Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Malang menjadi sorotan tajam setelah ditemukan ulat atau belatung pada menu makanan yang dibagikan kepada siswa. Temuan ini bahkan terjadi dua hari berturut-turut dari penyedia yang sama, memicu keluhan wali murid sekaligus perhatian serius dari pemerintah daerah.
Temuan tersebut pertama kali mencuat setelah seorang wali murid mendokumentasikan adanya belatung pada menu macaroni schotel yang dikemas dalam thinwall. Video dan foto yang beredar di media sosial memperlihatkan makanan yang seharusnya dikonsumsi siswa itu diduga dihinggapi ulat.
"Sudah dua kali berturut-turut ini menu ada belatungnya. Yang bersangkutan (pihak SPPG) harus bertanggungjawab," kata wali murid seperti dilihat detikJatim di media sosial, Sabtu (7/3/2026).
Sebelumnya, keluhan serupa juga muncul dari wali murid terkait temuan belatung pada menu puding stroberi yang dibagikan kepada siswa pada Rabu (3/3/2026). Hanya berselang sehari, laporan baru kembali muncul terkait menu macaroni schotel pada Kamis (4/3/2026).
Kedua menu tersebut berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tulusrejo 2 di Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang.
Satgas MBG Turun Tangan
Menanggapi laporan tersebut, Satgas MBG Kota Malang yang diketuai Sekretaris Daerah Kota Malang Erik Setyo Santoso langsung melakukan pengecekan serta meminta klarifikasi dari pihak SPPG.
"Kita berkoordinasi dengan korwil dan kepala SPPG yang merupakan instrumen dari BGN untuk lebih mengintensifkan lagi aspek jaminan kualitas dari setiap produk yang dihasilkan," kata Erik saat dikonfirmasi, Sabtu (7/3/2026).
Erik menjelaskan bahwa dari laporan yang diterima, hanya ditemukan satu kemasan macaroni schotel yang terdapat ulat dari total ribuan porsi yang didistribusikan.
Pada hari tersebut, SPPG Tulusrejo 2 diketahui mengirimkan 2.319 porsi menu MBG ke 12 sekolah dengan variasi makanan berupa kebab ayam, macaroni schotel, tempe goreng, susu, dan buah apel.
"Hanya terdapat 1 temuan pada satu kemasan macaroni diantara 2.319 porsi yang disediakan," pungkas Erik.
Menurut penjelasan pihak SPPG, proses pembuatan macaroni schotel telah melalui dua tahap pengukusan. Macaroni dikukus terlebih dahulu, kemudian setelah dimasukkan ke dalam wadah dilakukan pengukusan kembali.
Pihak SPPG juga menyebut bahwa belatung tersebut diduga tidak berasal dari makanan.
"Temuan tidak berasal dari dalam thinwall, tetapi di luar dan pengelola sudah menggunakan cara dua kali kukus. Kesimpulannya ulat (belatung) bukan berasal dari macaroni schotel," jelasnya.
Meski demikian, Satgas MBG tetap memberikan peringatan keras kepada SPPG Tulusrejo 2 agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
"Kami memberikan peringatan tegas untuk tidak sampai terulang case (peristiwa) yang sama," tegasnya.
Simak Video "Video: 107 Warga Tanjungsari Bogor Diduga Keracunan Mie Ayam MBG "
(irb/hil)