Perhimpunan Indonesia Tionghoa (Inti) Jatim punya cara khusus untuk mengenang jasa-jasa KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Selain ziarah ke makamnya, mereka juga mengaktualisasikan ajarannya.
Kedatangan rombongan Perhimpunan Inti Jatim disambut Mudir 6 Bidang Sarpras Ponpes Tebuireng, Gus Riza Yusuf Hasyim. Sekitar 71 warga Tionghoa silaturahmi dengan pengasuh pesantren di Ndalem Kasepuhan Tebuireng.
Selanjutnya, warga Tionghoa ziarah ke Makam Gus Dur yang satu lokasi dengan Ponpes Tebuireng, Desa Cukir, Diwek, Jombang. Secara bergilir, mereka berdoa dan menaburkan bunga ke pusara Bapak Pluralisme ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketua Perhimpunan Inti Jatim, Stefanus Budi Wijaya menjelaskan, Silaturahmi Kebangsaan bertajuk 'Memori Masyarakat Tionghoa terhadap Gus Dur' ini untuk memperkuat nilai-nilai kebangsaan, toleransi dan persaudaraan lintas budaya dan agama. Ziarah makam wujud penghormatan warga Tionghoa kepada Gus Dur karena perannya membuka gerbang kebebasan bagi etnis Tionghoa di tanah air.
"Beliau presiden yang sangat pluralis, tokoh kemanusiaan yang luar biasa. Bagi kami beliau bapak karena berani mengakui beliau ada keturunan dan membebaskan sekat-sekat di antara anak bangsa. Sehingga kami bisa kolaborasi merayakan Imlek, menggunakan nama Tionghoa dan budaya Tionghoa secara umum," jelasnya kepada wartawan di lokasi, Sabtu (7/3/2026).
Selanjutnya, Perhimpunan Inti mengaktualisasikan ajaran Gus Dur melalui aksi bagi-bagi nasi kotak untuk buka puasa. Tak sampai satu jam, sekitar 1.000 nasi kotak ludes diserbu warga Jombang di pos kota, Jalan KH Wahid Hasyim.
"Ajaran Gus Dur yaitu siapa pun kamu apabila berguna bagi sesamamu, maka sesamamu tidak akan mempertanyakan apa agama dan etnismu. Jadilah orang yang berguna bagi sesama. Perbedaan bukan untuk dibesar-besarkan, tapi untuk mempersatukan kita," terang Stefanus.
Ketua Panitia Silaturahmi Kebangsaan, Phoa Anditya atau Andy Wangi juga membagikan kenangannya terkait jasa-jasa Gus Dur. Menurutnya, Presiden RI Keempat itu salah satu inisiator berdirinya Perhimpunan Inti pasca tragedi 1998. Kala itu, Gus Dur masih menjabat Ketua Umum PBNU.
Perhimpunan tersebut lahir dari kesadaran bersama bahwa manusia tak bisa hidup sendiri, semua tetap harus bergandengan tangan, serta menjalin kerukunan lintas agama, budaya dan suku.
"Gus Dur waktu itu Ketum PBNU ada kedekatan dengan senior-senior kami. Dalam obrolan mereka, tercetus ide untuk membuat organisasi. Awalnya murni Tionghoa, kemudian yang unik anggota kami menggandeng keseluruhan, kami menjadi berwarna," ungkapnya.
Silaturahmi kebangsaan ini menjadi aksi kedua Perhimpunan Inti Jatim mengenang jasa-jasa Gus Dur di Jombang. Aksi pertama berupa bakti sosial terpaut lebih dari 10 tahun lalu. Oleh sebab itu, tambah Phoa, pihaknya bakal membuat aksi serupa berkesinambungan.
"Melihat memori kami yang kental sekali dengan aroma Gus Dur, maka kami memutuskan selalu mengenang beliau. Kami mencoba merajut kembali supaya kegiatan seperti ini tak terputus," tandasnya.
(auh/hil)











































