- Apa Itu Cap Go Meh dan Kapan Diperingati?
- Tradisi Cap Go Meh 1. Festival Lentera yang Penuh Warna 2. Santapan Khas Yuanxiao dan Lontong Cap Go Meh 3. Melempar Jeruk ke Laut sebagai Ritual Keberuntungan 4. Parade Tatung di Singkawang 5. Arak-Arakan Sipasan dan Kio di Padang 6. Kirab Budaya Ruwat Bumi di Salatiga 7. Jappa Jokka Cap Go Meh di Makassar 8. Ziarah ke Pulau Kemaro di Palembang 9. Permainan Tebak Teka-Teki di Lentera 10. Tarian Naga dan Barongsai 11. Pesta Kembang Api Merah
Cap Go Meh merupakan salah satu perayaan penting bagi masyarakat etnis Tionghoa. Berbeda dengan hari raya Imlek, Cap Go Meh tidak ditetapkan sebagai hari libur nasional. Meski demikian, perayaan ini tetap menjadi momen tahunan yang dinantikan dan dirayakan dengan penuh kemeriahan.
Cap Go Meh 2026 menjadi penutup perayaan tahun baru Imlek 2577 Kongzili bagi masyarakat Tionghoa di berbagai belahan dunia. Lebih dari sekadar perayaan tahunan, Cap Go Meh memiliki makna penting dan nilai budaya yang mendalam.
Sebagai penutup rangkaian tahun baru Imlek, Cap Go Meh selalu menghadirkan beragam perayaan dan kegiatan budaya yang menarik perhatian masyarakat. Karena itu, banyak orang ingin mengetahui kapan Cap Go Meh 2026 akan dilaksanakan. Lalu, kapan tepatnya Cap Go Meh 2026 dirayakan, dan apa saja tradisinya?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa Itu Cap Go Meh dan Kapan Diperingati?
Melansir laman Lembaga Bahasa Internasional (LBI) Universitas Indonesia (UI), istilah Cap Go Meh berasal dari dialek Hokkien 十五冥, yang berarti 'Malam ke-15', di mana 十五 (Cap Go) berarti 'lima belas' dan 冥 (Meh) berarti 'malam'.
Istilah Cap Go Meh dalam bahasa Mandarin memiliki penyebutan lain, yaitu 元宵节 (Yuánxiāojié), yang artinya 'Festival Lampion', dan 上元节(Shàngyuánjié) yang berarti 'Festival Hari Pertama'.
Sesuai namanya, perayaan Cap Go Meh dilakukan pada malam ke-15 terhitung sejak tahun baru Imlek. Berdasarkan kalender lunar dan informasi perayaan tahun baru Imlek 2577 Kongzili, Cap Go Meh tahun ini akan jatuh pada Selasa 3 Maret 2026.
Jika dihitung mulai hari ini, Jumat 28 Februari 2026, maka, masih kurang tiga hari ke depan sebelum perayaan Cap Go Meh. Perhitungan ini mencakup sisa hari di bulan Februari sebanyak satu hari dan ditambah dua hari di awal Maret hingga tanggal perayaan.
Tradisi Cap Go Meh
Cap Go Meh tidak hanya menjadi puncak dari rangkaian perayaan tahun baru Imlek, melainkan menjadi simbol harmoni dalam keberagaman budaya. Selalu dinanti-nantikan banyak orang, berikut tradisi Cap Go Meh yang dilaksanakan masyarakat Tionghoa.
1. Festival Lentera yang Penuh Warna
Ilustrasi Lentera di Wuhan, China Foto: Getty Images/Getty Images |
Merupakan perayaan utama dan dientik pada Cap Go Meh di Tiongkok, ribuan lentera berwarna-warni menghiasi jalanan dan kuil-kuil sebagai simbol harapan dan keberuntungan. Selain itu, masyarakat juga melakukan ritual menerbangkan lentera ke langit sebagai simbol melepaskan doa dan harapan.
2. Santapan Khas Yuanxiao dan Lontong Cap Go Meh
Lontong Cap Go Meh Foto: iStock |
Hidangan khas selalu hadir di setiap perayaan sebagai pelengkap. Masyarakat Tiongkok dan Taiwan menikmati sajian Yuanxiao, yaitu bola ketan manis yang melambangkan kebersamaan keluarga. Sementara di Indonesia, masyarakat Tionghoa merayakan Cap Go Meh dengan menikmati sajian perpaduan kuliner Tionghoa dan Jawa, yaitu lontong Cap Go Meh.
3. Melempar Jeruk ke Laut sebagai Ritual Keberuntungan
Cap Go Meh sering dianggap sebagai Hari Valentine versi Tionghoa oleh masyarakat Malaysia dan Singapura. Hal tersebut dikarenakan wanita lajang akan menuliskan nama serta harapan mereka di jeruk, lalu melemparkannya ke laut atau sungai dengan harapan mendapatkan jodoh. Sementara pria, mereka akan mengambil jeruk tersebut untuk mencari pasangan yang sesuai.
4. Parade Tatung di Singkawang
Di Indonesia, khususnya di Singkawang, Kalimantan Barat, Parade Tatung dilaksanakan untuk merayakan Cap Go Meh. Mengutip situs resmi Kemenparekraf, Pawai Tatung adalah pertunjukan ratusan Tatung yang memperlihatkan kesaktiannya karena dirasuki roh leluhur.
Oleh karena itu, para Tatung adalah orang yang dipercaya memiliki kekuatan supranatural dan kebal terhadap benda tajam. Parade unik ini dilakukan dengan cara para Tatung yang berbaris dalam arak-arakan sambil menunjukkan atraksi menarik yang mencerminkan budaya Tionghoa dan Dayak.
Salah satu atraksinya seperti menusuk bagian tubuh Tatung menggunakan pisau atau pedang tanpa merasa kesakitan atau terluka. Parade ini dipercayai sebagai bentuk menangkal musibah sepanjang tahun atau tolak bala, sekaligus mengusir roh-roh jahat dari kota sehingga bersih dari kejahatan dan malapetaka.
5. Arak-Arakan Sipasan dan Kio di Padang
Pawai Sipasan Cap Go Meh hanya ada di dua daerah yaitu Kota Padang dan Taiwan. Sipasan sendiri dalam bahasa Minangkabau berarti Lipan, sehingga dalam tradisi ini menggunakan kendaraan berbentuk lipan tetapi berkepala naga. Sipasan akan dinaiki oleh anak-anak yang nanti diangkat oleh orang dewasa.
Perayaan tersebut biasa diikuti oleh sejumlah masyarakat keturunan Tionghoa di Padang, Sumatera Barat, dengan mengarak Sipasan dan Kio leluhur sambil memainkan tarian naga.
Festival arak-arakan tersebut biasanya berlangsung dengan berjalan sejauh sekian kilometer melewati pusat kota. Selain sipasan, Kio semacam patung dewa atau leluhur juga menjadi bagian dari perayaan Cap Go Meh di Padang.
6. Kirab Budaya Ruwat Bumi di Salatiga
Kirab budaya merupakan salah satu perayaan dalam rangka peringatan Cap Go Meh di Salatiga, Jawa Tengah. Menurut Disparekraf, perayaan kirab budaya atau juga disebut kirab budaya ruwat bumi ini dimeriahkan dengan arak-arakan berisi patung dewa, lengkap dengan pertunjukan budaya lokal.
Kirab Budaya Cap Go Meh Ruwat Bumi Foto: ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho |
Sejatinya, perayaan kirab budaya dalam rangka menyambut dan memperingati Cap Go Meh juga dilakukan di beberapa daerah lainnya. Biasanya, setelah kirab akan dilanjutkan dengan berbagi makanan atau makan bersama masyarakat seperti menyantap makanan khas yaitu Lontong Cap Go Meh.
7. Jappa Jokka Cap Go Meh di Makassar
Masyarakat Makassar, Sulawesi Selatan biasa menggelar Jappa Jokka sebagai perayaan Festival Cap Go Meh. PPID Makassar dalam laman resminya menyebut Jappa Jokka sendiri merupakan suatu bentuk karnival budaya dalam rangka merayakan puncak peringatan Tahun Baru Imlek.
Jappa Jokka Cap Go Meh di Makassar berlangsung Meriah (Foto:Nur Ainun/detikSulsel) |
"Jappa Jokka" sendiri memiliki arti "Jalan-jalan", penamaan tersebut diambil dari bahasa Makassar (Jappa) dan bahasa Bugis (Jokka). Sebelumnya, tradisi ini dikenal dengan nama Pasar Malam Cap Go Meh. Tradisi Jappa Jokka digelar pertama kali di masa pemerintahan Gus Dur.
8. Ziarah ke Pulau Kemaro di Palembang
Masyarakat di Indonesia dalam rangka menyambut atau memperingati suatu hari besar kerap kali melakukan ziarah. Seperti hal nya saat perayaan Cap Go Meh di Palembang, Sumatera Selatan, kegiatan ziarah berfokus di Klenteng Hok Tjing Rio, Pulau Kemaro.
Suasana ramai di malam puncak perayaan Cap Go Meh di Pulau Kemaro Palembang. Foto: Rio Roma Dhoni |
Menurut catatan redaksi detikcom, masyarakat keturunan Tionghoa dan khususnya pemeluk agama Konghucu akan datang ke Pulau Kemaro dan melakukan ritual doa di Klenteng Hok Tjing Rio. Selain itu, biasa juga dimeriahkan tradisi lainnya seperti barongsai dan wayang orang.
9. Permainan Tebak Teka-Teki di Lentera
Perayaan Cap Go Meh di Hong Kong dan Makau identik dengan Cai Deng Mi, yaitu permainan menebak teka-teki yang ditulis di lentera. Selain menghibur, permainan ini juga mengasah kecerdasan dan menjadi ajang kebersamaan.
10. Tarian Naga dan Barongsai
Ilustrasi pertunjukan barongsai Foto: Nasywa Fauziah/detikFoto |
Sama halnya seperti Imlek, Tarian Naga dan Barongsai selalu menjadi daya tarik utama dalam perayaan, begitu pula dengan Cap Go Meh. Kedua tarian ini dipercaya dapat membawa keberuntungan, sekaligus menjadi tolak bala karena mampu mengusir roh jahat. Di berbagai kota besar seperti Surabaya, Jakarta, dan Medan, kedua pertunjukan ini kerap menjadi hiburan yang menarik perhatian masyarakat luas.
11. Pesta Kembang Api Merah
Ilustrasi kembang api Foto: Kembang api di Centre Point of Indonesia (CPI) Makassar. (Nihza Zaskiah Yusuf/detikSulsel) |
Sebagai penutup rangkaian tahun baru Imlek, pesta kembang api sering dilakukan untuk mengusir nasib buruk dan menyambut keberuntungan. Dalam pesta ini, kembang api menghiasi langit dengan warna-warna cerah sehingga menciptakan suasana penuh semangat bagi seluruh masyarakat yang merayakannya.
(ihc/irb)


















































