidak diperkenankan berenang di kolam tersebut. Selain harga tiket yang mahal, faktor perbedaan kelas sosial juga menjadi pembatas.

ADVERTISEMENT

"Tempat ini dikenal sebagai fasilitas eksklusif pada masa Hindia Belanda. Pengunjung yang dapat mengaksesnya umumnya berasal dari kalangan warga Eropa, seperti Belanda, Inggris, Jerman, hingga Armenia yang menetap di Surabaya. Memang dasarnya ditujukan bagi orang-orang kulit putih," kata Nur.

Apalagi pada masa itu, anak-anak bangsa Eropa diwajibkan memiliki kemampuan berenang. Karena itu, banyak orang tua melatih anak-anaknya di Kolam Renang Brantas.

Meski kerap diasosiasikan sebagai tempat berkumpul anak muda Eropa, kolam renang tersebut sebenarnya digunakan oleh berbagai kelompok usia. Tidak hanya kalangan muda tapi orang-orang Eropa yang sudah berusia lanjut juga memanfaatkan fasilitas tersebut untuk berenang.

Baru setelah Indonesia merdeka, kolam renang tersebut mulai dapat diakses oleh masyarakat luas tanpa memandang latar belakang hingga menjadi cagar budaya.

Secara arsitektur, bangunan kolam renang ini mengusung gaya art deco yang saat itu tengah populer di negara-negara Barat. Lokasinya juga berada di kawasan pemukiman elite milik warga Eropa.

Nur sendiri turut membagikan pengalamannya menikmati fasilitas umum tersebut pada tahun 1990-an awal.

"Jelas ada perbedaan karena ada pemugaran dan renovasi, Cuma tidak terlalu signifikan. Ornamen-ornamen lama masih kelihatan kalau ini kolam renang tempo dulu," jelas Nur.

Nur menyebut kondisi bangunan pada saat itu memiliki dinding yang tebal. Selain itu permukaan tanah dengan atap sangat tinggi sehingga memungkinkan sirkulasi udara sangat baik.

Kolam renang Brantas salah satu cagar budaya yang statusnya masih sengketaKolam renang Brantas salah satu cagar budaya yang statusnya masih sengketa Foto: Jihan Navira/ detikjatim)

detikJatim berusaha mencari jejak-jejak Kolam Renang Brantas melalui surat kabar Belanda yang kini tersimpan di arsip digital Delpher.

Salah satunya dalam koran De Indische Courant edisi 20 Januari 1925. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa kolam renang baru milik seorang pengusaha bernama Avoocaat yang berada di ujung perpanjangan Jalan Suniatra atau nama lawas dari Jalan Irian Barat hampir selesai dibangun dan mulai dibuka untuk anggota. Pembukaan resminya direncanakan pada Februari 1925 setelah seluruh konstruksi rampung.

Laporan lain dari De Indische Courant pada 3 Maret 1925 juga menyebut Kolam Renang Brantas di kawasan Goebeng resmi dibuka pada Sabtu, 21 Maret 1925.

Acara pembukaan saat itu cukup meriah. Para tamu undangan, peserta, hingga pemegang obligasi diundang menghadiri festival renang yang digelar untuk meramaikan pembukaan.

Beragam program digelar, mulai dari renang cepat putra dan putri, estafet, hingga demonstrasi penyelamatan korban tenggelam. Bahkan ada pertunjukan lompat galah yang dibawakan oleh juara lompat galah Belanda saat itu.

Sayangnya, kolam renang yang memiliki nilai sejarah tinggi ini berhenti beroperasi sejak 2003 akibat sengketa.

Nur menyebut, Pemerintah Kota Surabaya sebenarnya telah beberapa kali berupaya mengembalikan fungsi kolam renang tersebut agar bisa dimanfaatkan kembali oleh masyarakat.

"Pemkot bolak-balik berupaya mengembalikan ini. Ada gugatan, somasi, sampai banding. Tapi tidak tahu kendalanya apa, itu jadi misteri sampai sekarang," kata Nur.

Ia menduga, persoalan kepemilikan lahan menjadi salah satu penyebab sengketa tersebut tak kunjung selesai. Salah satu kemungkinan adalah status sertifikat tanah peninggalan zaman Belanda yang belum sepenuhnya dinasionalisasi.

"Eigendom ini khawatirnya masih tercatat atas nama warga Eropa kemudian dimanfaatkan pihak lain. Mungkin ini yang menjadi salah satu kendala hingga saat ini," ujar Nur.

Nur mengatakan, dalam kasus ini tidak terlepas dari dukungan masyarakat utamanya Surabaya. Ketika masyarakat Surabaya mempunyai rasa memiliki maka bangunan-bangunan dengan isu serupa bisa dilestarikan dan dimanfaatkan kembali.

Ia juga menyoroti minimnya fasilitas kolam renang umum di Surabaya, terutama di kawasan pusat kota. Menurutnya, tidak semua masyarakat dapat menjangkau kolam renang yang ada di hotel-hotel mewah karena harganya relatif mahal.

Karena itu, Nur menilai keberadaan Kolam Renang Brantas seharusnya bisa kembali dimanfaatkan sebagai fasilitas publik. Ia pun menyatakan optimistis pemerintah dapat menyelesaikan persoalan sengketa yang selama ini menghambat pemanfaatannya.

Menurutnya, tekanan publik juga bisa menjadi faktor pendorong penyelesaian masalah tersebut. Ia menyinggung istilah no viral no justice yang kerap muncul dalam berbagai kasus.

"Pemerintah harus optimistis, karena tujuannya jelas untuk masyarakat. Buktinya banyak sengketa lain yang dulu akhirnya juga bisa diambil alih," ujarnya.

Nur menilai jika kolam renang tersebut bisa kembali difungsikan, dampaknya tidak hanya pada sektor olahraga, tetapi juga ekonomi dan edukasi sejarah.

"Impact-nya bisa ke olahraga, ekonomi, termasuk edukasi sejarah. Saya rasa tokoh-tokoh besar Surabaya dulu juga pernah berenang di sana," katanya.

Menurutnya, keberadaan aktivitas di Kolam Renang Brantas juga bisa menghidupkan kawasan sekitar. Selama ini, Jalan Irian Barat pada malam hari kerap terkesan sepi. Jika kembali beroperasi, suasana kawasan tersebut dinilai akan berubah sekaligus menggerakkan ekonomi di sekitarnya.

Selain itu, fasilitas kolam renang yang terjangkau juga dapat mendorong anak-anak muda semakin gemar berolahraga, khususnya berenang. Mengingat Surabaya dikenal sebagai kota perairan atau waterfront city. Karena itu, menurutnya akan terasa janggal jika masyarakatnya justru tidak memiliki kemampuan berenang.

"Sekarang anak-anak muda sudah aktif berolahraga, mulai dari mendaki gunung sampai padel. Tidak ada salahnya kalau mereka juga pandai berenang," pungkasnya.




(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads